Maka, di akhir cerita Kosasih tempat dimana dulu
Kitaro indekost, Puntodewo juga tidak berhasil
naik sampai tahap terakhir.

Artinya, tidak ada manusia yang sempurna.Itu
memang wayang Mas dadi, namun bisa mewakili
berbagai cerita, karakter, dan perilaku manusia.
Bukankah begicu Kitaro San? Kalau ATS di DPA
terwakiloi oleh siapa dalam cerita apa ya?



----- Original Message -----
From: Dadi <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Saturday, February 10, 2001 7:07 AM
Subject: RE: [Kuli Tinta] Rekonsiliasi Darah
Bharata


Puntodewo ini rupanya orang yang baik tapi rupanya
tidak tegas dan tidak
cerdik.
Jadi kasihan seluruh orang Pendawa harus
menanggung akibat kebodohannya.
Mudah-mudahan ini hanya di cerita wayang saja.


-----Original Message-----
From: Fukuoka Kitaro [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Thursday, February 08, 2001 8:24 PM
To: [EMAIL PROTECTED]; jawa; wojoseto;
[EMAIL PROTECTED]
Subject: [Kuli Tinta] Rekonsiliasi Darah Bharata


Setelah selesai acara Samrat atau pelantikan
sebagai
Maha Raja atas Puntadewa, ke-99 saudara Kurawa,
lengkap dengan saudara iparnya Jayadrata serta
Mahapatih Sangkuni dan Panglima Basukarna, minta
diantar adik-adiknya Pandawa Lima berkeliling
istana
Amarta yang megah bagai kahiyangan Hyang Indra.
Pada dasarnya Duryudana benar-benar kagum dan
timbul niat untuk membangun istana dan sistem
pemerin-
tahan Ngastina seperti kerajaan adik-adiknya yang
baru saja terbentuk dan berbenah diri.

Sayang kejadian sepele membuatnya menyimpan
dendam. Alih-alih mau menirunya, bahkan ingin
mencaploknya. Pertama dia harus malu ketika
menabrak dinding kristal bening yang dia anggap
pintu. Kedua dia malu sekali ketika tercebur di
'jambangan' kaputren yang nyaris tak nampak
bedanya dengan lantai di koridor kaputren itu.
Bahkan permaisuri Drupadi tertawa terkikik-kikik.

Rombongan Kurawa pulang tanpa pamit dengan
menanggung malu dan dendam. Dendam malu dan
iri berkecamuk di dada raja Ngastina.
------------
Sesampai di istana, Sangkuni mengatur cara
pembalasan.
Dia tahu betul sifat dan sikap Puntadewa yang
tidak
mau menolak ajakan seseorang yang akan berbuat
baik.
Apalagi menolak jamuan tuan rumah ketika bertamu.
Maka dikirimnyalah surat ajakan Rekonsiliasi
keluarga
Bharata. Duryudana senang, punggawa Ngastina ikut
bahagia menganggap Sangkuni telah berubah.

Dalam jamuan itu, Puntadewa diajak main dadu.
Sementara
adik-adiknya mabuk kepayang menenggak waragang
(miras).
Puntadewa yang semula menang, berbalik menderita
kalah. Namun tetap melayani ajakan Sangkuni
mewakili
Duryudana beramain dadu.

Puntadewa selalu mengiyakan permintaan Sangkuni
untuk mempertaruhkan harta miliknya untuk
bertaruh.
Bagaimanapun Puntadewa ingin juga menebus
kekalahan.
Setidaknya harta miliknya kembali utuh. Apadaya,
dadu yang digunakan adalah dadu milik Sangkuni
yang
selalu menurut kehendak si empunya.

Harta kekayaan ludes menjadi jaminan taruhan.
Kendaraan kerajaan, simpanan emas dan upeti raja
jajahan habis ditanggungkan. Akhirnya kerajaanpun
melayang. Hingga pada akhirnya jiwa-raganya
termasuk
permaisuri serta saudara-saudaranya pun habis
menjadi taruhan. Keluarga Pandawa telah menjadi
budak Kurawa akibat bermain dadu.

Hinaan tidak berhenti sampai di situ. Permaisuri
yang
dianggap telah menjadi milik bersama dilecehkan.
Untung saja dewa menolongnya dengan membuat
kain kemben-nya tidak putus-putus ketika Dursasana
berusaha melepasnya.

Puntadewa yang telah kalah dan pasrah tidak bisa
berbuat. Dia telah menerima dan berjanji akan
menebusnya nanti di dunia berikutnya. Namun
saudara-2
nya tidak terima. Apalagi Drupadi. Drupadi
bersumpah
dalam hati tak akan menyanggul rambutnya sebelum
dikeramas dengan darah Dursasana. Harjuna
mengincar
leher Basukarna yang tidak juga ikut bertindak
mencegah
pelecehan itu. Nakula-Sadewa ikut bersumpah tak
akan
puas sebelum dapat menyobek mulut Sangkuni. Bima
paling
kejam bersumpah, tak akan lega sebelum menghirup
darah
Dursasana dan melumatkan muka Duryudana. Dewi
Kunti,
Ibu para Pandawa tak ketinggalan, bersumpah tak
akan
melengkapi 'kuthubaru' (kancing penutup kebaya)
sebelum
dijahitkan pada sejengkal kulit Sangkuni.

Pandawa harus menjadi orang buangan. Pandawa
menerima
dengan segala pamrih ingin membalas hinaan itu.
Kecuali
Puntadewa yang menerima dan akan mempertanggung-
jawabkan kesalahannya pada kehidupan yang lain.
Namun,
jiwa Puntadewa boleh menerima, suksmanya boleh
pasrah
dan sadar akan kesalahan dan tanggung jawab moral.
Akan tetapi, Puntadewa juga menyandang Raga. Raga
inilah
yang tidak rela jiwanya mengalami penghinaan terus
menerus. Dan kadang-kadang perlu bertriwikrama
berubah
menjadi Raksasa Putih yang menebar WALAT.
Mempermalukan
saudara-saudara sepupu mereka.

Dan jiwa rekonsiliasi tulusnya yang berbuah
khianat itu,
telah meracuni adik-adik, isteri bahkan ibunya
sendiri.
Sumpah-sumpah mereka memang terlaksana ketika
terjadi BHARATAYUDA. Namun hasilnya, Pandawa
hanya mewarisi kerajaan Ngastina dan Amarta
sekaligus
dalam keadaan BANGKRUT dan terpaksa ditinggal
pergi oleh sesepuhnya yang tinggal. Sesepuh itu
ialah Destarata, uwak mereka yang BUTA. Yang
mereka
itu harus menebusnya mati terhina di tengah hutan
karena hutannya terbakar akibat ulah pemburu yang
lalai.

nuwun,

    Ki Denggleng Pagelaran
--------------------------
apa bedane uwong ambek
manungsa?




...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan
Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan
anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini,
http://www.indokado.com<--


















...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan
Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan
anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini,
http://www.indokado.com<--



















...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<-- 
















Kirim email ke