> -----Original Message-----
> From: My Populis [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
> Sent: 13 Februari 2001 23:52
> To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
> Subject: [Kuli Tinta] ARUS BALIK MAKIN MEMBESAR...!
>
>
> ARUS BALIK MAKIN MEMBESAR...!
>
> Saya jadi teringat ucapan pram bagaimana kita bisa melihat
> watak dan bentuk dari orang-orang ORBA. Pram
> mengatakan jika kita mau melihat ORBA kita lihat
> saja dari "statmentnya/ ucapannya" karena watak
> politik ORBA adalah watak politik yang bodoh, dan
> tidak bermoral. Jadi semua yang diungkapkan pasti
> akan terlihat sebaliknya. Kata-kata ini diucapkan Pram
> ketika rame-ramenya gerakan reformasi.
>
> Kemudian ketika awal dimana Gus dur terpilih menjadi
> presiden --kurang lebih-- dua atau tiga bulan berselang
> rekan saya yang wartawan (bertugas di DPR) menemui
> saya; kita biasa berdiskusi politik. Ia mengatakan bahwa
> Gusdur pasti akan di tumbangkan dengan cara konstitusional,
> waktu itu saya berkata ah massa... Gus Dur itu minoritas
> tetapi didukung rakyat dia dikenal sebagai tokoh populis sama
> dengan mega, kecuali mega dan Gusdur pecah ucap saya waktu itu;
> waktu itu redaksi juga sedang santer ingin mengangkat isu
> KUDATULI yang terlihat dibiarkan saja oleh elit PDIP sedikit dugaan
> waktu itu saya melihat bahwa PDIP ada main dengan GOLKAR apalagi
> setelah mengotak-atik calek dari PDIP rupanya banyak kader GOLKAR
> yang lompat pagar; kasus KUDATULI hilang dari ingatan.
>
> Melihat gambaran diatas saya jadi ingat ucapan pram setelah Suharto
> lengser; ia mengingatkan Gerakan Mahasiswa untuk terus bergerak dan
> melawan sampai kejantung ORBA dan tak boleh berhenti ketika berhenti
> maka korban akan berbalik jatuh pada gerakan reformasi itu
> sendiri. Hal inipun
> diperkuat steatmen politisi wanita "Ga'e" SK. Trimurti ketika di wawancara
> oleh liputan 6 SCTV dalam memperingati hari pahlawan. Pesannya sangat
> sederhana dimana ada "usaha" untuk meredam gerakan massa dalam usaha
> memberlakukan UU Darurat. Wanita ini (yang pernah menjadi mentri
> jaman ORLA)
> mengatakan Demokratisasi tidak melarang AKSI massa malah hal ini harus
> terus dilakukan dan tak boleh berhenti; usaha melarang aksi massa adalah
> usaha untuk meredam demokrasi. Pesan-pesan dari dua tokoh "ga'e"
> yang sudah
> bau tanah ini; meninggalkan pesan bahwa kami hidup dari Tiga
> jaman dan selalu
> dipakasa untuk menutup mata terhadap realitas kemungkaran yang ada.
>
> Ketika gerakan mahasiswa; kehilangan makna (isu sentral) maka
> gerakannyapun
> mudah untuk dipatahkan. Berpuluh-puluh aksi anti Suharto
> (pengadilan) tidak
> dapat mendidik massa luas; buat apa kita melawan seorang Suharto yang
> tidak berkuasa lagi? Maka, gerakan yang kurang dapat respon tadi
> lebih banyak
> menimbulkan korban dikalangan Mahasiswa sendiri. Isu sentral
> Pembersihan Kabinet serasa terlupakan; isu DEWAN RAKYAT. isu
> KOMITE RAKYAT terasa
> kurang tepat untuk diusung terus, apa benar? Usaha pendidikan
> rakyat juga tidak
> begitu intensif dilakukan oleh aktifis 1998 yang sudah harus
> berpindah sektor ke
> sektor prioritas rakyat perkotaan; kaum buruh, kaum miskin kota,
> profesional dan
> mungkin petani yang kondisinya "masih lemah".
