* LEBIH BAIKKAH MEGA, AMIEN ATAU AKBAR DARIPADA GUS DUR?

Makin ramainya desakan supaya Presiden Abdurrahman Wahid mundur saja,
kini diikuti pertanyaan apakah penggantinya bisa berkinerja lebih
baik. Banyak orang meragukan apakah Megawati, Amien Rais atau Akbar
Tandjung bisa lebih baik dari Presiden Wahid jika mereka sampai bisa
berkuasa. Jangan-jangan mereka akan menumbuk kegagalan serupa, dengan
akibat yang lebih seram lagi. Laporan koresponden Syahrir dari
Jakarta:

Jika Presiden  Abdurrahman Wahid dipaksa mundur, tidak ada jaminan
keadaan akan lebih baik. Bahkan dikhawatirkan akan muncul ketegangan
dan krisis baru. Pernyataan ini disampaikan Sekretaris PKB, Abdul
Khaliq Achmad kepada pers di Jakarta Selasa kemarin. Sebagai pemimpin
ummat, Gus Dur memiliki akar rumput yang jelas. Selain itu
orang-orang sepaham dengan pikirannya dan orang-orang kelompok
minoritas pasti akan memberi perlawanan kepada mereka yang memaksa
mundur Gus Dur. Selama ini Gus Dur dianggap payung kelompok-kelompok
minoritas. Mereka dapat saja membuat kelompok baru yang terpisah dari
Republik jika sampai Gus Dur dipaksa mundur secara inkonstitusional,
katanya. Ia juga mengingatkan tak mungkin semua warisan Orde Baru
yang kompleks diselesaikan dalam waktu setahun. Karena itu dia
mengatakan sebaiknya Amien mempertimbnagkan kembali niatnya. "Saya
yakin Amien masih dapat disadarkan kecuali kalau memang sudah
kebelet, itu soal lain", katanya. Sementara itu kalangan PKB lain
mengatakan siapaun yang menjadi presiden saat ini, sulit untuk
mengatasi kepurukan perekonomian saat ini. Karena itu ia secara
pribadi sebenarnya setuju saja jika Amien diberi kesempatan memimpin
negeri ini. Sebab pada akhirnya ia akan digantung para pemuda karena
gagal, katanya.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini diperkirakan mencapai sekitar
4%. Sedangkan pemerintah ke depan membutuhkan pertumbuhan 8% setahun
dan ini jelas sudah tidak mungkin dapat dicapai pemerintahan Gus Dur.
Demikian pula jika Amien Rais atau Megawati yang berkuasa. Akhirnya
Indonesia akan menghadapi malapetaka ekonomi. Selama beberapa bulan
terakhir ini, menurut seorang pengamat lain, bisa dilihat bagaimana
buruh, petani dan penganggur hampir setiap hari melakukan aksi
protes. Mereka melakukan aksi-aksi tersebut untuk membela diri
menghadapi kekerasan dan serangan deregulasi terhadap mereka.
Kemiskinan memang sangat meningkat sejak krisis. Penambahan 25 juta
dari 31 juta rakyat miskin antara Februari 1996 sampai Februari 1999,
terutama setelah akhir 1997, rakyat miskin kota naik dari lima juta
menjadi sembilan juta. Rakyat miskin di pedesaan naik dari 25 juta
menjadi 42 juta, terutama di Jawa. Lebih dari 15 juta masuk menjadi
golongan miskin dalam waktu kurang dari dua tahun. Menurut
angka-angka SMERU, suatu lembaga yang didanai Bank Dunia, angka 55
juta orang miskin terlalu sedikit dibandingkan angka biro statistik
yang menyebut angka 80 juta orang hidup di bawah garis kemiskinan di
tahun 1998.

Tekanan terhadap orang miskin meningkat sejak bulan Oktober lalu
ketika Gus Dur mengurangi subsidi bahan bakar, sehingga harga-harga
pun naik. IMF meminta peningkatan harga bahan bakar pada bulan April
tahun depan. Sementara itu Wahid telah mengumumkan bahwa pemerintah
akan menentang tuntutan-tuntutan pelbagai serikat buruh yang
menginginkan kenaikan gaji sebesar 100%. Ia hanya akan menerima
paling banyak 20% kenaikan saja. Malapetaka yang sesungguhnya yang
sedang dihadapi bagian terbesar rakyat Indonesia adalah anjloknya
ekonomi Indonesia untuk kedua kalinya. Indonesia saat ini memikul
beban utang sekitar 150 milyar dolar, atau sekitar 750 dolar per
orang per tahun. Dengan pembayaran cicilan dan pokok utang lebih Rp.
30 trilyun per tahun berarti DSR atau perbandingan pembayaran utang
dengan pendapatan hasil ekspor telah mencapai 50%. Itu berarti bahwa
separuh pendapatan ekspor habis dipakai melunasi utang. Jelas ini
merupakan perbandingan terbesar di dunia, mengalahkan negara
pengutang besar lainnya seperti Meksiko, Brazil dan Argentina.

Ketergantungan terhadap utang luar negeri memiliki korelasi dengan
semakin ketatnya persyaratan kreditor. Sebagai contoh adalah
penerapan SAP atau Structural Adjustment Programme yang dipaksakan
Bank Dunia dan IMF. Karena itu pengamat tersebut bisa menyetujui jika
Megawati, Amien Rais atau Akbar Tandjung bisa menggantikan Gus Dur
secepatnya agar mereka bisa membuktikan kelebihan mereka sebagai
negarawan. Sudah dapat dipastikan bahwa mereka pun akan jatuh dalam
waktu satu atau dua tahun karena tidak mampu meningkatkan pertumbuhan
ekonomi sampai 8% setahun sehingga dapat memberikan pekerjaan kepada
tiga juta orang penganggur setahun. Kalau gagal maka mereka pun akan
berhadapan dengan jutaan pemuda yang tadinya menjatuhkan Soeharto
karena berharap suatu masa depan yang lebih baik. Jika ternyata
kelompok Ciganjur tidak mampu mengatasi keadaan maka bukan mustahil
mereka pun akan mengalami nasib yang sama seperti Soeharto, atau
mungkin lebih jelek lagi.


Copyright Radio Nederland Wereldomroep.
---------------------------------------------------------------------



>>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<<
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke