Ini namanya Sosialis malu-malu, ngak pernah ngadepin rakyat.
Ngak pernah digebuk tentara. Ngak pernah menuntut bersama
rakyat. Tetapi ngedekem mulu di kampus dan kafe sampil
baca buku-buku tiori. Ketika semua orang udah pada demo dia baru ikut-ikut
lalu meralat sendiri tiorinya. Penyakit Intelektual kita?
Belum ada intelektual kiri Macam Gramci dan contoh lainnya ketika terjadi
kemelut paris 68, Juga terlibat aktif berorasi, pasti anda mengerti yang
saya maksud.

Dulu sebenarnya saya mengharapkan Amien dia doctor (dosen)
tetapi juga orator. Sayang basis sejarah dan kehidupannya mencong, Dekat
dengan ICMI, Dekat dengan Habibie dan otomatis guru besar Naionalis Agama
(Fasis) Jerman.

Jaman sukarno dahulu juga ada kelompok semacam ini.
Ini namanya kelompok malu-malu (sory ya). Tetapi kemudian
pada jaman Suharto kelompok ini juga dilibasnya. Dibunuh
dan dipenjarakan.

MYP


----- Original Message -----
From: Heriansyah Latief <[EMAIL PROTECTED]>
To: penyair penyair <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: 22 Januari 2001 19:31
Subject: [indonesia_damai] Re: [msi-penyair] Posisi Ekonomi Kita.doc


>
> ngebaca tulisan pak ikra, gua jadi bingung nih, bahwa sosialisme bisa jadi
> keuntungan jika dibumbuin sedikit kapitalisme [seperti belanda lah], wah
> bahaya itu, kata ada kawan bule disini, yang bilang bahwa bangsa-bangsa di
> indonesia, musti bersatu dulu, saling toleransi, anti rasisme dan
beritikad
> ingin membangun bangsa dan negara yang kuat, baru bisa ngomong soal sistim
> ekonomi.
>
> persatuan dikalangan rakyat banyak, bisa dimulai dari pendidikan, mulai
dari
> sekolah dasar, ditanamkan rasa persatuan, seperti jaman tahun 20 an,
ketika
> datuk tan malaka dkk nya mendirikan sekolah rakyat. yang diadopsi oleh
rejim
> orba dengan nama sekolah dasar [dan mengganti warna kerakyatan nya dengan
> warna pancasila].
>
> di sekolah rakyat ini lah, sistim koperasi bisa dimulai, inilah titik awal
> dari calon intelektual yang akan datang, dimana anak-anak diajarkan dan
ikut
> praktek dalam sistim koperasi, sehingga mereka terlatih untuk berfikir
> demokrasi dan toleransi.
>
> gua yang pernah tinggal di jerman barat dan sekarang tinggal di belanda,
> melihat bahwa, sistim apapun juga, di jaman sekarang hanya mencari
> keuntungan, buat diri sendiri. bukankah spd di jerman, ataw pvda di
belanda,
> semua nya sama, mengabdi pada sistim ekonomi pasar, dus muter-muter
ngomong
> sistim ekonomi, kita pun musti mengerti bahwa indonesia, adalah contoh
> paling buruk, dari kegagalan para ekonom klas mafia b, yang merasa telah
> menyelamatkan indonesia, padahal : menjual indonesia dengan harga sangat
> murah.
>
> kita seperti lonte klas pinggir kali malang, ketimbang call girl yang
musti
> nya tauk bahwa punya badan yang aduhai, bernama indonesia yang penuh
berisi
> mineral apapun juga.
>
> tanah kita mengandung harta luwar biasa. dan itu di bagi-bagi-kan se-enak
> udel nya para pemimpin, sejak jaman 1945 sampai saat ini. nggak berhenti,
> karena kita nggak pernah punya yang nama nya demokrasi yang universil,
kita
> hanya punya eksprimen demokrasi lokal ...., sok merasa laen dari orang
> barat. jadi banyak embel-embel yang menghalangi demokrasi di indonesia,
> seperti tradisi dan agama, yang nggak mao mengakui bahwa jaman sekarang,
> bukan lagi berkelit dengan alasan agama dan tradisi, tapi jaman yang
meminta
> kebebasan tanpa syarat.