>
> Tetapi sekecil apapun isu yang kurang mengena dihati rakyat ini
> sempat menciutkan gerakan fulgar dari sisa-sisa ORBA yang masih
> ingin berkuasa.
>
> Gerakan  menghalau gerakan reformasi, dikemas ORBA cukup
> sistematis dan terencana matang lihat kronologi dibawah ini;
>
> 1. Teror terhadap anggota DPR lewat penembakan Gedung DPR RI di Jakarta.
>     baik lewat pembacokan Mathori dan penembakan ruang kerja PPP.
> 2. Teror terhadap aktifis HAM khususnya terhadap KONTRAS dan aktifis ACEH
> 3. Teror-teror BOM dari skala kecil sampai besar, dari mulai isu
> recehan sampai besar dari peledakan di kampus, rumah ibadah
> sampai pusat ekonomi di pertamina.
>
> Dilanjuti dengan pengabungan dua strategi antara teror dan massa;
> lewat isu-isu
> dampak dari peninggalan ORBA;
>
> 1. Mobilisasi GURU ke DPR
> 2. Mobilisasi karyawan penerangan ke DPR
> 3. Mobilisasi karyawan Birokrat yang semua arahnya jelas terlihat
> 4. Mengakat isu Komunisme dan digabungkan dengan Isu-moral
>     seperti Narkotika.
>
> Dengan dua stategi itu hampir setahun ini tidak ada terlihat
> perubahan berarti
> terhadap cita-cita dari perjuangan reformasi itu sendiri atau
> bisa dikatakan
> tidak ada sama sekali; peran gerakan mahasiswa pada waktu itu
> terlihat telah
> digantikan oleh DPR yang notebane banyak berkuasa ORBA disana.
> Kekosongan inilah yang makin memungkinkan elit politik yang ada di DPR
> untuk bermain mata dan uang. Gerakan Mahasiswapun yang sudah
> mengkristal terlihat kehilangan visi dan misinya.
> Kekuatan inilah yang digunakan elit-elit DPR untuk
> membukukan gerakan mereka lewat kelompok-kelompok elit mahasiswa;
> dilakukan beberapa kali relly (AR) keberapa Kampus; diikuti oleh
> (AT) dalam
> mengintruksikan/membiayai organisasi-organisasi mahasiswa Islam
> milik mereka
> untuk mengkonsepkan gerakan penumbangan GUSDUR. Sebelumnya jelas
> orba merekayasa  isu dalam BULOG yang banyak kroni mereka
> didalamnya. Dan bumbu masak serta zakat raja Bolkiah antara
> Muhamadiah dan ICMI dan NU
> terjadi perang dingin perebutan rezeki.
>
> Mulai terjadi pembiasan kali ini kelompok (AR,AT) yang menguasai
> bola salju
> sedangkan gerakan reformasi/Moderat mengalami konflik internal
> sendiri dengan
> beberapa konsep yang memang tidak mengakar pada kepentingan
> rakyat. Begitu juga dengan kalangan kiri yang ketinggalan
> beberapa langkah setelah keberhasilan
> dalam membopong semangat gerakan Semanggi I dan II. Ditingkatan
> elit moderat
> sendiri terlihat pecah dan elitis, Cak NUN tak lagi mendukung
> Gusdur, begitu pula
> dengan FODEM sendiri. Lalu PRD dan gerakan mahasiswa radikal pun selalu
> berkubang pada isu-isu yang seharusnya tidak perlu untuk
> diperdebatkan. Ketidak cocokan (cari selamat) dari gerakan
> Demokratik membuktikan ketidakmampuannya berhadapan dengan massa
> rakyat. Dan terlanjur publik di
> gambarkan pemetaan bahwa hanya ada dua kubu yang berserangan yang
> anti dan pro karena posisi ketiga tidak boleh diberikan kelain
> hati. Ha... Ha... dan hal itu
> hanya dimiliki oleh MILITER.
