Terima kasih Bung Biakto,
Saya juga berharap banyak bahwa Kuli Tinta yang mempunyai senjata hebat juga lebih
berhati-hati.
Seperti kemari sore ketia RCTI (srudio) meminta pendapat reporternya yang Senayan
mengenai FKKI yang dikatakan mencari aman. Padahal sebenarnya enggak demikian. Masih
banyak kan kasus seperti itu.
Namun demikian, hal itu mungkin membawa hikmah yaitu masyarakat bingung sehingga tidak
mudah percaya akan berita.
salam
----- Original Message -----
From: Subiarto AF <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, February 02, 2001 8:32 AM
Subject: [Kuli Tinta] BERPIKIR POSITIF
Sdr Aswat menulis :
"Namun disinilah sebenarnya hakekat pribadi itu muncul. Cara berpikir, cara berbicara,
dan cara kita bersikap sebenarnya akan memberikan gambaran kepada orang lain siapa
kita sebenarnya."
Terinspirasi statement di atas, saya ingin memberikan kritik kepada anggota milis
[EMAIL PROTECTED] sesuai tingkat pemahaman saya, bahwa sebagian besar penulis
tidak menempatkan diri sebagai pengamat tetapi sbg pendukung dan oposan (fanatik) dari
tokoh yg dibicarakan shg seringkali hanya menjelekkan tokoh seberang dan memuji tokoh
pujaannya. Contoh, mengenai Amien Rais, bagi oposan fanatik sering digambarkan sbg
kebelet, tdk bertgjawab, "kau yg memulai dan kau yg mengakhiri" dg nada negatif, dst
seolah dalam diri AR tdk ada sisi positifnya. Tentu saya tidak tahu persis apakah ybs
sudah kebelet (jadi RI-1 misalnya), tetapi fakta bahwa "dia yg memulai dan dia yg
mengakhiri" kalau disikapi dg pikiran positif adl suatu sikap & tindakan yg sangat
bertgjwab dan mrpkan pembelajaran thd egalitarianisme dan demokratisasi serta
meletakkan proporsi hubungan antara personal dg profesional secara benar. Saya
berpendapat bahwa AR dan orangs yg setuju dg idenya adl type manusia yg terbiasa dg
sikap tidak taqlid thd Person tetapi lebih kepada mengikuti jalan pikiran yang sehat
dari siapapun pikiran itu dilontarkan. Saya menyarankan utk merunut kembali sejarah
sepak terjang dia dari awal terjun ke dunia politik agar gambaran kita ttg dia (dan
thd siapapun) menjadi lebih jernih - tidak terlalu hitam putih dan totaliter.
At least, kalau ada orang yang - menurut kita - berbuat salah, apakah kita akan jadi
membenarkan sikap kita yakni ikut berbuat salah ? Hemat saya, sayang sekali kalau
suatu media hanya dimanfaatkan utk sekedar memuaskan hawa nafsu dan emosinya sendiri
dan bukan sbg wahana pendewasaan diri dan walau sekecil apapun ikut berkontribusi
menyampaikan solusi yang applicated atau sekedar wacana positif bagi orang banyak.
Dengan berpikir positf, manusia akan lebih dimungkinkan membangun "maqam" pribadi
lebih tinggi dan memberi manfaat kepada pemecahan suatu masalah. Demikian, mohon maaf
dan terima kasih utnuk kesediaan membacanya.
salam, subiarto.
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--