>
> setelah kita bebas berfikir, barulah bisa ngoceh demokrasi. lihat lah, apa
> arti nya reformasi ? Russia sudah coba-coba, hasil nya adalah model
seperti
> poetin, yang memerintah dengan tangan besi.
>
> siapapun yang berkuasa di indonesia, akan menghadapi krisis kejiwaan
bangsa
> yang sangat parah, jika ingin diobati, sangat sulit, karena pendidikan
bebas
> sejak sekolah rakyat, nggak bisa di terapkan, kita punya mental bertopeng,
> jiwa yang suka munafik, lebih dipentingkan harta dan kedudukan [kekuasaan,
> korupsi], lalu urat malu kita sudah putusssz ..., biadab, buas dan barbar.
> itulah kita.
>
>
> salam
> heri latief
> ----- Original Message -----
> From: Ikranagara <[EMAIL PROTECTED]>
> To: msi penyair <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Monday, January 22, 2001 7:26 AM
> Subject: [msi-penyair] Posisi Ekonomi Kita.doc
>
>
> > Posisi Ekonomi Kita
> > Catatan: Ikranagara
> >
> > Maaf saja, kalau dalam tulisan saya ini banyak buku yang akan saya
> sarankan Anda untuk membacanya. Mungkin juga tulisan ini akan saya kirim
ke
> Emil Salim-dia orang penting yang harus saya informasikan tentang bahaya
> IMF. Anda juga orang penting, juga seluruh rakyat Indonesia adalah orang
> penting.
> >
> > Emil Salim dan Kapitalisme
> > Emil Salim sendiri adalah salah seorang arsitek ekonomi Orde Baru. Dia
> belajar ekonomi di AS, dulu! (kata 'dulu' ini penting, lawan dari kata
> 'sekarang'. 'Dulu' tidak ada pemikiran alternatif terhadap teori-teori
> ekonomi Kapitalisme, kecuali Komunisme-tapi 'sekarang' ada yang tergolong
> alternatif ini).
> > Apa yang dilakukan Orde Baru di bidang ekonomi harus diakui 'berhasil',
> atau sebuah boom, sehingga Indonesia termasuk salah satu Asian Miracle
> sebagaimana diungkapkan dalam banyak buku, antara lain buku Jose Edgardo
> Campos dan Hilton L Root berjudul seronok The Key to the Asian Miracle -
> making shared growth credible (The Brookings Institution, 1996, Washington
> DC). Tapi kemudian mengalami bust alias runtuh. Polarisasinya memang
begitu,
> boom dan bust. AS sendiri mengalaminya berkali-kali, antara lain
diungkapkan
> dalam buku Charles R Morris berjudul Money, Greed, and Risk (Random House
> Inc, 1999, New York).
> > Yang terjadi di AS sekarang pun sama, sebuah booming dalam ekonominya,
> sebuah sukses! Clinton membangga-banggakan sukses pemerintahannya ini.
Tapi,
> ini diramalkan akan runtuh juga, alias bust, karena kenyataannya booming
ini
> bukan hanya menunjukkan 'sukses', melainkan juga sebuah kegagalan,
> sebagaimana diungkapkan oleh Holly Sklar dalam Booming Economic
Inequality,
> Falling Voter Turnout-income gaps have grown (Z Magazine, edisi Maret
2000).
> > Jadi, apa yang dilakukan oleh pemerintahan Dur-Mega di bidang ekonomi di
> Indonesia di bawah bimbingan Emil Salim tak akan berbeda dengan yang
> dilakukan Suharto di zaman Orde Baru juga. Boom ekonomi akan terjadi
> kembali, tetapi di saat yang sama adalah kesenjangan ekonomi akan
membengkak
> juga, selain lingkungan hidup kita akan tetap (makin) rusak.
