Memang, memperbaiki semua kesalahan itu jauh lebih penting daripada mengutuk
kesalahan saat ini.
Kesalahan saat ini secara kualitatif tidak pula layak dibandingkan derajat
substansinya dengan akumulasi kesalahan panjang masa lalu.
Tapi perbandingan menjadi jauh lebih tidak penting daripada perbuatan nyata
memperbaiki kesalahan masa lalu
Pemberantasan korupsi dan segala bentuk penyalahgunaan kekuasaan, perintisan
pemerintahan yang bersih (good governance), mempertahankan integritas
wilayah dan persatuan (termasuk penyiapan pusat dan daerah dalam
implementasi desentralisai), law and order, penyelesaian dan pencegahan
konflik horizontal, dan secara simultan mengeluarkan secepat-cepatnya
ekonomi dari krisis berkepanjangan. Apa yang disebut pembinaan politik akan
berjalan dengan sendirinya apabila semua hal itu dilakukan dengan
kesungguhan yang maksimal dan bersih kepentingan, serta ketegasan optimal
tanpa harus jadi otoriter.
-----Original Message-----
From: Martin Manurung [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: 29 October, 2000 11:26 PM
REFORMASI MATI PREMATUR:
Introspeksi Buat Semua
Martin Manurung
Ada istilah menarik dalam minggu ini yang datang dari Dr. Sjahrir,
guru saya
di Fakultas Ekonomi UI. Katanya, Presiden Abdurrahman Wahid membuat
reformasi yang dibayar tunai oleh mahasiswa, telah "mati muda".
Pernyataan
itu kemudian menjadi headline di banyak media massa, bahkan dengan
judul,
"Gus Dur Sebaiknya Mundur".
Pernyataan itu, kemudian disambung secara aktif oleh Amien Rais.
Dalam
pertemuannya kemudian dengan alumni HMI, dengan "genit" Amien
berkata bahwa
ia minta maaf kepada bangsa Indonesia dan ummat Islam karena telah
mencalonkan Gus Dur menjadi presiden. Kemudian, ia pun meminta Gus
Dur
segera mundur.
Menggelitik
Saya tidak tahu apakah ada keterkaitan atau bisik-bisik diantara
keduanya
sebelum mengeluarkan pernyataan itu, sehingga bisa tercetus dalam
waktu yang
bersambut-sambut. Tetapi, pernyataan kedua tokoh itu, bagi saya
cukup
menggelitik atas dua alasan sebagai berikut:
Pertama, pernyataan itu mengesankan bahwa Gus Dur sepenuhnya
bertanggung
jawab atas kesulitan krisis dan pemulihan yang terhambat seperti
sekarang
terjadi. Padahal, kenyataannya krisis yang dihadapi sekarang ini
memang
sebuah super-krisis yang menurut teori Schumpeter dengan long-wave
hypothesis-nya, kita sedang menghadapi masa terendah dalam siklus
jangka
panjang perekonomian Indonesia. Perlu kerjasama dari semua pihak
untuk
memulihkan krisis ini. Pengalaman the great depression di Amerika
Serikat
pada tahun 1930-an memberikan pelajaran dari kita bahwa pemulihan
ekonomi
membutuhkan concern dari semua pihak, termasuk para akademisi untuk
merancang strategi ekonomi yang jitu. Dan yang harus dipahami pula,
pemulihan krisis membutuhkan biaya; pemotongan subsidi, peningkatan
penerimaan pemerintah (antara lain melalui pajak), dan kondisi
non-ekonomi
yang stabil. "No free lunch" (tak ada makan siang yang gratis),
begitu
kata-kata bijak dari seberang sana, artinya tidak ada hasil tanpa
pengorbanan. Gus Dur memang lambat, tetapi bukan berarti tidak punya
hasil.
Kelambanan kinerja Gus Dur dalam pemulihan ekonomi pun, bukan
monopoli
karena dirinya sendiri, tetapi karena resultante "gaya-gaya" politik
yang
ditimbulkan oleh pesaing-pesaingnya yang mungkin sudah tidak sabar
lagi
untuk mencicipi kue kekuasaan.
Kedua, pernyataan itu mengesankan bahwa Gus Dur adalah orang yang
mematikan
reformasi waktu masih muda umurnya. Padahal reformasi sudah lama
mati.
Bahkan, bagi saya, janin reformasi sudah mati prematur pada Sidang
Umum MPR
1999 ketika suara rakyat dihianati. Esensi reformasi adalah
mendengarkan
suara rakyat yang selama ini diabaikan dan mewujudkan suara rakyat
itu
dengan sungguh-sungguh. Kalau mau kilas balik, Pemilu 1999 telah
menunjukkan
bagaimana rakyat menghendaki susunan kekuasaan di republik yang
direformasi
ini. Tetapi, tingkah politik genit yang menyebalkan telah
memutar-mutar
suara rakyat itu dan dengan argumen yang bersilat lidah, sehingga
hasil
susunan kekuasaan yang terbentuk sangat berbeda dengan formasi suara
rakyat
hasil Pemilu. Mereka yang menghianati suara rakyat itu, boleh saja
tersenyum
ketika siasat politiknya berhasil menjungkirbalikkan suara rakyat.
