On Thu, 29 Jun 2000, Wisnu Ali Martono wrote:

>WAM:
>Pakde, orang kalau baru kelihatan tanda sarapnya kan bukan berarti sarap
>bener, atawa sudah mengidap _edan tahun_. Apalagi, di negara kita kan
>banyak orang yang pura-pura sarap  supaya diperhatiken. Buanyak lho,
>pakde. Lha siapa nyana kalau mbah kita ini dulu bukannya lagi pura-pura
>sarap? Dikiranya pura-pura sarap supaya diperhatiken banyak orang.

yap:
Oh begitu, jadi kalau begitu sudah tahu bahwa ada tanda sarap, terus dikawin 
biar tambah kumat sarapnya. Saya pikir yang begini ini orang yang lebih 
sarap! Rupanya pura pura sarap to.

WAM:
>Lha soal mau dihalangi Suharto, kan kita lagi nggak mbicarain orang
>Cendana ini ya?

yap:
Bukan Suharto orang Cendana, tapi Suharto Presiden RI. Artinya dari dulu GD 
tidak disukai penguasa. Mungkin ya termasuk dianggap sarap itu.

>
>WAM:
>He..hee.hee pakde, sampeyan saya bela lho, waktu ada yang bilang kayak
>Muhaimin. Suer. Saya bela. Urusan sampeyan lah, mau kayak Muhaimin atau
>bukan. Nggak boleh orang lain ikut campur.

yap:
thanks berat dibela. Yang jelas saya juga ngakak berat ketika baca itu, lha 
wong lihat langit kuning, mendongkel, interpelasi nggak substansial dsb. aku 
terpingkal pingkal kok. Lawakan yang lebih konyol dari Miing Bagito. Kalap 
benar, dikiranya dengan ngomong begitu orang akan percaya?

>
>WAM:
>Tul.
>Artinya, ya wajar juga kalau ada yang nggak suka ama mbah Dur. Nggak perlu
>juga dibilang mau ndongkel, kepingin jadi presiden. Wong namanya
>demokrasi, tak iye? Bahkan, kalaupun orang itu memang mau ndongkel dan
>kepingin jadi presiden, ya apa salahnya? Semua orang boleh kok,
>berkeinginan jadi presiden.

yap:
Tul. Pendongkelan secara konstitusional ya boleh saja oleh siapa saja.
Kepingin jadi presiden ya boleh boleh saja. Tapi kalau sudah kalah ya 
sportip dong, nggak boleh resek. Begitu juga kalau terdongkel (secara 
konstitusional) ya nggak boleh ngamuk.

>
>WAM:
>Makanya saya bilang, ukuran bisa dibikin setelah
>sukses. Di manapun. Atau, kalau menuruti kata (kalau nggak salah) Mao,
>kebenaran akan muncul dari moncong bedil. Artinya, obyektivitas akan
>muncul dari pihak yang kuat. Boleh sampeyan nggak percaya atau mendebat.

yap:
Ya mendebat saja. Yang dibuat setelah tujuan tercapai itu namanya 
justifikasi (pembenaran), bukan kriteria (ukuran). Inilah yang sering 
menggelincirkan kita menjadi Machiavelian. Menghalalkan segala cara.
Penganut result oriented sering tergelincir disini, sementara penganut 
process oriented sering time & energy consuming, sehingga menghabiskan 
kesabaran. Ya enaknya situasionallah, kapan mesti result oriented kapan 
musti proses oriented.
Kalau tentang obyektivitas akan muncul dari pihak yang kuat, ya jangan 
diterjemahkan bedil. Dialam demokrasi, pihak yang kuat itu yang didukung 
mayoritas.
Kalau yang pura pura demokrasi, ya seperti Suharto dan Mugabe, dimana 30% 
anggota parlemen dipilih olehnya. Bukan ngomongin Suharto lho, cuma contoh 
saja.