> > Ketika terjadi kolaps seperti dua tahun yang lalu, maka yang menderita
> adalah rakyat banyak yang tidak kebagian 'kue pembangunan' (pinjam istilah
> dari zaman Orde Baru). Yang berjaya nanti tentulah para konglomerat,
> sebagaimana mereka yang berjaya di zaman Orde Baru, dan mereka ini sampai
> sekarang pun banyak yang masih menikmati hasil 'kue pembangunan' dari
zaman
> Orde Baru, mereka ini ada di Indonesia dan sebagian besar (dari jumlah
> segelintir bangsa Indonesia itu) ada di luar negeri.
> > Nah, mereka ini juga kan bangsa kita, dan sadarlah Anda sekarang bahwa
> yang diuntungkan oleh kiprah ekonomi a la Emil Salim ini hanya kelompok
> sejenis ini yang pasti akan lahir juga nanti di Zaman Dur-Mega ini,
> jumlahnya juga akan segelintir saja tapi aset terbesar ekonomi kita akan
> berada di dalam genggaman tangan mereka, dan kemudian kalau terjadi
apa-apa
> (bust, misalnya)  mereka bisa lari ke luar negeri dan ikut bersama mereka
> adalah kapital mereka yang merupakan kue pembangunan bangsa kita juga.
Tapi
> bagaimana dengan bagian bangsa kita yang lain, yang jumlahnya terbesar
> malah?
> > Gus Dur memang dijagoi sebagai pembela kaum minoritas (baca: minoritas
> dalam jumlah sensus penduduk, bukan jumlah simpanan di bank), tapi ini tak
> ada hubungannya dengan yang saya maksudkan, Bung-saya tidak punya sikap
> rasialis dalam segala levelnya. Konglomerat itu nyatanya kan lintas agama,
> suku/ras, dan usia, tapi memiliki satu persamaan: Mereka semua dekat
dengan
> kekuasaan di pusat pemerintahan (tingkat nasional maupun daerah), dengan
> melakukan pendekatan 'semua cara adalah sah'.
> > Sedangkan teori (atau lebih tepat disebut sebagai janji atau ninabobo)
> trickle down tidak terbukti pernah terjadi di mana saja. Bahkan di AS
> sendiri kesenjangan ekonomi tetap terjadi, malah gap-nya makin melebar
> sekarang. Dan gap ini memang ada di mana-mana. Bahkan antara sejumlah
negara
> tertentu (beberapa gelintir saja jumlahnya) di satu pihak dengan
> negara-negara yang banyak jumlahnya di pihak lain pun gap ini makin jelas.
> Studi tetnang masalah gap di lingkungan nasional dan internasional ini pun
> banyak dibahas, antara lain di dalam buku Barbara Ward berjudul The
Widening
> Gap (Columbia University Press, 1971, New York dan London).
> > Sejarah ekonomi Orde Baru akan terulang kembali, maka pertanyaan kita:
> Apakah lingkaran setan ini kita biarkan bercokol di dalam roda sejarah?
> (Tentu, ini akan membawa pembicaraan kita ke pelataran filsafat, dan
> sejumlah buku lain tentulah perlu dipakai, tapi mengungkapkan buku bacaan
> bukan maksudnya gagah-gagahan, kan? Melainkan agar kita tidak dikatakan
> melakukan pelanggaran terhadap intellectual right.) Jadi, dengan
pemerintah
> Dur-Mega memilih Emil Salim sebagai penasehat ekonomi sekarang ini, maka
> jelas sekali kesimpulan saya itu beralasan, bahwa apa yang dilakukan
> Dur-Mega tak ubahnya dengan yang telah dilakukan Suharto dengan Orde
> Barunya. Orang yang dipilihnya saja sama kok-dan wawasannya juga sama,
> wawasan dari masa 'dulu' itu!
> > Jadi LOI itu memang bisa dikatakan menguntungkan kita, tetapi 'kita'
dalam
> hal ini siapa?
> >
> >
> > Nasionalisme dan Naivitas
> > Memang, ada bedanya antara Suharto dan Dur-Mega; Suharto itu otoriter,
> Dur-Mega demokrat. Ada suara yang mengatakan, kegagalan Suharto itu karena
> tidak adanya demokrasi. Jadi, kapitalisme (ekonomi) haruslah didampingi
> dengan demokrasi (politik). Teori ini kemudian dikait-kaitkan dengan ada
> tidaknya kelas menengah.
> > Kritik terhadap teori ini sudah banyak dilontarkan orang, baik di
> pelataran teori maupun praktiknya. Kalangan IFG (the International Forum
on
> Globalization) yang anggota intinya sekitar 40 orang ahli di berbagai
bidang
> dan berasal dari berbagai negara itu telah membahas masalah ini sebagai
> bagian dari masalah yang lebih luas lagi dari dampak negatif globalisasi
> ekonomi di banyak bidang kehidupan masa kini maupun masa depan nanti.
> > Bacalah salah satu buku kelompok ini, berjudul The Case Against Global
> Economy-and for a turn toward the local (Sierra Club Books, 1996, San
> Francisco) hasil suntingan Jerry Mander dan Edward Glodsmith. Bahkan Soros
> sendiri yang gandrung kepada kapitalisme itu, dalam bukunya berjudul The
> Crisis of Global Capitalism (Public Affairs, 1998, New York) menyimpulkan
> antara kapitalisme dan demokrasi itu tidak ada hubungannya.
> > Kapitalisme itu dasarnya pragmatisme, karenanya kalau demokrasi bisa
> menguntungkan tujuan sang kapitalis ya dipakai, kalau tidak ya pakai saja
> diktator. Lewat diktator yang sekaligus koruptor maka LOI bisa disesuaikan
> dengan keinginan sang kapitalis dengan jauh lebih mudah, tidak ada yang
> berani untuk cerewet buka mulut karena takut kepada sang diktator. Maka,
> herankah kita jika yang seperti Suharto pun dipakai, tidak perlu yang
> demokrat seperti Gus Dur.
> > Lebih dari itu, Kapitalisme Global ini juga melahirkan sikap tidak
beradab
> lagi di kalangan pebisnis tingkat nasional maupun internasional, sehingga
> muncul istilah 'binatang ekonomi'. Bacalah buku karangan Robert L
Heilbroner
> yang memaparkan hal ini, berjudul Business Civilization in Decline (WW
> Norton & Company, Inc, 1976, New York), selain itu juga baca buku karya
> Ralph Nader, Mark Green dan Joel Seligman berjudul Taming the Giant
> Corporation (WW Norton & Company, Inc, 1976) dan karya Gerald F Cavanagh
dan
> Arthur Mc-Govern berjudul Ethical Dilemmas in the Modern Corporation
> (Pretince-Hall, Inc, 1988, New Jersey).
> > Rupanya John Kenneth Galbraith pun sudah melakukan kritiknya terhadap
> Kapitalisme Pasar yang sekarang menjadi dasar Kapitalisme Global dalam
> sejumlah bukunya (American Capitalism, 1952; Affluent Society, 1958; The
New
> Industrial State, 1967; Economics, Peace and Laughter, 1971; Economics and
> the Public Purpose, 1973;), sebagaimana yang dibahas dengan jitu oleh
David
> Reisman dalam Galbraith and Market Capitalism (New York University Press,
> 1980, New York dan London).
> > Dan David Reisman juga menyimpulkan bahwa yang diajukan oleh John
Kenneth
> Galbraith itu adalah sistem alternatif terhadap Kapitalisme Pasar tadi,
> yaitu sistem ekonomi yang lebih memiliki equal (dalam ekonomi), democracy
> (dalam poitik) dan human (dalam tatanan sosical). Daftar buku dan tulisan
> ini bisa diperpanjang.
> > Jadi, kalau saya mengeritik Dur-Mega, itu bukan berarti mereka itu tidak
> nasionalis. Malah menurut ukuran saya, Suharto pun nasionalis. Hanya saja,
> mereka itu sama-sama naiv karena kurang luasnya wawasan tentang masalah
ini.
> >
> >
> > Bung Hatta dan Mochtar Lubis
> > Kelirulah jika ada yang menduga saya ini pro Sukarno, apalagi sampai
> menjadi Neo-Sukarnois. Memang, ada persamaan dalam ideal, yaitu lahirnya
> demokrasi ekonomi. Tapi, bagaimana dengan demokrasi politik? Sukarno bagi
> saya adalah juga seorang diktator. Di zamannya (1959-1965), seakan-akan
> politik itu bebas, tetapi saya yang hidup di zaman itu, menyaksikan bahwa
> kebebasan hanya diberikan kepada mereka yang sejalan dengan dia saja,
> sedangkan yang berbeda dibabat habis.
> > Hatta yang kemudian tidak sejalan, karena menuntut tegaknya demokrasi
> lewat Liga Demokrasi bentukannya, dan buklet berjudul Demokrasi Kita,
> diberangus. Demikian juga koran-koran yang diberi label 'kontra revolusi'
> diberangus, malah MPR hasil pilihan rakyat dibubarkan. Dia bertangan besi,
> dan didukung oleh militer di bawah Jenderal AH  Nasution.
> > Gerakan revolusioner di bawah Sukarno memang sangat marak, sama dengan
> yang terjadi di RRC ataupun negeri-negeri komunis lainnya. Kesenian juga
> diberangus, kalau sudah diberi label 'kontra revolusi'. Ketika saya akan
> mementaskan drama Domba-domba Revolusi karya B Sularto di Banyuwangi waktu
> itu, tidak diizinkan oleh penguasa daerah yang mendapat dukungan dari
> Lekra/PKI. Buku dan piringan hitam saya di rumah orangtua saya di Bali
> dibakar oleh kelompok Pemuda Rakyat, Gerwani, Lekra yang semuanya di bawah
> payung PKI Bali. Itulah politik di zaman Orde Lama Sukarno. (Khusus
tentang
> ini saya telah menulis Catatan dari Pinggiran dimuat dalam majalah sastra
> Horison.) Jelas, saya bukan Sukarnois. Dan lagi, wawasan Sukarno waktu itu
> kan tergolong yang 'dulu' itu. Dunia cuma punya Kapitalisme dan Komunisme.
> Perang Dingin. Sukarno mengatakan Pancasila lebih baik dari keduanya, itu
> hanya di mulutnya saja. Dalam praktiknya dia anti demokrasi dan tidak
human
> dalam tindakannya. Bagaimana hasil Deklarasi Ekonomi yang digelorakan oleh
> Sukarno waktu itu? Hasilnya: pemerataan kemiskinan! Sukarno tidak tahu
> ekonomi, dia hanya tahu bagaimana menggelorakan semangat massa dengan
> pidatonya yang penuh retorik. Cuma itu!
> > Lalu, Marhaenisme-nya, kan itu bentuk Marxisme yang diterapkan sesuai
> dengan situasi dan kondisi Indonesia, Bung! Tanya saja sendiri kepada Bung
> Karno lewat tulisannya maupun pidatonya, kalau mau lebih jelas. Sedangkan
di
> mata saya Marxisme itu tidak valid bahkan sebagai filsafat. Ini sudah saya
> bahas dalam tulisan saya 'Posisi Budaya' dalam buku Agenda Bangsa Pasca 50
> Tahun Indonesia Merdeka (Cides, 1995, Jakarta).
