Semoga tidak menambah heboh ... ------------- Dari ERAMUSLIM.COM Mantan Tapol Kasus Imran/Woyla 1981, Umar Abduh, Bongkar Eksekutor Bom Natal Tgl. publikasi: 16/1/2001 09:08 WIB Embrio Tragedi Lampung Kedua Oleh Umar Abduh Salah seorang kawan saya bercerita dengan perasaan gundah gulana. Pasalnya, menjelang Lebaran lalu anak lelakinya yang menuntut ilmu di salah satu pesantren di Jawa Barat, mengajukan pertanyaan yang tergolong aneh: "Pak, bagaimana kalau saya membunuh tentara?" Sang bapak tentu saja tersentak dengan pertanyaan seperti itu. Belum sempat pertanyaan aneh itu dijawab, sang anak sudah nyerocos tentang berbagai hal yang tak jauh dari tema jihad. "Saya ingin berjihad. Kalau tidak ke Ambon, ya di sini saja." Menurut sang anak, teman-temannya sesama santri sudah siap jihad. Begitu juga dengan masyarakat sekitar pesantren, sudah siap angkat senjata, siap melakukan penyerangan terhadap tentara. Selain itu, mereka juga sudah mengetahui adanya rencana peledakan (yang kemudian terbukti terjadi di malam Natal), sejak jauh hari dan bahkan diminta partisipasi aktifnya oleh seseorang. Berdasarkan penuturan sang anak, bisa dirasakan adanya suasana yang sedemikian panas di lingkungan pesantren tertentu di Jawa Barat. Suasana sangat panas di sejumlah pesantren itu juga digambarkan oleh beberapa staff sebuah yayasan yang menaungi lembaga penelitian Islam di Jakarta, ketika mereka pulang kampung seminggu menjelang Idul Fitri 1421 H lalu. Bahkan saking panasnya, mereka yang merasa sudah siap jihad itu dengan agak gusar sempat mempertanyakan sejauhmana kesiapan orang Jakarta untuk berjihad dan mati syahid. Memang pada akhirnya mereka tidak melakukan apa-apa, tidak membunuh tentara dan tidak pula terlibat upaya peledakan di malam Natal lalu, namun mereka pada saat itu, setidaknya seminggu menjelang Idul Fitri, sudah dalam keadaan siap-siaga penuh: menunggu komando dari seseorang untuk bergerak. Suasana panas dan siap menunggu komando itu, setidaknya terjadi di beberapa pesantren di Jawa Barat, khususnya beberapa pesantren di sekitar Garut, Tasikmalaya, Ciamis sampai ke arah Banjar. Di salah satu pesantren di sekitar Garut, para santrinya bahkan sudah mendapatkan semacam brosur (dokumen) tentang jenis-jenis senjata yang akan dipasok kepada mereka, dalam rangka melakukan perlawanan terhadap tentara. Termasuk dokumen tentang rencana gerakan yang akan dilakukan kelak. Para santri di pesantren itu yang semula awam tentang jenis-jenis senjata, ketika itu justru nampak faseh menjelaskan jenis-jenis dan fungsi senjata, yang panjang, yang pendek, yang canggih, standar Jerman atau bukan, dan sebagainya. Jika kasus peledakan malam Natal tidak jelas sasarannya, karena hampir seluruh ledakan terjadi di luar areal gereja, untuk kasus ini begitu jelas sasarannya yaitu tentara. Nampaknya ada upaya (skenario) menghadapkan komunitas Islam pergerakan (dan komunitas presantren) dengan tentara. Tiga Bulan Sebelum Bom Natal Sekitar tiga bulan sebelum kasus peledakan malam Natal terjadi, seorang lelaki muda berinisial NH, kita sebut saja demikian, nampak rajin melakukan kunjungan ke berbagai kelompok dan perorangan yang pernah terlibat dalam pergerakan (Islam) lama maupun baru, terutama di kawasan Jabotabek. Mata-rantai NH adalah AM dan GT yang merupakan tokoh jalur struktural yang sudah memisahkan diri dari