>
>WAM:
>Saya sepakat dengan kritik sampeyan tentang trickle-down effect. Meski
>secara teori trickle-down effect nggak salah. Cuma, moral hazardnya
>terlalu gede.  Tapi, itu salahnya siapa? Suharto? Pakde, yang bajingan
>kan para pengusaha.

yap:
Bung, cari dong referensi hubungan penguasa dengan pengusaha. Interaksi 
antara politik dan bisnis. Di Amrik sono gimana sih? Pernah dengar lobby 
Yahudi? Kata kuncinya ya moral hazard itu. Pernahkah Anda menolak pemberian 
suap? Kalau ya, berarti dengan moral Anda yang baik, moral hazard 
sipengusaha nggak jalan juga kan? Lalu apa pendapat Anda kalau ada penguasa 
yang mengkondisikan agar disuap? Di Indonesia ini dulu mana ada pengusaha 
yang bisa berjaya tanpa kolusi dengan penguasa. Jadi moral hazard siapa? 
Interaksi kali ya? Bung Hatta bilang: BUDAYA! Sarkastis bener ya bung!

>WAM:
>GD nggak boleh mengcopy Suharto, mangsudnya apa pakde?
>Apa mengkritik terbuka mbah Dur itu tidak identik dengan _tidak mengcopy
>Suharto_?

yap:
Benar, sekarang ini yang (harus) terjadi adalah tidak mengcopy system 
Soeharto yang represif dalam menciptakan stabilitas. Stabilitas memang 
diperlukan, tetapi tetap dalam wacana demokrasi, ham dan keadilan.

WAM:
>Tapi lihatlah, orang-orang yang tergantung mbah Dur begitu cepat
>memaki pengkritik mbah Dur. Mau menggoyang lah, mau mendongkel lah.

yap:
Benar, dukungan yang membabi buta itu sama sekali nggak bener. Juga 
penentangan yang membabi buta.

WAM:
>Kalaupun benar (mau mendongkel), lantas mau apa? Sekarang kan jaman 
>demokrasi. Apa salahnya
>mendongkel presiden yang dianggap sudah nggak karuan pemerintahannya?

yap:
Wah itu jantan benar kalau berani menyatakan mau mendongkel, dan bukan hanya 
sah sah saja, tetapi bahkan rakyatpun akan mendukung (atau menentang). 
George Speight berani mengambil posisi itu di Fiji, dengan segala risikonya. 
Tapi disini belum ada tuh yang berani bilang dengan bahasa terang begitu. 
Semuanya serba tersamar, karena takut kalau terpental, sehingga beraninya 
ngomong dibelakang, sehingga kalau anginnya banyak yang menentang ya balik 
kucing, cukup selesai dengan sarapan bersama.
Saya justru hormat pada para anggota legislatif yang mau menggunakan hak 
interpelasi, hak angket dan kalau perlu mengusulkan SI. Itu gentle namanya. 
Juga pada GD yang secara terbuka menantang pemilihan ulang Presiden. Nggak 
cuma kusrak kusrek, sambil nyowel sana sini.

Ganti Presiden sehari 7 kali juga nggak masalah kalau grafik kesejahteraan 
dan keamanan masyarakat membaik. Lha kalau sudah reformasi (dengan social 
cost begitu besar)ternyata juga hanya menghasilkan situasi stagnan, ya 
susahlah. Belum lagi kalau ada yang main trial and error menganggap bangsa 
ini hanya laboratorium politik, itu namanya masa kecil kurang bahagia, 
meureun.

WAM:
>Saya
>percaya dengan ide yang mengatakan, pemberian mandat kepada seseorang
>untuk menjadi presiden bukanlah suatu cek kosong yang bisa dipergunakan
>seenaknya. Kalau dianggap ngawur, boleh saja ditendang di tengah jalan.
>Why not? Yang penting, itu dilakukan oleh MPR yang memberi mandat. Bukan
>oleh tentara.

yap:
Nggak ada itu cek kosong. Dari sononya cek itu telah diisi lengkap, pakai 
GBHN, pakai Tap MPR, APBN dan semua produk hukum sehingga dapat terukur bila 
terjadi penyimpangan, dan dapat ditindak.
Bagaimana bisa dianggap ngawur seandainya ceknya memang dikosongin. Ditulis 
berapa saja ya nggak bisa dong dibilang ngawur. Jangan bilang ada cek kosong 
kalau masih mau bilang ngawur. Jangan bilang ada pelanggaran kalau nggak 
pernah ada aturannya.

>
>WAM:
>Pakde, lha pangerten kok cuma diharap dari satu sisi.
>Mestinya dari semua sisi dong.

yap:
Ya, semua sisi diharap pangerten. Let's live together in perfect harmony...

