REFORMASI MATI PREMATUR:
Introspeksi Buat Semua

Martin Manurung

Ada istilah menarik dalam minggu ini yang datang dari Dr. Sjahrir, guru saya
di Fakultas Ekonomi UI. Katanya, Presiden Abdurrahman Wahid membuat
reformasi yang dibayar tunai oleh mahasiswa, telah �mati muda�. Pernyataan
itu kemudian menjadi headline di banyak media massa, bahkan dengan judul,
�Gus Dur Sebaiknya Mundur�.

Pernyataan itu, kemudian disambung secara aktif oleh Amien Rais. Dalam
pertemuannya kemudian dengan alumni HMI, dengan �genit� Amien berkata bahwa
ia minta maaf kepada bangsa Indonesia dan ummat Islam karena telah
mencalonkan Gus Dur menjadi presiden. Kemudian, ia pun meminta Gus Dur
segera mundur.

Menggelitik

Saya tidak tahu apakah ada keterkaitan atau bisik-bisik diantara keduanya
sebelum mengeluarkan pernyataan itu, sehingga bisa tercetus dalam waktu yang
bersambut-sambut. Tetapi, pernyataan kedua tokoh itu, bagi saya cukup
menggelitik atas dua alasan sebagai berikut:

Pertama, pernyataan itu mengesankan bahwa Gus Dur sepenuhnya bertanggung
jawab atas kesulitan krisis dan pemulihan yang terhambat seperti sekarang
terjadi. Padahal, kenyataannya krisis yang dihadapi sekarang ini memang
sebuah super-krisis yang menurut teori Schumpeter dengan long-wave
hypothesis-nya, kita sedang menghadapi masa terendah dalam siklus jangka
panjang perekonomian Indonesia. Perlu kerjasama dari semua pihak untuk
memulihkan krisis ini. Pengalaman the great depression di Amerika Serikat
pada tahun 1930-an memberikan pelajaran dari kita bahwa pemulihan ekonomi
membutuhkan concern dari semua pihak, termasuk para akademisi untuk
merancang strategi ekonomi yang jitu. Dan yang harus dipahami pula,
pemulihan krisis membutuhkan biaya; pemotongan subsidi, peningkatan
penerimaan pemerintah (antara lain melalui pajak), dan kondisi non-ekonomi
yang stabil. �No free lunch� (tak ada makan siang yang gratis), begitu
kata-kata bijak dari seberang sana, artinya tidak ada hasil tanpa
pengorbanan. Gus Dur memang lambat, tetapi bukan berarti tidak punya hasil.
Kelambanan kinerja Gus Dur dalam pemulihan ekonomi pun, bukan monopoli
karena dirinya sendiri, tetapi karena resultante �gaya-gaya� politik yang
ditimbulkan oleh pesaing-pesaingnya yang mungkin sudah tidak sabar lagi
untuk mencicipi kue kekuasaan.

Kedua, pernyataan itu mengesankan bahwa Gus Dur adalah orang yang mematikan
reformasi waktu masih muda umurnya. Padahal reformasi sudah lama mati.
Bahkan, bagi saya, janin reformasi sudah mati prematur pada Sidang Umum MPR
1999 ketika suara rakyat dihianati. Esensi reformasi adalah mendengarkan
suara rakyat yang selama ini diabaikan dan mewujudkan suara rakyat itu
dengan sungguh-sungguh. Kalau mau kilas balik, Pemilu 1999 telah menunjukkan
bagaimana rakyat menghendaki susunan kekuasaan di republik yang direformasi
ini. Tetapi, tingkah politik genit yang menyebalkan telah memutar-mutar
suara rakyat itu dan dengan argumen yang bersilat lidah, sehingga hasil
susunan kekuasaan yang terbentuk sangat berbeda dengan formasi suara rakyat
hasil Pemilu. Mereka yang menghianati suara rakyat itu, boleh saja tersenyum
ketika siasat politiknya berhasil menjungkirbalikkan suara rakyat. Tetapi,
mereka harus ingat, bahwa pada saat itu, sesungguhnya mereka telah membunuh
janin reformasi yang sebelumnya telah dibenihkan oleh siraman darah aktivis
pro-demokrasi (jauh-jauh hari sebelum mahasiswa turun ke jalan) yang
diculik, dianiaya dan dibunuh. Lalu, bagaimana pula yang telah mematikan
reformasi secara prematur itu, lantas dengan enteng mengatakan Presiden Gus
Dur harus mundur? Kalau mau bertanggung jawab secara jujur, sebaiknya
berintrospeksi lebih dulu dan kemudian mundur secara jantan.

