Dari tulisan anda yang panjang ini saya sangat memujinya. jika ingin
disederhanakan. Jika anda ingin sederhana tidak jelimet seperti yang anda
uraikan. sbenarnya perdebatan ini kas perdebatan antara;
Marx Dan Hegel (bukan engel)
Hegel berpendapat Ide lebih dahulu yang menciptakan materi.
marx mengeritik hegel seperti orang yang berjalan terbalik. Dia berkata
bahwa Materi (mengutip feurbah) yang meransang terciptanya ide.
Kalau masalah ini saya sudah tahu sejak ikut dibangku kuliah dulu. tak perlu
anda contohkan dengan tiori yang lebih posmo seperti dibawah.
Sama seperti kritiknya Noam Chomsky akhir abad 20. Ia bekata tentang Tiori
atau Praktek. Hal ini dikarenakan munculnya dua kekuatan mahasiswa pada
waktu itu. yang satu berfikir perubahan dapat terjadi dengan hanya baca
buku. Kelompok satunya berkata perubahan tidak bisa dijalankan hanya dengan
baca buku harus dengan Aksi.
Lalu ia menjelaskan kepada mahasiswanya, tentang perdebatan tersebut Tiori &
Praktek harus menjadi satu kesatuan tidak bisa tiori dulu atau praktek
dahulu. Keduanya harus dijalankan sesuai dengan kondisi, yang dijelakan
dalam tiori tersebut.
M. Mashuri Alif.
-----Original Message-----
From: Agus Satrio [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: 13 September 2000 17:53
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: RE: [Kuli Tinta] ada hubungan?---2
--- Rury <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Dan saya dukung
> terhadap si Ivan dan Lewis. Saya pernah baca beberapa tulisannya. Coba
anda
> jelaskan lebih rinci tentang persamaan tiori kelasiknya Mark dengan
mereka.
Saya enggak akan menulis perkara tiori-tiori kapitalisme ataupun sosialisme.
Tapi yang akan
disoroti adalah asumsi dasarnya. Dan ini telah jadi polemik lama antara
penganut materialisme
dialektik (para marxis dan non marxis) dengan pendapat Lewis Mumford serta
Ivan Illich.
Penganut materialisme dialektik percaya bahwa secara faktual -jadi historis,
konkrit, tidak
abstrak- alat-alat bikinan manusialah (teknologi/alat produksi) yang telah
membuat manusia menjadi
manusia. Ketrampilan menemukan perkakaslah yang membentuk kebudayaan
manusia. Homo faber-lah yang
membuat manusia jadi homo sapiens. Dengan alat-alat itu manusia berproduksi.
Namun dalam proses
produksi (pembangunan) mau tidak mau kita harus menerima limbah dari proses
produksi (pembangunan)
itu. Marx menamai proses ini sebagai fetisisme yakni pembendaan manusia
dalam proses produksi
(khas kapitalistik) karena alat produksi sudah jadi tuan dari manusia.
Lewis Mumford membantah pandangan bahwa ketrampilan menemukan perkakaslah
yang membentuk
kebudayaan manusia itu. Lewis berpendapat (ini diambil dari buku 'Dampak
Teknologi pada
Kebudayaan',ybm) bahwa kemampuan manusia membaca lambang-lambang beserta
pemaknaannyalah yang
membentuk aktifitas kehidupan manusia. Bukan pertama-tama kemampuan untuk
mencari 'sesuap nasi'
(penunjang kehidupan materialistisnya) belaka, melainkan kemampuannya untuk
menangkap menghayati,
dan memberi makna kepada lambang-lambang. Lambang-lambang itu terungkap
dalam upacara-upacara,
kesenian, bahasa sastra, puisi, drama, musik, tarian-tarian, ilmu
pengetahuan, mitos, agama, dan
dimensi-dimensi imajinatif serta rohaniah lainnya. Lebih lanjut Lewis
berpendapat bahwa kita telah
terperangkap dalam sikap memitoskan mesin. Manusia pertama-tama bukan homo
faber, manusia tukang
pembuat perkakas, melainkan manusia yang memberi makna dan membuat
lambang-lambang pemaknaan
hidupnya. Dunia tumbuh-tumbuhan dan hewan pun sebenarnya makhluk2 yang sudah
mampu membuat
perkakas. Gambaran manusia pembuat perkakas ini telah begitu dalam masuk
dalam benak manusia
(Barat) sehingga perlu dibenahi. Dibutuhkan brain washing dalam soal ini
sebab "hanya dengan
membentuk penyaluran-penyaluran budaya, manusia dapat menggali,
mengendalikan sepenuhnya, serta
memanfaatkan ciri wataknya sendiri, baik di dalam rasional maupun di luar
yang rasional, nilai
manusia ada pada proses mengidentifikasi dan bertransformasi diri.
Sejajar dengan pendapat Lewis adalah pendapat Ivan Illich. Manusia menciptak
an alat-alat sesuai
dengan watak, selera, serta visi hidupnya. Sebaliknya alat pulalah yang
membentuk manusia secara
konkrit dalam pelaksanaan perbuatan-perbuatannya. Ada dua jenis alat. Yang
satu adalah alat yang
kita kenal dalam dunia peradaban industri sekarang ini, yakni alat yang
manipulatif. Yang kedua
yang dicita-citakan bagi hari depan, ialah alat yang bersifat konvivial
(konvivial dari kata con =
ikut, bersama, berpadu; vivere=hidup; konvivial=hidup bersama atau memberi
kesempatan kepada orang
lain untuk menghidupi kehidupan yang ia pilih sendiri).
Perbedaan manipulatif dan konvivial tidak sama dengan perbedaan antara
teknologi tinggi dan
rendah, industri canggih dan industri sederhana. Masyarakat yang
manipulatif menciptakan
alat-alat yang bersifat manipulatif. Masyarakat konvivial menciptakan
alat-alat yang berciri
konvivial. Begitu juga sebaliknya pengaruh alat terhadap manusia.
Yang terpenting pada suatu masyarakat konvivial bukanlah tidak adanya
lembaga-lembaga manipulatif
dan barang-barang lebih dari cukup secara mutlak. Akan tetapi dalam
masyarakat harus tercapai
keseimbangan antara alat-alat semacam itu dengan penciptaan pemenuhan
kebutuhan-kebutuhan spesial
yang khas pribadi bagi orang beserta pelengkapnya, yakni alat-alat yang
memupuk realisasi diri
manusia, yang mencipta kembali secara terus-menerus relasi-relasi
antarmanusia dan dunia keliling
mereka dengan kemerdekaan yang berpandangan luas, penuh ekspresi diri.
Masyarakat industri dengan segala macam pertentangan kapitalis sosialis
suatu saat pasti akan
sampai pada terminalnya. Bagaimana ujungnya? Kita tidak tahu. Apakah seperti
rontoknya
budaya-budaya saat budaya klasik yang dibawa oleh Alexander Agung, ataukah
lebih mengerikan lagi,
kita tidak tahu. Namun perlu diusahakan bentuk-bentuk masyarakat lain.
Apakah masyarakat sosialis
yang dibayangkan (sosialisme utopis menurut tulisan Ruslan Abdulgani)
sejajar dengan masyarakat
konvivial ini, saya harap pak Mashuri bisa menjawabnya.
Perkara kelas menengah, saya setuju dengan uraian pak Mashuri. Kelas
menengah kita ini dengan jitu
telah disimbolkan oleh Pram dengan tokoh Sastro Kassier dalam melawan Tuan
administratur Frits
Homerus Vlekkenbaaij dalam Anak Semua Bangsa. Sebenarnya cerita ini historis
ada dan bisa dibaca
di "Tjerita Nji Paina, satoe anak gadis jang amat satia. Satoe tjerita amat
indahnya, jang belon
sebrapa lama soedah terdjadi di djawa Wetan", Terkarang Oleh Toean H.
Kommer, Batavia, Tertjitak
di pertjitakan toean-toean A. Veit & Co., Batavia 1900. Pram menyebut
kejadiannya di Tulangan
Sidoarjo.
sudah dulu capek ngetik
agusssss
nb:Terima kasih pak Mashuri (pak Mashuri ini dosen ya?)
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Yahoo! Mail - Free email you can access from anywhere!
http://mail.yahoo.com/
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!