>WAM:
>Keduanya lah pakde. Persepsi dan referensi. Saya sih nggak pernah denger,
>apa iya ada _orang luar_ bisa mengatur program Bappenas.
>
yap:
referensi akan mengupdate persepsi menuju ke kematangan jiwa.
Oh tadinya tak kira sampiyan sudah tahu proses lahirnya blue book. Kalau 
belum ya jadi panjang banget harus ngomongnya.
Kalau Anda menganggap blue book itu derivasi dari GBHN atau APBN dan 
dirumuskan murni oleh orang dalam, ya masih perlu gaul lebih banyak dengan 
dunia nyata.
Yang saya ceritakan itu level lanjutannya. Nggak peduli siapa yang tadinya 
menginisiatifi isi blue book sampai dapat nomor kode proyek dsb, kalau itu 
dimaui sang juragan, ya nggak ada pilihan lain bagi penguasa formal kecuali 
mengamankan kebijaksanaan dan kehormatan atasan. Jangan jangan Anda juga 
belum tahu ada arisan tender, pengkaplingan hph,  dan sebagainya. Tapi nggak 
apalah, toh kita semua dalam proses belajar, selalu masih ada waktu untuk 
mengupdate diri.

>
>WAM:
>Tetap saja pakde, itu berkaitan dengan persepsi.
>Bisa jadi, itu fakta. Terus ada apa dengan fakta?
>Kalau pakde dari awalnya sudah punya persepsi buruk terhadap seseorang, ya
>fakta apa saja akan _memperkuat_ persepsi itu. Ambil contoh dengan kasus
>Taman Buah Mekarsari yang anda bilang. Kalau persepsi pakde adalah, taman
>buah itu bagus karena di sanalah di tanam macam-macam buah langka, maka
>pakde akan melihat bahwa kemampuan Mamik menjadikan taman buah itu adalah
>sesuatu yang patut dibanggakan. Nah, pakde, siapa yang mau bilang bahwa
>persepsi mempengaruhi cara pikir kita?

yap:
Fakta, setelah diolah menjadi informasi akan mengupdate persepsi
Kalau sudah ada faktanya masih juga belum percaya, jadinya ya kayak 
ceritanya pak Hasan Memandang Dunia itu.
Bolehlah Mekarsari, Sentul, Jalan Tol, Jonggol, Mobnas, Taman Mini dsb 
dibanggakan bila itu ditempuh dengan cara yang wajar (widely accepted). 
Kalau nggak ya susah kan?

>
>WAM:
>Tidak.
>Namun, Tuhan tidak akan membantu ummatnya yang tidak mau membantu dirinya
>sendiri. Taruhlah, kita tiduran aja di rumah. Gimana rejeki mau dateng?
>Berusaha tidak identik dengan _mengatur kehidupan_.

yap:
Sampai tataran berusaha iya. Tetapi yang terpuji adalah berusaha dengan 
dilandasi achlak yang baik. Kalau sudah begitu, ya baik baik saja.
Tentang tiduran dirumah, sekarang banyak yang begitu Mas, dan rekening 
Banknya terus membengkak. Dollar lagi...

>WAM:
>Apa pakde mau bilang, sudahlah, diam saja. Nanti toh akan selesai sendiri,
>gitu? Ya monggo. Pakde punya hak penuh untuk mengambil keputusan kayak
>gitu. Saya nggak mau ikutan. Kalau bisa teriak, saya akan teriak. Kalau
>bisa memakai tangan, saya akan pakai tangan. Saya merasa amat jahat jika
>saya diam saja menyaksikan orang dibantai kayak di Ambon. Perkara sampeyan
>punya pikiran lain, monggo saja lah. Namanya juga demokrasi.

yap:
Tidak, saya tidak pernah menentang upaya penyelesaian Ambon, Poso dsb dengan 
cara yang manapun. Kewajiban saya mengingatkan agar itu semua dilakukan 
berlandaskan achlakul karimah.
Saya cuma berusaha memahami bahwa tadinya itu diserahkan kepada masyarakat 
untuk menyelesaikannya, sampai tercapai win win solution, karena kalau itu 
tercapai akan ideal banget. Kalau ternyata tidak, ya baik saja dibantu 
penyelesaiannya, asal jangan tambah jadi runyam. Saya termasuk yang nggak 
happy dengan Darurat Sipil, tetapi keadaan rupanya sudah mudharat bener. Ya 
sudahlah, semoga penyelesaian yang terbaiklah yang terjadi. Bukan 
menyelesaikan masalah dengan menimbulkan masalah.

Wassalam,
yap



________________________________________________________________________
Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com


->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke