From: <[EMAIL PROTECTED]>
---delete----------
Demikian juga dengan Nasionalisme. Banyak orang tua masih ingin
mengembalikan romantika nasionalisme jaman dulu. Nasionalisme
jelas
adalah produk awal abad 2000, untuk melawan kolonialisme. Tapi
apakah
nasionalisme ini cocok untuk melawan kejahatan dari bangsa
sendiri?
Rasanya nasionalisme tradisionil tidak bisa menjawab hal ini.
Kita
butuh nasionalisme cerdas, yang bisa mewadahi dan melindungi
bukan
hanya sesuatu yang besar dan abstrak yang disebut Indonesia,
tetapi
juga sesuatu yang kecil, lokal, local genus, local knowledge,
etc.
------dilit maneh------

Weh, sugeng Lek...
Masih lama kan di situ?
Hehehee.... selamat, selamat. Harapan Lek Marto sudah sebagian
besar tercapai. Dengan diberlakukannya OTDA, Lek. Sungguh..
sudah berhasil. Otonomi, Lek. Serba otonomi. 
Namun sayang Lek, otonomi itu tetap saja berupa kesepakatan
legislatif-eksekutif daerah untuk berBANCAKAN.

Lain dari itu, semangat serba lokal juga merambah 
ke segala sendi kehidupan. Bahkan lokal-lokal semu
pada koridor agama. Di sini Lek, setiap mulai jam 
5:00 pagi semua stasiun TV (kecuali MetroTV karena
belum buka sepagi itu), penonton dicekoki ceramah
agama, siraman rohani dll. Dan menjelang siang
hari, kwis-kwis pembodohan rakyat merajalela.
Untung sampeyan di situ kwis-2nya lumayan ya Lek?

Menjelang malam larut, sinetron-2 mitologis dan
atau eksen kekerasan menjadi tontonan mengasyikkan
anak-anak seumur Besar dan Gedhe anakku, Lek.
Sore hari, film-2 keras model kartun-nya power ranger
lah rajanya. Jadi anak-anak itu belajar dari monitor TV.
Belum lagi kegemaran mereka memelototi adegan 
Play-station Game.... Lek, lantas rumusan baru apa
yang bisa mengubah keadaan, Lek?

Besok, rencana ada demo besar di Senayan, Lek. Sesuatu
yang ditakuti oleh rakyat kecil. Yang dulu entah sadar
atau tidak, ikut PEMILU 1998. Dengan harapan, mereka
memperoleh pemimpin dan pimpinan yang baik, Lek.
Dan sekarang mereka (walaupun dengan terkekeh)
menolak aksi-aksi demo itu. Mereka takut akan terjadi
PERANG.

Dan semalam, aku nonton Golek di Indosiar, berlakon
CEPOT KEMBAR. Cepot gadungan mencuri JAMUS
KALIMASADA, lambang keluhuran negeri Amarta.
Dia dihajar habis oleh BIMA (birokrat) dan anaknya
GATOTKACA (militer). Apa yang terjadi kedua
lambang kekuatan negara itu lumpuh disabda CEPOT.

Mohon ampun, dibelajari, bahwa "Mana buktinya mereka
melaksanakan ISI dari KALIMASADA. Mana buktinya bahwa
mereka melaksanakan kemanusiaannya. Ditanyakan, oleh
siapa mereka dapat berkedudukan sebagai biroktat, jendral
perang dan bahkan RAJA."

Cepot mewejang, bahwa Aing adalah Maneh, Maneh adalah
Aing, Lek. Cepot mewejang, dari mana mereka bisa besar.
Dijawab karena dibesarkan oleh ibu-nya, dengan menerima
ASI. Cepot bertanya darimana datangnya ASI? Dijawab,
karena ibu-ibu mereka makan nasi. Cepot bertanya,
apakah mereka ikut menanam PADI? Apakah mereka
ikut menangkap IKAN, beternak, dan sebagainya....

Wah, Lek, malam tadi adalah malam besar bagiku.
Sebab sebelum Asep Sunandar Sunarya memberikan
lakon CEPOT KEMBANR, sebelumnya Ki Manteb menggelar
pendahuluan lakon MURWAKALA pada acara yang dihadiri
oleh presiden. Satu pertanyaan Ki Manteb menjelang 
lakon diputus untuk dilanjutkan Sabtu Depan Malam (SDM),
"Bapak Presiden, Napa saget para pemimpin kula nika 
makarya kados dene GAMELAN....."
(sayang Presiden tetap berdiplomasi... hehehe)

salam, Lek...
mudah-mudahan selalu baik di situ...

       FK - mBogor
----------------------
     Sing penting Saiki!





................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia...............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com 















Kirim email ke