Jawa Pos menurunkan tulisan bersadarkan laporan wartawannya di Washington,
AS (Ramadhan Pohan). Yg pd intinya berisi bahwa pers AS sudah hilang/ turun
kepercayaan dan kekagumannya kpd Presiden GD. Antara lain tulisan itu
demikian:

"Dalam percakapan dng beberapa wartawan asing di Washington DC, Jawa Pos
acapkali ditanya ttg Gus Dur.  ... Jika dulu mereka begitu respek dan sangat
kagum kpd GD, kini sekalipun tak terdengar lagi ungkapan salut mereka
diberikan kepada Presiden RI ini. Ada apa sulit dimengerti ..."

Selanjutnya Jawa Pos juga menulis ketika wartawan JP itu menceritakan bahwa
GD belum berhasil menangkap Tommy sebagaimana dijanjikan, seorang wartawan
asing tertawa terbahak-bahak.

Saya merasa tulisan ini  tendesius dan tidak jujur. Benarkah JP sulit
mengerti mengapa -- seperti yg ditulis itu -- rasa respek dan kekaguman
wartawan2 asing itu hilang? Jika kita kaitkan dng kalimat sebelumnya, yakni
jawaban2 yg diberikan o/ wartawan JP atas pertanyaan2 wartawan asing itu,
jangan2 yg dijawab ttg Presiden itu serba jelek, sehingga respek itu hilang.
Kalaupun bukan itu sebabnya. Saya kira, JP dan kita semua bisa menduga bahwa
rasa respek itu hilang atau berkurang akibat gencarnya skandal Bulog dan
Brunei itu. Jadi, bukan sesuatu yg sulit dimengerti. Tetapi, sebaliknya
"gampang dimengerti."

Ungkapan cerita bahwa wartawan asing tertawa ter-bahak2 ketika JP
menceritakan GD belum berhasil menangkap Tommy, bisa menimbulkan kesan kok
JP itu bangga Presidennya ditertawakan sampai terbahak-bahak di depannya?




...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<-- 
















Kirim email ke