> > Kalau pun ada pemimpin kita yang saya kagumi adalah Bung Hatta dan
Mochtar
> Lubis. Buklet Bung Hatta berjudul Demokrasi Kita sudah saya jadikan sumber
> lahirnya pertunjukan teater saya, berjudul Para Narator di TIM. Keberanian
> Mochtar Lubis sebagai wartawan melawan kezaliman Orla dan Orba saya
patrikan
> dalam pentas berjudul Sssst!!! juga ditampilkan di TIM. Bahkan tulisan
saya
> Ekonomi Kita (1998) itu judulnya mendapat imbas dari judul buklet Bung
Hatta
> itu. Kabarnya, buku-buku Hatta sekarang diterbitkan semua. Berapa jilid?
> Saya ingin sekali memilikinya, kalau bisa.
> > Nah, ketika Bung Hatta bermaksud mendirikan Partai Demokrasi Islam
> Indonesia setelah tumbangnya rezim Bung Karno, saya pun punya niat untuk
> masuk, selain karena tertarik kepada ide demokrasinya, juga kepada ide
> koperasinya. Saya percaya dia. Tapi sayang Suharto tidak memberikan izin!
> > Di Amerika sistem koperasi kini sedang menjamur. Anak sulung saya,
> Innosanto Nagara, yang tinggal di Berkeley sekarang menulis: "Co-op
sebagai
> alternatif terhadap Ekonomi Global". Saya sendiri sekarang menjadi anggota
> koperasi yang menjalankan bisnis sebuah supermarket swalayan di
Bloomington.
> Sebagai anggota, saya punya suara dalam rapat anggota. Dalam rapat yang
akan
> datang, saya akan mengusulkan agar supermarket itu menjual pancake untuk
> sarapan, juga sirup maple.
> > Selain itu saya akan mengusulkan agar makanan atau minuman yang dikemas
> dengan kaleng alumunium tidak lagi dijual di supermarket kami, karena akan
> bikin kepala jadi botak, begitu hasil riset ilmiah mutakhir. Singkatnya,
> saya sebagai anggota punya hak untuk buka mulut. Termasuk mengeritik dan
> menilai kerjanya pengurus pelaksana harian di supermarket itu.
> > Jelas, supermarket kami bukan sebuah chain yang besar seperti Kroger,
> misalnya, yang menjadi milik korporat nasional yang punya cabang di
seantero
> AS. Tapi pembelinya hanya diperlakukan sebagai konsumer saja: Mau beli
> silakan, tidak mau ya tidak apa-apa. Mulut tutup sajalah!
> > Tapi di supermarket kami, saya boleh buka suara, karenanya saya
> diperlakukan sebagai citizen. Anak sulung saya bekerja pada perusahaan
> percetakan dan penerbitan yang berbentuk 'co-op' juga. Di sana dia juga
> boleh buka suara. Misalnya kalau ada pertemuan akhir tahun, maka
keuntungan
> akhir tahun itu untuk apa? Tentu sebagian untuk bonus karyawan/pemilik.
Tapi
> juga harus disisakan untuk kepentingan kesejahteraan masyarakat di
> lingkungan tempat mereka bekerja. Misalnya untuk menolong kepentingan
sebuah
> sekolah dasar yang memang miskin. Atau juga untuk membantu pencetakan
poster
> sebuah LSM yang sedang gigih menyerang MacDonald karena sesuatu masalah
yang
> merugikan lingkungan hidup. Dan seterusnya.
> > Ini sekadar contoh-contoh kecil. Yang pasti adalah koperasi di AS itu
> bekerjanya secara business like. Anak sulung saya itu mengeritik koperasi
di
> Indonesia karena tidak business like. Selain itu, sistemnya cenderung
> seragam, dan hasil diktean dari atas, tidak buttom-up! Berbeda sekali
dengan
> yang di AS, yang sistemnya plural sekali, tergantung kepada situasi dan
> kondisinya.
> > Koperasi juga tidak harus kecil atau tergolong ekonomi lemah, tapi bisa
> besar. Misalnya yang di Itali, itu menangani industri baja. Yang di
Spanyol
> menangani banyak bidang, antara lain supermarket, rumah sakit dan sekolah.
> > Yang jelas, sistem 'co-op' ini tidak bergantung kepada Ekonomi Global.
> Kalau ada inflasi, yaitu resesi ekonomi yang menyebabkan banyak PHK,
mereka
> tenang-tenang saja, karena tidak ada PHK. Termasuk yang di Itali dan di
> Spanyol itu.
> > Sistem koperasi seperti itu termasuk salah satu alternatif yang sedang
> dipraktikkan di AS dan Eropa. Dan makin lama makin banyak jumlah dan
> ragamnya. Lama-lama semua korporat nasional itu akan tidak dikunjungi
> langgangan. Saya sudah amat sangat jarang ke supermarket milik korporat
> nasional itu, karena kebutuhan saya bisa dibeli di koperasi saya, dan
dapat
> potongan lagi! Selain secara ekonomi menguntungkan, juga secara kesehatan
> menguntungkan, kalau kita aktif dalam rapat-rapat anggota. Dan secara
> politik, kita punya akses untuk buka mulut.
> >
> >
> > Harta Haram dan Harta Halal
> > Kalau tidak salah, SU MPR kemarin menekankan agar pemerintah Dur-Mega
> mengutamakan pengusutan KKN yang terjadi di zaman Orde Baru. Dari sinilah
> Gus Dur mestinya memulai kerja pemerintahannya, bukan jalan-jalan ke luar
> negeri.
> > Dan saya kira yang diamanatkan oleh SU MPR itu sejalan dengan semangat
> reformasi yang melahirkan SU MPR itu. Tentu ini bukan berarti hanya
mengusut
> Suharto, melainkan juga kroni-kroninya, dan siapa saja yang terlibat ke
> dalam katagori melanggar hukum dalam memperkaya dirinya. Konglomerat (atau
> sudah mantan?) perlu diusut semua, kalau perlu!
> > Jadi, saya berpendapat (seperti sudah saya tulis dalam esai Ekonomi
Kita,
> 1998) bahwa siapa saja yang telah mendapatkan 'kue pembangunan' di zaman
> Orde Baru itu, harus pula diusut bagaimana cara mereka memperolehnya,
harus
> bisa dibuktikan oleh semua bahwa mereka menggunakan jalan yang sah dan
> dibenarkan oleh undang-undang, peraturan, dan moral kemanusiaan kita. Ya,
> harus dengan pembuktian terbalik.
> > Kalau pebisnis, maka diusut apakah mereka itu melakukan sogok-suap dan
> semacamnya. Kalau itu dilakukan, maka hukum pun harus bisa menjerat
mereka,
> apalagi kalau sampai negara dirugikan. Pengusutan ini tidak hanya terbatas
> pada mereka yang warganegara Indonesia (baik yang masih ada di Indonesia
> maupun yang ada di luar negeri), melainkan juga yang dari luar negeri,
> misalnya yang menguasai tambang di Tembagapura di Irian Jaya (warga
Amerika
> Serikat), atau di Maluku Utara (warga Australia), dan Lombok (warga
> Australia).
> > Pemerintah luar negeri tidak boleh ikut campur tangan, karena bisa saja
> peraturan kita berbeda dengan negeri mereka. Malah, yang luar negeri itu
> mungkin lebih mudah diusut, dan kalau terbukti melakukan tindakan yang
tidak
> patut, bukan hanya hukum Indonesia saja yang bisa menjerat mereka, tetapi
> hukum negeri mereka pun akan melakukan hal yang sama.
> > Singkatnya, dari pengusutan terhadap kasus kejahatan ekonomi itu, maka
> akan ketahuan apakah harta yang mereka miliki sekarang ini 'harta haram'
> atau 'harta halal'.