Tetapi,
mereka harus ingat, bahwa pada saat itu, sesungguhnya mereka telah
membunuh
janin reformasi yang sebelumnya telah dibenihkan oleh siraman darah
aktivis
pro-demokrasi (jauh-jauh hari sebelum mahasiswa turun ke jalan) yang
diculik, dianiaya dan dibunuh. Lalu, bagaimana pula yang telah
mematikan
reformasi secara prematur itu, lantas dengan enteng mengatakan
Presiden Gus
Dur harus mundur? Kalau mau bertanggung jawab secara jujur,
sebaiknya
berintrospeksi lebih dulu dan kemudian mundur secara jantan.
"Gagah-Gagahan"
Saya ingin mengingatkan semua pihak; berhentilah untuk gagah-gagahan
bak
seorang remaja ABG (Anak Baru Gede). Pada masa remaja, seorang ABG
akan
senang untuk disebut "cool" atau "funkie"; terlihat gagah dan keren
dengan
asesoris mahal (ber-handphone, mencuri-curi mengendari sepeda motor,
pakai
jam tangan merk terkenal), tetapi sebenarnya semuanya itu masih
pemberian
orang tua. Bagi anak remaja, terlihat gagah itu lebih penting
ketimbang
mencari substansi kehidupan dan merancang masa depan.
Tingkah politik kita pun masih pada taraf ABG yang gagah-gagahan
itu. Karena
ingin terlihat gagah; beri komentar yang pedas-pedas, semua
pernyataan
"lawan" harus langsung diserang, kalau tidak begitu mungkin tidak
"funkie".
Kalau mau bicara sense of crisis, tingkah politik pun harus
mencerminkan
sense of crisis. Semua serba darurat, maka komentar pun harus jernih
dan
obyektif. Opini publik harus dijaga, jangan ajak rakyat untuk
ber-politicking. Menjadi "pendobrak" memang gagah, tapi tidak
disetiap waktu
kita harus menjadi pendobrak.
Gus Dur memang punya banyak kekurangan. Sebab ia sangat pasti bukan
seorang
wali, apalagi nabi. Sejak dulu, saya juga termasuk orang yang tidak
percaya
sebutan sebagian orang yang mengatakan Gus Dur itu bak seorang wali.
Tetapi,
demokrasi kita telah membuatnya menjadi pemimpin selama lima tahun
ini,
berarti sampai empat tahun yang akan datang. Proses demokrasi yang
telah
memakan biaya milyaran rupiah, menguras pikiran rakyat dan disambut
secara
antusias oleh rakyat yang baru saja terlepas dari kerangkeng
penguasa
otoriter, harus dihargai. Bila tidak, maka bangsa ini akan
kehilangan
orientasi dan demokrasi akan rancu menjadi oligarki. Jangan lagi
mengkangkangi suara rakyat hanya untuk terlihat gagah sebagai
"pendobrak".
Apa yang Perlu Dikerjakan?
Setelah berhenti gagah-gagahan, ada baiknya berkonsentrasi pada
bidang tugas
yang dipercaya rakyat untuk diemban. Pertama, untuk Presiden
Abdurrahman
Wahid dan Wapres Megawati Soekarnoputri. Sudah sejauh manakah anda
secara
sungguh-sungguh melakukan percepatan upaya pemulihan dari krisis?
Sudah
maksimalkah anda secara manajerial sebagai presiden dan wapres untuk
mengelola negara? Bagaimanakah upaya anda untuk membersihkan KKN di
masa
lalu, dan juga membersihkan birokrasi serta orang-orang disekitar
anda dari
KKN itu?
Kedua, kepada Ketua DPR Akbar Tanjung dan para anggota DPR. Mampukah
anda
sebagai anggota badan legislatif untuk membuat peraturan-peraturan
yang
sungguh-sungguh diperlukan rakyat dalam reformasi dan pemulihan ini?
Sampai
sejauh mana kedudukan partnership, telah anda jalankan terhadap
Presiden?
Sudah maksimalkah anda untuk mengurangi kepentingan kelompok dan
pribadi,
kemudian berkonsentrasi pada kepentingan seluruh rakyat?
Ketiga, kepada Ketua MPR Amien Rais. Sudahkah anda berfungsi sebagai
Ketua
MPR? Atau, apakah sebenarnya fungsi Ketua MPR itu (sebab jabatan itu
sendiri
tidak transparan apa job description-nya)? Sampai sejauh manakah
proporsionalitas jabatan Ketua MPR itu dengan pernyataan-pernyataan
yang
rajin dikeluarkan?
Kemampuan untuk berintrospeksi itu, menurut hemat saya, jauh lebih
penting
ketimbang merancang strategi politik menggelar Sidang Istimewa MPR.
Toh,
setiap tahun ada mekanisme Sidang Tahunan MPR untuk memberikan
"cambuk" bagi
pelaksana pemerintahan untuk bekerja lebih cepat lagi.
Martin Manurung
Asisten Pengajar FEUI
"Alumnus" Forum Rembug Nasional
>>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<<
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!