Aku juga binggung, banyak pemimpin kita
yang katanya udah di karantinakan tetapi
masalah se4jarah perjuangan bangsanya
juga pada beloon. 

Contohin amerika lah, contohin Arab lah.
Udah pada ngak bener. Bhok kalau mau contoh
kenapa ngak pelajari basis material dalam
bangsanya sendiri baru contohin luar negeri
itu khan, klop. Makanya kalau bicara perut
rakyat jangan di Cafe, begini jadinya pikirannya
serba western

MYP


-----Original Message-----
From: Fukuoka Kitaro <[EMAIL PROTECTED]>
To: rembug nasional <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 25 Januari 2001 20:13
Subject: [Kuli Tinta] Re: [Rembug_Nasional] Nasionalisme


>Urun rembug!
>
>Tentang nasionalisme, mestinya harus diketahui dulu
>apa dan siapa bangsa atau nasion Indonesia ini.
>
>Sebagai orang kecil yang tahu nasionalisme hanya
>lewat pelajaran PMP (CIVICS sudah ndak ada waktu
>saya sekolah dasar hingga SMA (belum SMUatas),
>bahkan sampai perguruan tinggi), maka nasion Indonesia
>itu telah ada resmi mengemuka minta pengakuan dunia
>inter-nasion lewat konstitusi (UUD-1945 atau UUD
>Proklamasi, kalau ndak salah).
>
>Jadi kalau masih mengakui UUD-45 serta menghormati
>penyusunnya yang notabene adalah pendiri bangsa
>dan negara Indonesia, maka VISI nasion Indonesia
>itupun telah jelas. Letaknya tak lain pada pembukaan
>UUD-45 alinea ke-4. Yang kalau tidak salah ingat,
>berupa menyejahterakan bangsa, mencerdaskan
>bangsa dan ikut serta menciptakan PERDAMAIAN
>ABADI dengan berazaskan pada:
>Ketuhanan YME
>Kemanusiaan yang adil dan BERADAB
>Persatuan INDONESIA
>Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
>dalam permusyawaratan/perwakilan
>(dalam rangka) mewujudkan keadilan sosial bagi
>seluruh rakyat INDONESIA.
>
>Sayang ke-5 jalan itu dijadikan dasar, bahkan idiologi,
>padahal hanya jalan atau sarana untuk mecapai
>visi yang 3 diatas. Sehingga yang seharusnya
>ketuhanan yang mewujudkan kemanusiaan dan persatuan
>indonesia dalam rangka belajar tentang KERAKYATAN
>(demokrasi) yang mementingkan hikmah kebijaksanaan
>dalam bermusyawarah (ingat perwakilan hanyalah
>ekor kalimat setelah tanda garis miring..... jadi nomor 2
>setelah
>musyawarah segala tingkat, hehehe.. sayang sekarang
>yang ada malah wakil-wakil yang tak pandai musyawarah,
>kecuali mewakili partai dan golongan... maaf, terus terang)
>maka tujuan akhir yang berupa keadilan sosial bagi
>SELURUH RAKYAT INDONESIA ya ndak kena-kena
>tak iya? Mencapai 5 sarananya saja belum, apalagi
>menggapai visi yang 3.
>
>Apalagi sarana pokok yang 3 (ketuhanan, kemanusiaan
>dan persatuan) sebagai landasan bernegara (berdemokrasi)
>sering diobok-obok. Bahkan dicoba dikaji ulang... ya hancur
>minah lah jalan untuk mencapai cita-cita akhir untuk
>mewujudkan 3 tujuan bernegara dan berbangsa Indonesia.
>
>maaf, kalau pikiran ini malah mengacaukan yang pada
>rembugan secara nasional... saya hanya mencoba meng-ingat2
>pelajaran kewargaan negara yang kemudian dipaksa-paksa
>menjadi PMP itu, lama lho lha wong itu terjadi 10 tahun,
>sejak kelas 3 SD hingga tingkat 1 PT.....
>
>salam rembug,
>
>
>       FK - mBogor
>----------------------
>     Sing penting Saiki!
>
>-------------------------------
>----- Original Message -----
>From: "Victor Fungkong" <[EMAIL PROTECTED]>
>To: <[EMAIL PROTECTED]>
>Sent: Thursday, January 25, 2001 9:47 AM
>Subject: Re: [Rembug_Nasional] Nasionalisme
>
>
>
>Menyambung pembicaraan kita dengan Kang Erry, Pak Wimar dan Pak
>AMW
>mengenai masalah perekat bangsa.
>
>Kelihatannya yang penting kita harus memiliki visi mengenai apa
>itu
>Indonesia yang ideal.  Kayak Malaysia punya Visi 2020.  Maju,
>makmur dan
>sejahtera itu memang menjadi tujuan kita tapi itu suatu keadaan
>ideal.
>Yang perlu kita lakukan adalah memikirkan bagaimana cara
>mencapainya.  Ini
>kontrak sosial baru kita;  kayak new dealnya Roosevelt.
>
>Namun perlu juga diperhatikan bahwa pengalaman bangsa kita
>sekarang ini
>berbeda dengan Amerika.  Kalau orang ramai ramai beremigrasi ke
>Amerika
>memang dari dulu tujuannya untuk memperbaiki kehidupan mereka;
>selain
>menghindari political prosecution pada awalnya.  Ini kondisi
>yang tidak ada
>pada kita;  malah sebaliknya daerah daerah ingin stay as much
>away from
>Jakarta karena Jakarta ini malah dianggap "tukang peras" selama
>ini.
>
>Kembali ke soal visi, saya lihat kalau kita membiarkan keadaan
>kita seperti
>sekarang, maka visi akan muncul dengan dorongan individu yang
>visioner.
>Moga moga orang ini orang baik kalau nggak ada bahayanya juga
>(Kayak Hitler
>yang visioner, yang kemudian mempersatukan orang orang German
>nasionalis
>tapi akhirnya menghancurkan negerinya sendiri).  Atau pilihannya
>kita
>sendiri ramai ramai mendorong tumbuhnya visi baru itu.
>
>Nah saya lagi pikir mungkin FRN bisa membuat forum yang sama
>untuk
>mendorong tumbuhnya visi ini (termasuk masalah rekonsiliasi
>nasional yang
>dikemukan Mas Sudirman?).  FRN kemarin sebenarnya mengandung
>benih
>pembentukan visi ini tapi mungkin kurang dieksplisitkan soal
>ini.
>
>Gimana Mas Dirman?  Apa pikirannya mengenai soal ini.
>
>Victor
>
>
>
>
>
>MAILING LIST FORUM REMBUG NASIONAL (FRN) & KAMPANYE REMBUG
>NASIONAL (KRN)
>
>Untuk keluar dari milis ini kirim email ke:
>[EMAIL PROTECTED]
>
>Website: www.transparansi.or.id/rembug_nasional
>
>
>
>
>
>
>................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia...............
>Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
>Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
>Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
>->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com 
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>


................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia...............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com 















Kirim email ke