�Gagah-Gagahan�

Saya ingin mengingatkan semua pihak; berhentilah untuk gagah-gagahan bak
seorang remaja ABG (Anak Baru Gede). Pada masa remaja, seorang ABG akan
senang untuk disebut �cool� atau �funkie�; terlihat gagah dan keren dengan
asesoris mahal (ber-handphone, mencuri-curi mengendari sepeda motor, pakai
jam tangan merk terkenal), tetapi sebenarnya semuanya itu masih pemberian
orang tua. Bagi anak remaja, terlihat gagah itu lebih penting ketimbang
mencari substansi kehidupan dan merancang masa depan.

Tingkah politik kita pun masih pada taraf ABG yang gagah-gagahan itu. Karena
ingin terlihat gagah; beri komentar yang pedas-pedas, semua pernyataan
�lawan� harus langsung diserang, kalau tidak begitu mungkin tidak �funkie�.
Kalau mau bicara sense of crisis, tingkah politik pun harus mencerminkan
sense of crisis. Semua serba darurat, maka komentar pun harus jernih dan
obyektif. Opini publik harus dijaga, jangan ajak rakyat untuk
ber-politicking. Menjadi �pendobrak� memang gagah, tapi tidak disetiap waktu
kita harus menjadi pendobrak.

Gus Dur memang punya banyak kekurangan. Sebab ia sangat pasti bukan seorang
wali, apalagi nabi. Sejak dulu, saya juga termasuk orang yang tidak percaya
sebutan sebagian orang yang mengatakan Gus Dur itu bak seorang wali. Tetapi,
demokrasi kita telah membuatnya menjadi pemimpin selama lima tahun ini,
berarti sampai empat tahun yang akan datang. Proses demokrasi yang telah
memakan biaya milyaran rupiah, menguras pikiran rakyat dan disambut secara
antusias oleh rakyat yang baru saja terlepas dari kerangkeng penguasa
otoriter, harus dihargai. Bila tidak, maka bangsa ini akan kehilangan
orientasi dan demokrasi akan rancu menjadi oligarki. Jangan lagi
mengkangkangi suara rakyat hanya untuk terlihat gagah sebagai �pendobrak�.

Apa yang Perlu Dikerjakan?

Setelah berhenti gagah-gagahan, ada baiknya berkonsentrasi pada bidang tugas
yang dipercaya rakyat untuk diemban. Pertama, untuk Presiden Abdurrahman
Wahid dan Wapres Megawati Soekarnoputri. Sudah sejauh manakah anda secara
sungguh-sungguh melakukan percepatan upaya pemulihan dari krisis? Sudah
maksimalkah anda secara manajerial sebagai presiden dan wapres untuk
mengelola negara? Bagaimanakah upaya anda untuk membersihkan KKN di masa
lalu, dan juga membersihkan birokrasi serta orang-orang disekitar anda dari
KKN itu?

Kedua, kepada Ketua DPR Akbar Tanjung dan para anggota DPR. Mampukah anda
sebagai anggota badan legislatif untuk membuat peraturan-peraturan yang
sungguh-sungguh diperlukan rakyat dalam reformasi dan pemulihan ini? Sampai
sejauh mana kedudukan partnership, telah anda jalankan terhadap Presiden?
Sudah maksimalkah anda untuk mengurangi kepentingan kelompok dan pribadi,
kemudian berkonsentrasi pada kepentingan seluruh rakyat?

Ketiga, kepada Ketua MPR Amien Rais. Sudahkah anda berfungsi sebagai Ketua
MPR? Atau, apakah sebenarnya fungsi Ketua MPR itu (sebab jabatan itu sendiri
tidak transparan apa job description-nya)? Sampai sejauh manakah
proporsionalitas jabatan Ketua MPR itu dengan pernyataan-pernyataan yang
rajin dikeluarkan?

Kemampuan untuk berintrospeksi itu, menurut hemat saya, jauh lebih penting
ketimbang merancang strategi politik menggelar Sidang Istimewa MPR. Toh,
setiap tahun ada mekanisme Sidang Tahunan MPR untuk memberikan �cambuk� bagi
pelaksana pemerintahan untuk bekerja lebih cepat lagi.

Martin Manurung
Asisten Pengajar FEUI
�Alumnus� Forum Rembug Nasional


>>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<<
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke