Dear, Novi Hidayat,

Sangat setuju kalau hukum ditegakkan, dan mari kita do'akan semoga impian
penegakan hukum di negara tercinta ini,
dapat terwujud.

Regards,


 -----Original Message-----
 From: BKC1214 Nopi Hidayat
 [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
 Sent: Thursday, December 14, 2000 5:01 PM
 To: [EMAIL PROTECTED]
 Subject: RE: [Kuli Tinta] Fw: Dua Topik Gema Warta RNSI


 Bung Chirstian,
 Jika berita itu benar maka yg melakukan hal tersebut harus dihukum dan
 sebaliknya juga
 jika ada kejadian yg sama yg dilakukan oleh pihak lainnya juga
 harus dihukum,
 disini masalahnya bukan hanya bijaksana tapi hukum yg harus
 ditegakkan dan juga
 berusaha memberikan keadilan bagi semua pihak
 baru kemudian bisa kita mulai dari awal untuk menegakkan
 kebersamaan dan saling
 hormat
 menghormati antar pemeluk agama.

 Kedamaian datangnya adalah dari dalam diri manusia itu sendiri
 dan mukjizat
 adalah
 karunia-NYA yg sangat berarti bagi manusia didunia.

 Salam
 ---------,

 From: "Christian S" <[EMAIL PROTECTED]> on 14/12/2000 05:08 AM
 Yth, members milis kuli-tinta,

 Terlepas apakah itu benar atau tidak, saya kira itu tidak
 terlalu penting
 kalau kita menginginkan kedamaian kembali tercipta. Sebab mencari siapa
 dalangnya, siapa yang memulai, siapa yang salah, kenapa begini kenapa
 begitu, ..... bukanlah langkah yang bijaksana.
 Untuk situasi yang sudah sangat-sangat memprihatinkan ini,
 yang memungkinkan
 untuk menciptakan suasana persudaraan kembali tumbuh adalah... saling
 memaafkan, saling menerima apa adanya,... kembali sadar dan
 bertobat bahwa
 begitu jauhnya kita terbawah emosi sehingga terjadi keadaan yang sangat
 memilukan ini. Tanpa itu hanya Mujisat dari TYME sajalah yang dapat
 menjadikan segalanya menjadi berubah.

 Mohon maaf kalau tutur kata saya tidak berkenan.
 Regards,
 chs



  -----Original Message-----
  From: BKC1214 Nopi Hidayat



  Tanya :
  Apakah berita seperti dibawah ini benar??,..ataukah hanya karangan
  cerita sepihak dari salah satu pihak yg bertikai di Ambon,..mohon
  informasi dan kejelasan lebih lanjut dari rekan2 yg tahu atau bagi
  rekan2 yg pernah ke Ambon!.

