#Mat Pithi, Dul Kimpong dan Klowor#

Mat Pithi adalah tukang becak. Dul Kimpong pedagang
bakso warungan dan Klowor anak Mat Pithi. Entah
tindakan kriminal apa yang mereka perbuat, mereka
harus mendekam di LP Wirogunan dengan vonis sama,
4.5 tahun.

Karena masih cukup bertenaga, terutama Klowor, mereka
menjalani proses pemasyarakatan, dibina dalam pembuatan
SEPATU. Walaupun pekerjaan itu cukup jauh dibanding
pekerjaan sebelum mereka menghuni LP Wirogunan, ternyata
masing-masing menunjukkan kepandaian yang prima. Mat
Pithi di bagian Sepatu kulit, Dul Kimpong Sepatu Sandal
dan Klowor Selop.

Melihat keahlian mereka, kepala LP mempunyai ide, agar
usaha LP Wirogunan dalam persepatuan menjadi baik, lancar
dan terkenal. Maka dia punya ide, menghubungi LP Sukamiskin
dan Lowok Waru (Malang?). Tujuannya adalah
untuk mengirimkan Mat Pithi dan Dul Kimpong ke LP Sukamiskin
agar bisa dilatih di industri kerajinan sepatu Ci Baduyut.
Sedang
Klowor dipisah dikirim ke Malang untuk mempelajari pembuatan
sepatu Knock-Kers yang adalah imitasi dari Kick-Kers.
----
Sampai di Cibaduyut, Mat Pithi segera menampilkan kemajuan.
Dia menjadi tahu bagaimana menjahit sepatu agar lebih cepat,
mencampur lem, memasang logam lubang tali hingga memalsu
merek. Dia tidak berfikir cocok tidaknya sepatu yang sedang
dia pelajari dengan yang ada di Wirogunan. Yang dia perha-
tikan adalah bagaimana cara membuat sepatu yang lebih
efisien.

Sementara Dul Kimpong kebingungan. Dia melihat, di
Cibaduyut tidak ada produksi Sepatu Sandal semirip
di Wirogunan. Maka dia tidak maju-maju, sampai
ditegor oleh kepala LP Sukamiskin. Akhirnya setelah
rembugan agak alot, Dul Kimpong dipindah ke Cihampelas
beralih profesi belajar membuat Jeans. Di situ dia menunjukkan
bakatnya yang hebat, walaupun harus terlambat 3, 4 bulan.

Klowor lain lagi. Dia tinggalkan semua pengetahuan membuat
Selop, beralih pada pembuatan sepatu yang serba otomatis.
Dia juga tidak ambil pusing dari mana saja datangnya bahan.
Bagi dia, yang penting dapat menyelesaikan tugas tepat
waktu dengan satu cita-cita, belajar menjadi manager pabrik
sepatu. Suatu cita-cita yang hebat, melihat kemudaan usianya.
----
Singkat cerita, waktu kursus selesai.
Mat Pithi kembali dengan ketrampilan baru dan pengetahuan
yang lebih luas dalam hal persepatuan. Karena dia tidak melihat
wujud perbedaan sepatu antara Cibaduyut dan Wirogunan,
melainkan mencoba memahami hakekat bagaimana membuat
sepatu yang baik, cepat dan benar. Dia segera menerapkan
hasil kursusnya. Dan terlihat, produksi sepatu cap Wirogunan
MT, mulai merajai pasar Biring Harjo dan Malioboro. Beberapa
waktu kemudian, selepas dari LP, telah berdiri sanggar
kerajinan sepatu kulit Mat Pithi. Penghuni LP Wirogunan
dan anak terlantar adalah perajin andalannya.

Dul Kimpong lain lagi. Dia memang pulang, namun bicara
baik-baik kepada kepala LP, bahwa tidak sesuai lagi
bekerja di bagian Sepatu Sandal, karena dia belajarnya
malah Pembuatan Jeans. Dia segera minta ijin memodifikasi
mesin jahit sepatu sandal beberapa set agar dapat untuk
menjahit Jeans. Singkatnya dia berhasil, bahkan membuka
cabang produksi baru di LP Wirogunan, yaitu Jeans DK.
Akhirnya, menyusul sukses Mat Pithi, usaha dagang bakso
dia tinggalkan, berubah menjadi pusat kerajinan Jeans DK.

Dampak lain dari keberhasilan MP dan DK adalah, adanya
kerjasama saling kirim dan saling belajar antara penghuni
LP Wirogunan dan Sukamiskin. Dan pola kerja sama
semacam itu ditiru oleh beberapa LP yang lain.
-----
Akan halnya Klowor, sungguh beruntung. Dia berhasil
mempelajari pembuatan sepatu otomatis dengan cepat.
perhitungan-2nya mantap dan tepat. Akhir-akhir dia
berhasil membuat program pembuatan sepatu yang
leih hemat bahan dan awet produknya. Maka larislah
sepatu Knock-Kers. Sebagai penghargaan, ada seri
sepatu KKK dengan maksud Knock-Kers Kreasi
Klowor. Tidak hanya itu, program pembuatan itu
juga terkenal di pabrik-pabrik sepatu otomatis yang
lain. Akhirnya setelah selesai kursus, Klowor merasa
tidak perlu lagi kembali ke Wirogunan. Apalagi
ada pabrik sepatu yang meminjamnya sebagai
manager produksi, selain dia masih menduduki kepala
kreasi dan penciptaan model sepatu di pabrik KK.
--------------------------
Begitulah cerita yang idenya berasal dasi Mas Aribowo
(Okayama) sehabis Jum'atan kemarin, menjadi cerita
fiktif "ngoyoworo" ini. Tinggal kita pilih, mana tokoh
imajiner itu yang ideal, Mat Pithi, Dul Kimpong atau Klowor.
Ketiganya menunjukkan dedikasi dan kelebihan
intelektual yang tidak bisa dibandingkan, semua
positif yang sama-sama berangkat sebagai TUKANG
SEPATU. Sepatu yang gunanya jelas sebagai alas
kaki untuk memperlancar perjalanan seseorang
agar tidak tertusuk duri atau terlindung dari luka
bila terantuk batu, disamping untuk gagah-gagahan
dan injak-injakan.

nuwun,

mBah Soelojo




->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke