> apakah anda merasa bahwa orde baru itu membawa bangsa ini
> kepada kemajuan atau kehancuran.

WAM:
Pada awalnya, jelas kemajuan. Siapapun tidak dapat membantah itu.
Kehancuran? Apakah kehancuran ini monopoli perbuatan Orba, atau ada juga
yang ikut andil?

Mashuri:
Apa benar maju, maju dari hutang benar dan korupsi.
Makanya muncul kasus Malari 1974, yang
sebelumnya kasus buku putihnya Arief Budiman 1970, dan diteruskan
dengan kasus Taman mini 1978 yang kemudian di keluarkan NKK/BKK oleh
P&K terhadap mahasiswa, yang menyebabkan sebagian mahasiswa Frustasi
dan membentuk LSM pada tahun 1980-an, kan.
Tolongdong di jelasin siapa yang ikut andil (biar tidak dituduh maling
teriak maling)

> Kalau ada kebaikannya tolongdong ditunjukkan, agar kita bisa
> besama-sama adil dalam menyikapi kasus Suharto ini.

WAM:
Apa manfaatnya?
Bukankah masing-masing orang (dalam hal ini, anda) sudah punya pandangan
sendiri, yang  nggak bakalan bisa dirubah? Buat apa saya repot2.

Mashuri:
Bagaimana nih kok apriori, ayo kita jelasin dong.
Apakah hanya maling kampung yang wajib dihajar massa, atau
dihajar di Kodim atau kepolisian. Lalu pengedenya tidak diapa-
apakan dan belum juga divonis udah ditutup, artinya dimana
fungsi keadilan dan kepercayaan rakyat, jika kamu konsisten
untuk mencerdaskan bangsa dimana ruang untuk itu yang akumulasinya
menyebabkan dendam yang kamu gambarkan tadi.

Banyak penulis mengatakan anarki massa kan lahir karena dendam selama 32
tahun
termasuk kasus AM Fatwa itu kan, kasus Lampung, Aceh, dan kasus dukun santet
di basis NU jatim, semua menjadi akumulasi jadi wajar meletus sekarang lalu
apakah kita mau menyalahkan publik, jika akar masalahnya tidak diselesaikan
hukum bagi pengede politik ditabukan dan ini bukan pada jaman orde baru
saja tetapi orde lamapun punya wewenang untuk menuntut di muka hukum jika
merasa di jolimi. Nah untuk kasus suharto apa yang didapati oleh rakyat.
karena hukum itu tidak mengenal waktu surut, semua sama dimuka hukum.
Walaupun ia akan mati, hukum masih terus mengejarnya sampai keliang kubur.
Dan ini yang saya secara jujur tidak mau, coba saja kamu tanya sama si
buyung atnan pengacara yang menurutmu kondang itu.

> Kalau tekanan publik itu salah ya mari kitabuktikan bersama
> tetapi kalau benar dan anda pendukungnya pun ya monggo
> kita kan hidup di era demokrasikan - kan.

WAM:
Saya pendukung Suharto? Dengan dasar apa anda mengatakan demikian?
Bahkan, walaupun tidak ada masalahnya menjadi pendukung Suharto, saya sama
sekali tidak merasa mendukung orang ini. Saya dukung konsistensi.

Mashuri:
Jika anda bicara konsistensi hukum. Artinya anda percaya atas pemikiran
hukum, bahwa hukum tidak berhentikan. Hakim bisa saja menutup (clouse)
tetapi
masih terus akan dibukakan?, ayo anda konsisten yang mana.

WAM:
Look, jika sekarang kebanyakan orang mengutuk kebejatan jaman pemerintahan
Suharto, ambil contoh peradilan AM Fatwa, terus ngapain kebejatan ini mau
diulangi? Secara moral, apakah anda melihat ini benar?

Mashuri:
Bung, tidak ada orang yang akan "sedih" melihat kasus yang menimpa AM Fatwa
hal ini sama dengan dugaan terhadap penangkapan orang-orang aceh yang diduga
melakukan pemboman di BEJ. Seperti seruan yang dikeluarkan  dalam
menyikapi kasus pemboman. Dan ini harus dipertanggungjawabkan siapa yang
harus
bertanggung jawab?

WAM:
Kasarnya, buat apa anda (misalnya) mengecam korupsi kalau anda sendiri
melakukannya? Nggak benar bukan?

Mashuri:
Langsung aja tuduh tidak usah pakai simbolisasi segala, maksud anda Gus dur
dalam kasus Bulog Gade, dan Brunai Gade. Biar kita tidak bingung.
Tetapi terlepas Gusdur terlibat atau tidak tetapi diadili juga kan.
terlepas benar salah pengadilannya jalankan. Dan pers jadi ada kerjaanya
untuk terus mengikuti pengadilan itu kan.

WAM:
Sama dengan pendirian saya. Kalau kita menganggap apa yang dikerjakan pada
jaman Suharto itu nggak benar, ya jangan diulangi. Kalau pendapat saya
yang begini anda simpulkan saya pendukung Suharto, so be it. Tolong
masukkan juga Adnan Buyung Nasution, dan seorang lagi (saya lupa namanya)
yang juga berasal dari Tapanuli, sebagai pendukung Suharto. Dengan
demikian, saya bisa berteriak dengan lantang: kalian yang mengaku
reformis tidak lebih dari kecoa busuk munafik. Memaki Suharto, tapi
kelakuan kalian sama busuknya.

Mashuri:
Saya bangga dengan sifat megalomania atas pendirian anda, tetapi bung untuk
diketahui anda mengapa buyung keluar atau kasarnya dikeluarkan dari YLBHI.
Jauh sebelum reformasi ini digulirkan? Anda kalau membesar-besarkan
orang baca dulu background sejarah orang tersebut.

Tetapi saya tetap salut buat Buyung, dalam hukum siapapun orang berhak
mendapatkan pembelaan (pengacara), dan Buyung (mungkin) mengambil sikap
ini. Bukan keterpihakan terhadap rakyat yang dia ambil. Jadi wajar jika
dia jadi pengacara tentara. Tetapi jika hatinya dan kepentingannyapun sama
dengan yang dibelanya wah ini yang salah, bukan begitu bung.

> Dalam politik itu kebenaran dan kejujuran itu tipis yang ada hanya
> keterpihakan bukan begitu bung. ha..ha..ha..

WAM:
Anda berpihak pada kemunafikan, that is.
Anda maki Suharto, tapi anda ulangi kelakuan Suharto. Maling teriak
maling. Tidak tahu malu dan tidak punya moral.

Mashuri:
Ya, itulah budaya yang ditinggalkan ordebaru, budaya maling teriak maling.
dan budaya menjilat. Seperti bentuk sosialisasi feodalisme jawa yang
bertingkat-tingkat. Keatas menjilat ke bawah menginjak. ha..ha..ha..
Jawabannya reformasi Total dong.


# FREE DOMAIN [.COM|.NET|.ORG *] >> http://www.indoglobal.com #
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!













# FREE DOMAIN [.COM|.NET|.ORG *] >> http://www.indoglobal.com # 
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke