INSTITUT STUDI ARUS INFORMASI 
Jl. Utan Kayu No. 68-H, Jakarta 13120 
Tel. 62-21-8573388, Fax. 62-21-8573387 
E-mail: [EMAIL PROTECTED] Website: www.isai.or.id 

S I A R A N P E R S 
HATI-HATI MEMBERITAKAN PENANGKAPAN PEMBOMAN 

JAKARTA -- Institut Studi Arus Informasi (ISAI) merasa prihatin terhadap 
sebagian besar pemberitaan penahanan orang yang diduga melakukan terorisme 
di Indonesia. ISAI mengharapkan wartawan Indoensia bersikap profesional dan 
menghormati etika dalam menjalankan pekerjaan jurnalistik. 

"Sikap etis dapat dilakukan dengan tidak menekankan berita pada fakta yang 
tidak relevan. Atau sebaliknya, tidak menyembunyikan fakta yang relevan," 
kata Wakil Direktur ISAI Stanley Adi Prasetyo. 

Stanley berpendapat bahwa wartawan juga harus cover both sides. Seorang 
wartawan yang baik harus selalu kritis. Polisi telah bekerja keras untuk 
mencari berbagai bukti. Namun media tak selayaknya menelan mentah 
argumentasi yang dilontarkan polisi. 

ISAI berpendapat penekanan pada "warga Aceh" maupun kedekatan bengkel Krung 
Baru Motor dengan kediaman pribadi Presiden Abdurahman Wahid di Ciganjur 
adalah fakta yang kurang relevan dalam penahanan ini. 

Memang benar bahwa ada orang Aceh yang ikut ditahan. Tapi pertama mereka 
belum tentu bersalah. Kedua, melakukan profiling bahwa pelakunya adalah 
orang Aceh bisa menimbulkan kesan yang negatif terhadap orang Aceh pada 
umumnya (Ini sama dengan profiling terhadap orang Cina dalam masalah 
penimbunan bahan makanan pada 1997-1998). 

Kedekatan tempat yang dicurigai sebagai markas terorisme dengan rumah 
pribadi Presiden Wahid juga bukan sesuatu yang penting dalam kasus ini 
(lebih relevan bila bengkel itu dekat dengan Istana Merdeka). Para wartawan 
yang meliput kasus ini sebaiknya menghabiskan waktu mereka dengan mencari 
fakta-fakta lain untuk menguji informasi pihak kepolisian. 

Polisi menduga para tahanan ini terkait dengan gerakan sipil bersenjata di 
Aceh. Ironisnya, hari pertama pemberitaan (Senin, 25/9) tak banyak media 
massa yang mengimbangi beritanya dengan mengonfirmasi pihak Gerakan Aceh 
Merdeka. Harian macam KOMPAS, Media Indonesia, Pos Kota dan Rakyat Merdeka 
sama sekali tak mengindahkan prinsip ini. 

ISAI mengingatkan bahwa media massa Indonesia selama 30 tahun lebih telah 
ikut terjebak dalam skenario mencari kambing hitam. Kini media tidak harus 
mengambil pernyataan polisi secara mentah seperti dituduhnya kelompok 
Angkatan Mujahidin Islam Nusantara dalam pemboman Mesjid Istiqlal atau 
dituduhnya Partai Rakyat Demokratis dalam Peristiwa 27 Juli 1996. 
Pemberitaan itu sepenuhnya menyandarkan diri pada siaran resmi aparat 
keamanan dan intelijen. 

ISAI mengingatkan bahwa pers adalah institusi publik yang diharapkan jadi 
mata dan telinga masyarakat dalam memberitakan kebenaran. 
Ketidakprofesionalan wartawan akan merugikan citra media yang makin memburuk 
dalam era pasca-Presiden Soeharto ini. 

Untuk informasi lebih lanjut: 

Stanley Adi Prasetyo 8573388 ext. 133 
Bimo Nugroho ext. 129 
Agus Sudibyo ext. 117 



__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Yahoo! Photos - 35mm Quality Prints, Now Get 15 Free!
http://photos.yahoo.com/

->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke