> >WAM:
> >Jadi, komunis juga penganut demokrasi? Lah, siapa
> yang kebingungan kalau
> >gini?
> 
> Mashuri:
> Saya tidak pernah binggung. Ha..ha..ha..
> 
> SKT:
> Sampai sekarang saya nggak pernah mengenal apa itu
> faham komunis. Yang saya pingin tahu kenapa kita
> sangat takut sama faham komunis? sebab kalu kita
> lihat negara penganut komunis itu selalu terbelakang
> ekonominya, bahkan founding country nya ( Uni Sovyet
> dan RRC ) yang tadinya tertutup sekarang begitu
> terbuka seperti negara-negara barat sehingga
> perekonomian mereka mulai maju. Didalam era
> globalisasi yang menuntut kompetisi seperti ini apa
> komunis masih merupakan ancaman? Pak Mashuri bisa
> mohon pencerahan?
> 
> Wassalam,

---------

China telah menjadi sebuah bangsa yang sangat
diperhitungkan, baik sebagai pasar, maupun sebagai
sebuah negara industri baru. Untuk yang terakhir,
mengapa?

Paham komunis telah mengajarkan kepada mereka untuk
menjadi orang yang tanpa makna, tatkala negara
mengambil alih semua slogan, kendali, dan segala
sesuatu yang baik berdasarkan anggapan pemerintahnya.
Namun tanpa disadari, bahwa bagaimana pun, informasi
tak mungkin dibungkam. Ekonomi tetap memerlukan
keterkaitan antara sumberdaya-proses-dan-pasar. Sebuah
bangsa tak bisa hidup hanya dengan cekokan ideologis,
lebih-lebih yang terbukti hanya membuahkan janji,
bukan bukti.

Deraan untuk hidup senantiasa di bawah permukaan
manusiawi yang cukup panjang mampu membiasakan rakyat
China sebagai bangsa yang tahan banting, sebuah elan
yang merupakan aset besar sebuah bangsa yang
berkehendak untuk maju.

Tetangga Hongkong, dan sebagian Shanghai, yang dibuka,
merupakan etalase keberhasilan sebuah sistem yang lain
yang cukup menggoda. Maka ketika para 'kapitalis'
China mulai menemukan tempat pijakannya, aset besar
itu telah menjadi sebuah tumpuan kuat bagi bangsa ini
untuk maju. Kini, pasar China adalah sebuah pasar yang
bukan main besar, dan lapar. Pantas kalau China jadi
rebutan, dan incaran.

China bekerja tanpa gembar-gembor, kecuali benar-benar
berbuat secara nyata. Jika selama ini mereka berada di
bawah permukaan kemanusiaan, maka iming-ining untuk
sekedar menaikkan diri, bahkan cuma sekedar sepasang
mata, atau lubang hidung, agar bisa melihat dunia,
atau bernapas sedikit lega, cukup untuk melecut bangsa
yang terhinakan oleh ideologi Komunis ini untuk
bangkit menjadi sebuah enersi yang menerjang tiada
tanding.

Tiba-tiba, Indonesia (dan pasti juga belahan dunia
lain), diserbu oleh hasil-hasil industri yang bikin
geleng-geleng, yang tak cuma harganya, juga
kualitasnya. Sejumlah industri sepeda motor, tiba-tiba
masuk deras ke negeri ini, yang akhir-akhir ini
menunjukkan harga yang sebenarnya. Jika pertama kali
datang sebuah bebek China dijual sampai 7 juta, maka
ketika semua aliran dibuka tanpa pilih, sudah ada yang
menjual di angka 4-juta lebih. Maka Astra, yang
mengageni Honda, harus bangun dari tidurnya, sambil
terkencing-kencing.

Jejak Komunisme secara ideologis sudah tak ada
maknanya sama sekali. Komunisme sebaliknya justru
memberi makna positip, ketika bangsa ini justru
menjadi bangsa yang tahan banting belaka.

Apakah China sudah meninggalkan Komunisme?

Tidak. Bangsa ini tidak meninggalkannya, tetapi
mengabaikannya. Ada urusan besar yang masih harus
mereka selesaikan, yang pasti tak akan pernah mampu
mereka benahi hanya dengan merutuki paham yang
notabene cuma cocok untuk meninabobokkan mereka yang
lapar saja.

Rusia, juga pernah dikuasai oleh rejim Komunis.
Indonesia juga pernah mengalami trauma dengan
masa-masa di mana Komunisme seolah-olah memegang
kendali penuh bangsa ini. 

Ada persamaan antara Rusia dengan Indonesia, yang
sangat berbeda dengan China. Kita lebih banyak sibuk
merutuki Komunisme, yang selama Orde Baru dicoba untuk
dijadikan musuh bersama, bukan untuk menggalang
solidaritas mencapai kemajuan bangsa, tetapi agar
bangsa ini memberi dukungan kepada implementasi semu
sebuah demokratisasi dan pembangunan ekonomi.

Jika China berhasil bangkit, karena enersi besar
mereka tak terbuang oleh gegap-gempita yang tak perlu
dengan main ganyang sana-sini, maka yang terjadi
adalah sebaliknya di negeri ini.

Sikap represi rejim lalu, meski bukan (atau mengaku
begitu?) Komunis, tetapi dalam pelaksanananya telah
mampu membuat warga bangsa ini tertidur lelap. Dan
ketika terbukti bahwa bangsa ini tak lebih dari
penghutang besar yang layak diluidasi, toh masih belum
juga menyadari keberadaannya. Sebagian besar malah
sibuk menenggak narkoba, hanya untuk sekedar
meneruskan mimpi-mimpinya. Sebagian besar lebih suka
membakar semangat primordialnya. Hanya sebagian kecil
saja yang benar-benar menaruh prihatin terhadap
kelangsungan hidup berbangsa yang kian surut
cahayanya.

Untuk 'Asu' yang berada di sebagian kecil tersebut,
semoga tetap dalam semangat untuk tetap sadar, bahwa
marginalisasi ini harus segera diakhiri.

=====
Sugih durung karuwan, sombong didisikno...

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Yahoo! Mail - Free email you can access from anywhere!
http://mail.yahoo.com/

->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke