mudah-mudahan nambah inpormasi dan diskusi. salam satu nusa, satu bangsa, satu bahasa, indonesia reformasi. ------Original Message------ From: "Rofiqoh Khadayatun" <[EMAIL PROTECTED]> Sent: January 19, 2001 3:03:54 AM GMT Subject: Gerombolan Pengebom In a message dated 1/18/01 7:58:20 AM Mountain Standard Time, YOU write: > Memang rada njelimet ya analisa politiknya. Saya saja kalau di fraksi suka > rada bingung. Banyak teman2 terutama yang tua selalu mengkaitkan dengan > politik aliran. Yang mereka yakini selalu ujung2nya islam dan nasionalis. > Saya enggak tahu kenapa mereka tidak terus ke nasakom, kalau memang itu dari > Soekarnoismenya. Maklum di partai saya kan mayoritas gmni, pni atau > soekarnoislah. Tapi kadang2 mereka juga sangat sentimentil sekali dengan > partai lain terutama golkar. Jadi enggak mau tahu dengan para nasionalis > yang di partai lain. Masyarakat kita itu salah satu masyarakat yang paling kompleks di dunia. Luar biasa dalamnya akar ikatan primordial: suku, agama, ras dan kedaerahan. Memang biasanya nggak muncul, tapi setiap saat yang genting ikatan atau paling tidak sentimen itu langsung muncul karena akarnya memang dalam sekali. Akar politiknya mulai menyebar sejak IP lahir tahun 1911, lalu disusul SI (1912), Muhammadiyah (1917), PKI (1920), NU (1926), PNI (1927), dst. Sudah hampir satu abad jadi akarnya sudah dalam sekali. Aktivis politik biasanya punya akar ke salah satu ikatan primordial atau ikatan politik itu. Malahan banyak yang punya akar macem-macem. Itu juga ciri aktivis politik dalam masyarakat kita. Yang menyolok, hampir semua ikatan politik atau primordial yang sudah hidup di kalangan rakyat puluhan tahun itu bisa hidup berdampingan dengan damai. Salah satu contoh yang sangat jelas itu Sumpah Pemuda. Nggak ada tradisi saling hantam. Yang dikedepankan itu kesamaan-kesamaan. Bahkan perlawanan terhadap kolonial juga dilakukan dengan cara-cara damai, cara-cara politik yang modern. Seperti bikin parpol, LSM (Muhammadiyah dan NU itu dua LSM paling tua dan paling besar di Indonesia, akarnya dalam sekali), jual kecap lewat koran, rapat umum, apel akbar, sumpah pemuda, pernyataan sikap, dsb. Hanya sekali PKI angkat senjata (Pemberontakan 1926), dan itupun karena sudah kepepet, bukan direncanakan mateng mengikuti suatu strategi. Politik kita menjadi mulai berdarah karena pengaruh luar. Salah satu titik balik adalah Peristiwa Madiun (1948) yang terjadinya sangat dipengaruhi konflik pada awal Perang Dingin. Itulah pertama kali TNI, PKI, Masyumi, PNI, saling bunuh-membunuh. Lalu konflik berdarah yang lebih besar terjadi lagi dalam Perang Saudara: pemberontakan PRRI/Permesta dan DI-TII pada akhir 50-an. Jumlah korban Perang Saudara ini masih dalam bilangan beberapa ribu orang baik yang di Sumbar, Sulut, Sulsel maupun di Jabar. Dan itu bener-bener perang karena kedua belah pihak punya senjata, punya pasukan. Politik kita baru betul-betul banjir darah dalam pembunuhan massal 1965. Ratusan ribu rakyat tidak berdosa dibunuh seperti hewan. Ini bisa terjadi karena aktor utama politik waktu itu adalah Angkatan Darat. Bung Karno cuma simbol. Yang betul-betul pegang kekuasaan adalah Angkatan Darat. Mirip sekarang ini. Gus Dur itu presiden tapi hampir semua perintahnya -- adili Geng Cendana, usut perkara ini-itu, tenangkan Aceh, Ambon, Irian, dsb -- nggak jalan karena yang sebenernya berkuasa itu tetap Angkatan Darat. Dan kaum militer ini yang paling jago memainkan ikatan primordial dan politik aliran itu. Kalau cuma kelompok politisi sipil yang bermain, seperti dalam Debat Konstituante 1956-59, memang ada perdebatan keras sekali. Tapi mereka nggak saling bunuh. Mereka nggak saling curiga. Masing-masing punya sikap, pandangan politik, ideologi, dsb, yang dinyatakan terang-terangan. Debatnya bisa keras sekali, nggak jarang ada yang gebrak meja. Tapi setelah itu, makan siang sama-sama. Kalau sekarang jadi banyak yang ahli main bakar, main bunuh, main bom, fitnah, culik, perkosaan massal, menghilangkan orang, dsb, itu karena mereka belajar dari gaya politiknya militer. Militer mesti main begitu karena kalau dia ikut pemilu yang jujur, yah dapat suaranya paling-paling berapa persen? Dalam Pemilu-55, IPKI yaitu parpolnya Angkatan Darat pimpinan Nasution, itu pemilihnya cuma 1,4%. Sekarang, kalau tentara bikin parpol, jumlah pemilihnya nggak bakalan beda jauh. Karena itu untuk berkuasa mereka mesti pakai cara-cara "lain." Ngumpet di belakang Golkar, itu cara yang sangat efektif selama Orba. Kalau sudah nggak bisa lagi, karena topengnya sudah dibongkar oleh gerakan mahasiswa, ya mesti pakai cara lain lagi. Ngebom, misalnya. ______________________________________________ FREE Personalized Email at Mail.com Sign up at http://www.mail.com/?sr=signup
................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia............... Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] ->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com
