From: "åç" <[EMAIL PROTECTED]>
Pak Hasan tolong perhatikan kalimat uwak berikut ini.
============
From: Abdullah Hasan <[EMAIL PROTECTED]>
Baru sekarang jadi gamblang. Pada mulanya, ketika ada instruksi "PDIP satu
suara!" , orang bertanya : Mega pakai jurus apa ?. Dari sumber-sumber yang
dapat dipercaya, akhirnya sekarang kita baru tahu. Ternyata anggota parlemen
dari fraksi PDIP yang rata-rata tidak kaya, amat rawan duit cipratan Sultan
Brunei yang di maling itu.
==========================
From: "åç" <[EMAIL PROTECTED]>
Saya quote ".... amat rawan duit cipratan Sultan Brunei yang di maling itu."
Kata keterangan yang terakhir itu menjelaskan bahwa Sultan Brunei maling.
Sekali lagi, artinya pak Hasan menulis bahwa Sultan Brunei maling. Padahal
Sultan Brunei memberi sedekah.
=====================
AH: Maaf , saya kurang paham. Yang saya tulis : " duit Sultan Brunei yang di
maling" bukan " Sultan maling".
From: "åç" <[EMAIL PROTECTED]>
Pak Hasan, masih ingat kan kalau Mega itu gendhut, gebleg, ndoro putri yang
malas, dsb. Kesambet apa pak koq seujug-ujug berubah?
======================================
AH:
Mega itu gendut, belum berubah. Kurang cerdas, naif politik, "perkiraan"
saya itu belum berubah. Mega itu seorang yang baik, bukan orang jahat, dari
dulu merupakan keyakinan saya, belum berubah pula. Kalau dulu itu Mega bukan
pilihan terbaik, yang merupakan keyakinan saya, tidak pula saya ubah.
Dengan pengalaman lika-liku politik selama satu tahun setengah ini, saya
yakin sekali : Mega belajar banyak sekali. ( maaf, jauh dari mau sombong,
beberapa orang yang dikanan-kiri Mega sekarang ini yang se almamater,ITB,
kebetulan juga konco duduk saya). Dari itu, saya yakin pula Mega lebih siap
"naik" sekarang ini.
Tapi jangan salah. Mega belum teruji. Dan kita cuma bisa melihatnya
dilapangan nanti. Bila ternyata beliau mengelola negeri ini dengan ngawur,
atau misalnya suaminya "ngawur", ya mesti digelundungkan lagi secepatnya.
Bukan karena anti terhadap person, atau karena dendam, rencana jahat, dan
lain-lain. Tapi kepentingan ratusan juta manusia tidak bisa dibandingkan
dengan kepentingan orang perorang atau satu keluarga. Mega atau siapa saja
yang mau menanggung amanat harus sadar dengan kemungkinan ini. Bahwa kita
terpaksa terpaksa "tega" melakukan itu. 90 % dari bangsa ini tidak makan
dengan benar, tidak memperoleh pendidikan dengan benar, tidak mendapatkan
haknya dengan benar. Mau disuruh menunggu berapa puluh tahun lagi ?
Wassalam
Abdullah Hasan.
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--