Ya itu keinginan kita, keinginan rakyat pemilihnya. Beda dengan elitnya, mungkin meganya mau tetapi jubirnya? apalagi sejak mega dikepung oleh para "pelompat pagar" dan kedekatan dengan "militer nasionalis". Yang juga susah dipegang, itulah susahnya politik elit ala demokrasi Indonesia tidak bisa mandiri. MYP -----Original Message----- From: mBin <[EMAIL PROTECTED]> To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> Date: 09 Februari 2001 17:17 Subject: [Kuli Tinta] semestinya mega bisa menjadi penengah > >semestinya mega bisa menjadi penengah, >dengan memeiliki jumlah suara terbanyak di dpr, >semestinya mega lewat pdip bisa menjadi penengah, >dalam pertentangan antara golkar+islam melawan pkb... >keduanya tidak akan efektif tanpa keikutsertaan pdip di dpr.. > >di tengah permusuhan gd melawan ar dan at, >mega sepantasnya menempatkan posisinya >yang menaungi mereka semua, >tanpa ikut minta gd mundur, >tetapi terus menekan dengan konsekuensi-konsekuensinya.. > >dengan dua kaki tersebut, >mega tidak berseberangan dengan nu+pkb (sekutu ideologis) >juga tidak melawan golkar-islamis, >posisi mega akan tetap aman, >selama dia tidak menjadi nomor-1 (sasaran pertama para pendemo), > >mungkinkah ? > >mBin >----- > > > > >...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............ >Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri >Bergabung: [EMAIL PROTECTED] >Keluar: [EMAIL PROTECTED] > >->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<-- > > > > > > > > > > > > > > > > ...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............ Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] ->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--