induknya yakni NII faksi TRB dan Dd, yang berbasis di Garut. Selain me-lobby ia juga menawarkan gagasan melakukan perlawanan (provokasi) karena menurutnya keadaan sudah sedemikian genting dan mengancam eksistensi ummat Islam, sehingga perlu dihadapi dengan sebuah perlawanan serentak. Mata-rantai NH itu selalu membawa-bawa brosur senjata, dan bahkan kepada setiap orang pesantren (maupun perorangan) yang didatanginya ia berusaha meyakinkan bahwa pasokan senjata sudah sampai tahap siap kirim. Sekali waktu, sebelum bom malam Natal meledak, NH pernah mengunjungi seorang tokoh Islam. Tak berapa lama datang menyusul seseorang yang diakui sebagai teman NH namun tidak dikenal sang tokoh Islam. Kepada sang tokoh Islam, teman NH itu berusaha menitipkan dua pucuk M-16, tetapi sang tokoh menolak. Karena ditolak, kemudian NH dan temannya itu pergi dari rumah sang tokoh Islam tadi. Informasi mengenai NH dan mata-rantainya ini, sejak awal-awal kejadian kasus malam Natal 24 Desember 2000 sudah diketahui oleh berbagai kalangan, tidak saja oleh kalangan intelijen, juga aktivis Islam yang concern terhadap masalah ini. Siapa NH ini? Ia adalah mantan Karateka Nasional dan pernah bekerja di Bea Cukai. Pernah mendekam di penjara untuk kasus Talangsari (Lampung) yang meledak di bulan Februari 1989. NH adalah tokoh kunci kasus Talangsari (Lampung). Ia berhasil memprovokasi Warsidi, pemilik lahan sekitar 1,5 hektar yang dijadikannya sebagai basis perlawanan dan pemberontakan terhadap pemerintah dan ABRI kala itu. Ketika itu NH berhasil memperdaya dan memprovokasi Warsidi, sehingga Warsidi yang semula buta politik dan tidak radikal menjadi 'ngerti' politik sekaligus radikal. NH berhasil pula memprovokasi sejumlah orang dari Jawa untuk 'hijrah' ke Talangsari dan mempersiapkan diri untuk 'berjihad' melawan pemerintah dan ABRI. NH berhasil meyakinkan Warsidi dan puluhan orang lainnya, antara lain dikatakan bahwa bantuan senjata siap dikirim sebanyak satu kontainer, sehingga dengan senjata itu Warsidi dan kawan-kawan bisa dengan mudah melakukan perlawanan terhadap ABRI, dan menguasai Bakauheni (pelabuhan yang menghubungkan Jawa dengan Sumatera). Ketika bentrokan antara jamaah Warsidi dengan aparat yang dibantu warga setempat terjadi, NH ketika itu justru tidak berada di lokasi kejadian. Ia tetap di Jakarta ketika sejumlah nyawa meregang dari tubuhnya. Nampaknya, kini NH hendak mengulang sukses yang pernah dibukukannya di tahun 1989 dulu. Ia melalui mata-rantainya sempat berhasil membawa api ke berbagai pesantren di sekitar Garut, Tasikmalaya, Ciamis dan Banjar, untuk bersiap-siap melakukan perlawanan terhadap tentara, sebagaimana pernah berhasil dilakukannya terhadap Warsidi dan jamaahnya. Kali ini ia gagal. Yang kemudian mendesak di benak adalah, siapa membekingi NH sehingga ia dan mata-rantainya begitu mudah membawa-bawa brosur berbagai jenis senjata bahkan berikut contohnya? Adakah ia salah satu pion aparat yang bertugas melakukan pembusukan ke dalam tubuh ummat Islam, sekaligus berperan menjalankan politik pecah-belah? Selepas menjalani masa tahanannya karena terlibat kasus Talangsari(Lampung), NH menjadi petualang. Ia sempat menikmati 'uang santunan' dari Hendropriyono yang berkepentingan agar kasus Talangsari tidak diungkap. Kemudian NH pernah pula oleh aparat 'ditugaskan' untuk membentuk Pam Swakarsa. Oleh Baramuli NH pernah dibayar untuk mengerahkan milisi sipil dalam rangka mendukung Habibie. Tentu saja itu semua dilakukan dengan imbalan yang cukup besar. Kabar terakhir mengatakan, NH dan mata-rantainya mempunyai peranan yang jelas dalam kasus peledakan 24 Desember 2000, khususnya untuk daerah Jakarta dan Jawa Barat. Sedangkan untuk daerah lainnya dikoordinasikan oleh selain NH. Di daerah lain, tipikal pelaku peledakan berbeda dengan Jakarta dan jawa Barat, yaitu ada diantaranya yang mengenakan anting-anting, yang menyiratkan bahwa pelakunya dari kalangan preman, kriminal, dan sebagainya. Nampaknya, NH diberi otoritas untuk membuat teror hanya di Jakarta dan Jawa Barat saja, tentunya ada kelompok lain yang juga diberi otoritas yang sama untuk melakukan hal serupa di daerah-daerah lainnya. Namun mengapa hanya jalur NH saja yang bisa terungkap sedangkan lainnya tidak? Nampaknya jebakan ala Komando Jihad dan kasus Talangsari (Lampung 1989) serta tragedi Priok 1984 hendak diulang kembali. Sebagaimana diberitakan media massa, sebagian pelaku peledakan di Jakarta dan Jawa Barat adalah alumni Afghan, dan mereka itu adalah mata-rantai NH-AM-GT yang bermarkas di Garut. Keterlibatan mereka adalah sebagai pribadi (sama sekali tanpa sepengetahuan lembaga dimana mereka bernaung). Anehnya, informasi tentang keterlibatan mata-rantai NH ini pada kasus peledakan malam Natal itu --dalam tempo sangat singkat-- sudah menjadi konsumsi umum di kalangan intel dan aktivis Islam, sehingga menimbulkan rasa heran. Mengapa begitu cepat, dan mengapa hanya jalur NH (Jakarta dan Jawa Barat) saja yang terungkap sedangkan jalur lainnya tidak terungkap padahal kasus peledakan itu terjadi hampir serentak di berbagai wilayah? Dalam menjalankan aksinya untuk meyakinkan para tokoh lembaga Islam dan tokoh Islam (perorangan) yang concern pada derakan-gerakan Islam, NH selalu ke mana-mana mencatut nama tokoh-tokoh dari lembaga Islam tertentu. Antara lain ia membawa-bawa nama tokoh Majelis Mujahidin seperti Mursalin, Qadir Baradja, Baasyir dan sebagainya. Padahal, tokoh-tokoh itu tidak mungkin bersentuhan dengan petualang dan pecundang semacam NH dan mata-rantainya (AM dan GT). Bahkan konon ketika NH melamar menjadi aktivis Majelis Mujahidin, ia dipersilakan keluar, mengingat track record-nya yang tercela. Dapat disimpulkan, bahwa melalui kasus peledakan malam Natal lalu, nampaknya ada skenario ingin membenturkan antara kalangan Islam dengan tentara, dan antara kalangan Islam dengan Kristen. Termasuk adanya upaya stigmatisasi terhadap gerakan Islam dengan pola ala Komando Jihad dan sebagainya. Ummat Islam sudah seharusnya bersatu untuk mengungkap gerak-langkah petualang politik semacam NH ini, dalam rangka menghindarkan timbulnya korban jiwa dari kalangan rakyat tak berdosa, sebagaimana pernah terjadi pada kasus Komando Jihad, Lampung, Priok dan sebagainya. Sementara rakyat tak berdosa mati sia-sia, sang petualang dan provokator justru menerima imbalan untuk hidup bersenang-senang. Jakarta, 15 Januari 2001 [EMAIL PROTECTED] Catatan: Redaksi eramuslim telah mengkonfirmasi langsung email ini kepada yang bersangkutan. ................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia............... Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] ->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com