  Salam,

  -----------

  From: "Daniel H.T." <[EMAIL PROTECTED]> on 12/12/2000 04:11 PM GMT
  ----- Original Message -----
  From: RNW BERITA list manager <[EMAIL PROTECTED]>
  To: <[EMAIL PROTECTED]>
  Sent: Monday, December 11, 2000 9:30 PM
  Subject: Warta Berita - Radio Nederland, 11 Desember 2000
  > * KISAH SEORANG WARGA KRISTEN PULAU KASUI, SERAM TIMUR,
 YANG TERPAKSA
  > MASUK ISLAM
  >
  > Beberapa saat lalu beredar berita tentang proses islamisasi di pulau
  > Kasui yang berlangsung 23 November lalu. Suatu proses yang
 menewaskan
  > 93 orang kristen. Pihak Laskar Jihad menyangkal adanya
 islamisasi dan
  > menilai pemberitaan itu sebagai salah satu propaganda pihak Kristen
  > yang dijuribicarai oleh Samy Waileruni dari Tim Advokasi Gereja
  > Protestan Maluku dan Keuskupan. Sejak Januari 1999 Maluku dilanda
  > kekerasan. Tetapi keadaan semakin parah dengan kedatangan laskar
  > jihad dari Jawa. Pihak Islam dan Kristen saling tuduh-menuduh soal
  > duduk perkara kekerasan. Berikut ini kisah seorang warga
 kristen yang
  > mengalami sendiri proses ilsamisasi di kampung Kardomin,
 pulau Kasui:
  >
  > Warga Kasui [WK]: Pulau Kasui itu Kacamatan Seram Timur, di mana
  > mayoritas penduduknya beragama Islam. Sedangkan agama Kristen hanya
  > terdapat di empat kampung yang letaknya juga berjauhan. Jadi pada
  > tanggal 23 November 2000 itu penyerangan pertama di kampung Uta,
  > kampung Kristen. Kemudian tanggal 24 November  itu penyerangan di
  > Kardomin. Kemudian tanggal 25-26 itu penyerangan dua kampung kristen
  > lagi di gunung, yaitu di Wonin dan Tamasoa.
  >
  > Saya sendiri dari kampung Kardomin. Penyerangan pertama di kampung
  > kami dilakukan hari Jum'at  tanggal 24 November jam 06.00 pagi.
  > Ketika itu kami bertahan untuk menghalau massa agar tidak masuk ke
  > kampung. Itu kurang lebih selama dua jam. Penyerang memang tidak
  > berhasil masuk kampung. Mereka mundur dan menghimpun massa dengan
  > mengundang semua laskar jihad dari perkampungan Muslim yang ada di
  > pulau itu. Ditambah dengan laskar jihad dari pulau-pulau yang
  > berdekatan dan mereka menghimpun massa menjadi ribuan orang.
  >
  > Mereka melakukan penyerangan kedua pada jam 13.00 siang. Pada waktu
  > itu kami berusaha meloloskan ibu-ibu dan anak-anak yang masih ada di
  > kampung. Terus, karena melihat massanya ribuan begitu besar, ya kami
  > tidak bisa bertahan. Semua lari ke gunung, menyusul ibu-ibu dan
  > anak-anak. Nah, perusuh masuk kampung dan memporak-porandakan
  > kampung, membakar, menjarah semua harta benda milik warga kampung
  > itu. Dan mereka pada saat itu dari jam 13.00 masih sempat mengadakan
  > pengejaran di gunung. Jadi mereka masih mengejar kami di gunung
  > kurang lebih jauhnya satu sampai dua kilometer dari kampung. Namun
  > kami lebih cepat, sehingga kami menduduki gunung yang tertinggi, di
  > situ letak perbatasan antara Timur dan Barat.
  >
  > Pada esok harinya, Sabtu pagi tanggal 25 November, mereka juga masih
  > mengadakan pengejaran-pengejaran di mana semua harta benda yang
  > sempat dibawa lari ke hutan dijarah habis. Jadi sambil itu mereka
  > melepaskan tembakan-tembakan dan bom. Warga kampung kami yang pada
  > saat itu di hutan ya mengalami ketakutan. Pada saat yang bersamaan
  > Sabtu 25 November itu juga, ada rombongan warga Muslim dari sebelah
  > Timur yang mencari kami di hutan dan memang mendapatkan kami di
  > hutan.  Mereka dari kampung Muslim Tanah Baru. Pada saat itu setelah
  > berembug dengan mereka, kami minta perlindungan keamanan
 kepada warga
  > Muslim dari kampung Tanah Baru itu. Mereka masih ada yang punya
  > keluarga di kampung Kardomin. Muslim kampung Tanah Baru mencari
  > mereka itu.
  >
  > Jadi kami minta perlindungan keamanan. Dan itupun mereka
 terima, cuma
  > dengan syarat, yaitu bahwa kami harus masuk Islam. Kalau masuk Islam
  > keamanannya bisa dijamin. Tapi kalau tidak, ya keamanannya belum
  > tentu. Tawaran ini kami terima, mengingat
 kemarin-kemarinnya itu juga
  > terjadi pembantain karena memaksakan orang-orang Kristen
 masuk Islam,
  > tetapi mereka mati-matian tidak mau. Nah, pada saat itu mereka
  > dibunuh.
  >
  > Radio Nederland [RN]: Apakah mereka itu tega membunuh keluarganya
  > sendiri?
  >
  > WK: Ya, itu terjadi juga. Karena terbukti pada waktu penyerangan itu
  > warga kami juga ikut dibantai, ada empat orang ikut dibantai.
  > Sekalipun mereka itu masih punya hubungan keluarga dengan
  > pembunuhnya. Kemudian setelah tawar menawar dengan Muslim dari
  > sebelah Timur, kami terima. Karena kami takut peristiwa pembantaian
  > sebelumnya akan terulang lagi. Pada saat itu kami disuruh turun
  > gunung menuju sebelah Timur. Kami baru malam hari tiba di kampung
  > Kardomin. Sampai di sana kami digiring untuk lari masuk
 dalam mesjid.
  > Sampai di mesjid pintu-jendela ditutup. Di dalam mesjid ada modin,