> > Kongres Amerika Serikat pernah menyarankan agar harta milik Suharto dan
> keluarganya itulah yang digunakan oleh pemerintah Indonesia untuk modal
> membangun kembali ekonomi Indonesia, bukan pinjam lagi kesana kemari. Gus
> Dur sendiri pun pernah mengatakan, kalau Suharto menyerahkan hartanya
kepada
> negara, maka akan diampuni semua dosanya kepada negara.
> > Artinya, ada dana di negeri kita (tapi memang, sebagian memang sudah
lari
> ke luar negeri bersama orang-orangnya, dan konon minta suaka politik di
> sana), yang kalau kita bisa peroleh kembali akan bisa dijadikan modal
> pembangunan negeri ini, kalau pemerintah mengutamakan penanganan masalah
KKN
> yang terjadi di zaman Orde Baru. Inilah yang kita jadikan modal. Bukan
> dengan meminta-minta dengan cara yang mengiba-iba bak pengemis (Mestinya
Gus
> Dur mengangkat Mahathir Mohammad sebagai penasehat dalam menghadapi
> Kapitalis Global, bukannya mengangkat Kissinger yang sekarang banyak
dihujat
> karena menjalankan politik McCarthyisme di percaturan politik
internasional
> itu.).
> > Modal lain tentulah sumberdaya alam kita yang kaya dan sumberdaya
manusia
> kita yang melimpah dan tidak mahal. Hanya saja, sistem ekonomi macam apa
> yang akan kita pakai?
> > Kalau kapitalisme seperti yang sudah dijalankan oleh Suharto, maka
memang
> akan ada hasilnya seperti juga yang telah kita saksikan di zaman Suharto
> itu, yaitu lahirnya konglomerat. Moral kaum kapitalis adalah mengutamakan
> keuntungan melimpah di atas segala-galanya, artinya manusia (baca: orang
> banyak) tidak penting, demikian juga lingkungan hidup. Baca buku The Case
> Against Global Economy ... itu, juga Profit over People karya Noam
Chomsky,
> dan A Short History of Neo-Liberalism (IFG Webside edisi April 2000) oleh
> Susan George dan Challenging Corporate Power (Z Magazine edisi Januari
2000)
> oleh David Barsamain.
> > Sistem itu selain menghasilkan segelintir konglomerat juga akan
melahirkan
> kesenjangan sosial-ekonomi yang membengkak. Teori bahwa akan terjadi
trickle
> down itu cuma omong kosong. Bagaimana nasib demokrasi? Pilar ini akan
> terancam juga (Bukankah Kantor Berita Nasional Antara kini sudah diambil
> alih oleh Gus Dur?) HAM? Akan diabaikan. Lingkungan Hidup? Akan makin
> hancur.
> > Jadi, kita akan mengulang kembali sejarah zaman Orde Baru, apalagi
> arsiteknya sama: Emil Salim!
> >
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
> >
> > Berhenti langganan? kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
> > Mau liat karya rekan-rekan? klik saja: http://www.cybersastra.net
> > Ada sesuatu yang perlu disampaikan kepada moderator kirim email ke:
> [EMAIL PROTECTED]
> >
> >
>
>
>
>
> =================================================
>
> Forum ini bukan forum debat kusir tetapi bertujuan untuk membangun
komunikasi massa yang positif dalam upaya mendorong lahirnya Indonesia yang
lebih baik, serta untuk menggali
> berbagai aspirasi, sambil menguji berbagai langkah FID dalam persepsi
komunitas yang lebih luas atau kirimkan pula kritik & masukan terhadap
kelangsungan FID di masa yang akan datang dan untuk tercapainya Indonesia
yang lebih baik.
>
> Bila ingin menjadi anggota milis ini kirimkan email ke:
[EMAIL PROTECTED]
>
> Bila ingin keluar dari keanggotaan milis ini kirimkan email ke:
[EMAIL PROTECTED]
>
> =================================================
>


................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia...............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com 















Kirim email ke