  > artinya pengurus-pengurus mesjid itu ada.
  >
  > RN: Berapa orang yang turun dari gunung dan digiring ke mesjid itu?
  >
  > WK: Yang dari kampung saya itu, kalau saya tidak salah
 data-data yang
  > saya ingat itu, 267 orang. Di mesjid kami ditanya lagi apakah kami
  > betul-betul mau masuk Islam. Sementara di luar mesjid itu kan ada
  > orang yang berkerumun banyak itu. Ada juga yang bersenjata. Jadi
  > karena kami ketakutan kami bilang ya kami mau masuk Islam, sekalipun
  > di dalam hati itu berat sekali. Nah, setelah itu kami dimandikan,
  > sebagai persyaratan pertama. Kalau tidak ya sama saja seperti belum
  > masuk Islam, berarti diancam untuk dibunuh.
  >
  > RN: Dimandikan itu caranya bagaimana, Pak?
  >
  > WK: Mereka sudah siapkan air di ember-ember besar, terus untuk
  > bapak-bapak itu ada bapak yang bersila, terus kita duduk di
 pangkuan,
  > sambil mereka bacakan ayat-ayat yang memang kami sendiri tidak
  > mengerti. Terus mereka siram air satu ember dari kepala. Itu semua
  > dari orang tua-tua sampai kepada bayi pun dilakukan hal yang sama.
  > Kemudian kami dibagikan kain, baju, songkok juga, songkok a la
  > Muslim. Jadi setelah itu esoknya, hari Minggu sampai kedatangan
  > bantuan dari Ambon 1 Desember itu, kami diancam terus tiap hari.
  > Orang-orang Muslim dari kampung sekitar Kardomin itu setiap saat
  > mengancam kami harus dibantai. Bahkan sampai mereka itu merusak
  > kaca-kaca mesjid. Kaca-kaca berantakan.
  >
  > RN:  Kenapa warga kampung Muslim di sekitarnya itu mengancam akan
  > membantai orang Kristen yang baru diislamkan?
  >
  > WK: Karena menurut mereka itu, kami ini hanya Islam KTP saja. Jadi
  > sebaiknya dihabiskan saja. Tapi toh akhirnya diusahakan sampai tidak
  > terjadi pembantaian saat itu. Sampai tim keamanan dari Ambon tiba 1
  > Desember. Tim itu diperintahkan oleh penguasa darurat sipil itu
  > dengan bantuan kapal Sinta ditambah dengan 20 orang aparat. Ditambah
  > juga dengan keluarga-keluarga yang berdomisili di Ambon sana ikut
  > dalam perjalanan ke Kasui. Tapi waktu aparat tiba, itu
 kondisinya kan
  > sudah lain. Aparat pikir kami semua masih di hutan atau masih
  > biasa-biasa, yang Kristen tetap Kristen yang Islam tetap Islam. Tapi
  > sebenarnya kondisinya sudah lain. Kami semua sudah bersongkok. Kami
  > memang melaksanakan perintah yang masih manusiawi, sehingga tidak
  > perlu memaksa tetapi kami ambil kebijakan yang terbaik. Jadi di
  > halaman mesjid dikasih tahu yang mau berangkat itu keluar dari dalam
  > mesjid, yang mau tinggal tetap saja di dalam mesjid. Yang mau
  > berangkat kapalnya sudah siap.
  >
  > RN: Kenapa kok tidak semuanya berangkat naik kapal itu. Kok ada yang
  > masih tetap tinggal di mesjid, Pak?
  >
  > WK: Nah, karena semuanya sudah diislamkan, jadi aparat pikir jangan
  > dipaksakan berangkat kalau begitu. Sehingga bahasanya bahwa yang
  > tinggal, tetap saja di mesjid dan yang berangkat diminta menuju ke
  > halaman supaya diangkut dengan kapal itu. Setelah komando itu hampir
  > semua orang turun ke halaman. Pada saat itulah mereka punya guru
  > mengaji ini marah-marah. Katanya mereka itu sudah setengah mati dari
  > hutan, sampai di kampung kok mau keluar lagi dari kampung. Nah, pada
  > saat itu di luar pagar mesjid itu massa sudah banyak. Dan mereka
  > langsung berteriak Allahuakbar sambil lari ambil senjata, parang,
  > bom. Pasukan jihad langsung masuk. Kocar-kacir saat itu. Dan aparat
  > tidak bisa berbuat apa-apa. Karena kalau mereka bertindak lebih dari
  > itu berarti menambah korban, dalam arti kami yang dari dalam mesjid
  > itu bisa habis. Sehingga aparat mengalah dan kami semua
 disuruh masuk
  > kembali ke dalam mesjid. Sehingga seorangpun tidak jadi
 berangkat. Di
  > luar massa berteriak satu berangkat yang lain nanti kita
 bunuh, lebih
  > baik kita kasih habis. Jadi semuanya terkurung dalam mesjid. Sampai
  > saya dapat keluar dari mesjid menuju ke Ambon itu berkat perjuangan
  > isteri saya.
  >
  > RN: Islamisasi itu juga pakai sunatan segala, Pak?
  >
  > WK: Sunatan di kampung saya belum terjadi, tapi di kampung
 Uta sudah.
  > Esoknya setelah dimandikan itu kami diperintahkan untuk ganti nama,
  > nama Kristen menjadi nama Islam.
  >
  > Demikian tadi kisah seorang warga kristen di pulau Kasui yang
  > mengalami proses islamisasi.



 ................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia...............
 Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
 Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
 Keluar: [EMAIL PROTECTED]

 ->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini,
 http://www.indokado.com

















................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia...............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com 















Kirim email ke