>
> Gerakan  Pelanggi baru ada nafasnya kembali, ketika ketua umum NU
> (HA) mengingatkan bahwa jangan sampai gerakan Pelangi yang akan muncul
> (Gerakan ketiga di luar NU). Maka gerakan pelanggi (kaum Demokrat/sos)
> mendapat keleluasaan untuk dapat kembali mengkonsep makna peran reformasi
> (walaupun belum ada kesatuan komando dalam memetakan ISU) ada yang
> bermain di tingkatan Moral anti kekerasan dan sebagainnya, tetapi ada yang
> radikal lebih dari itu memobilisir massa baik massa NU. PDIP maupun PRD
> dan Mahasiswa. Malah  para profesional di UI sendiri lewat ILUNI
> mengemparkan
> dengan mengangkat isu GOLKAR sebagai musuh bersama. Hal ini terlihat
> sebenarnya bukan PRD yang mengakat isu anti GOLKAR dalam menspesifikasi
> isu antek-antek ORBA itu dilakukan oleh ILUNI UI dan berkembang
> dimasyarakat
> dan dapat respon bola salju dikalangan akar rumput dalam mensikapi musuh
> bersama yaitu GOLKAR.
>
> Apakah GOLKAR dan PAN kalah taktik? jawabnya tidak, Isu PRD dan
> Komunisme diangkat; jelas hal ini tidak akan sama dengan pada
> massa perang dinggin. Dunia sudah berubah jelas isu tersebut akan
> terasa dipaksakan. Tetapi terlepas dunia tidak mendukung; TNI
> masih dekat dengan kedua organisasi tersebut. Saya jadi teringat
> pendapat supir taksi (KOSTI) yang saya tumpangi ketika menanggapi
> pencopotan pejabat tinggi TNI yang dekat dengan Gusdur, ia
> (supir) berkata apa WIRANTO berkuasa lagi ya; Apalagi seperti;
> ucapan rekan saya yang dekat dengan militer mengatakan; apabila
> mabes ABRI tidak jatuh ketangan Wiranto maka sukseslah kedudukan
> GUSDUR hingga 2004, rupanya MABES CILANGKAP sudah ditangan WIRANTO.
> Jelas Gusdur akan berhadap-hadapan dengan militer,
> apa GUS DUR penakut dalam hal itu?
> Sama penakutnya dengan kaum yang mengaku demokrat lainnya?
>
> Yang jelas permainan belum selesai; banyak kesalahan-kesalah
> gerakan reformasi kemarin yang harus terus di evaluasi. Secara
> organisasi yang baik hanya dua
> dimiliki pertama PKB dan NU kedua PRD yang punya massa militan di
> tingkatan
> akar rumput hingga kepusat; pertanyaannya bagaimana dengan PDIP?
> PDIP sendiri sebenarnya seperti sebuah banggunan yang
> ditengah-tengahnya di kuasai oleh para pencoleng, sehingga antara
> keputusan "eliti partai" dengan massa selalu teredam oleh para
> intel (kaki tangan) menyebabkan kondisi PDIP selalu mencari jalan
> aman. Tetapi pertanyaannya apa massanya seperti itu? saya pikir
> massa PDIP sendiri dapat belajar sendiri dari jeratan elit mereka.
> Baca kekecewaan eros Djarot dan sikap apatisnya terhadap PDIP (baru ini).
> Rupanya kekecewaan djarot tak ada gunanya. Massa PDIP setingkat kelurahan
> dan kecamatan lebih mengakar pada rakyat, dan banyak belajar dari
> pristiwa kudatuli tidak akan diam melihat ketidakadilan, baca
> demo dan aksi massa
> anggota PDIP di beberapa dprd dalam mengritisi elit partai yang
> kompromi dan
> main uang dalam menjalankan aspirasi rakyat (isu jabatan BUPATI).
>
> Kemenangan tinggal didepan mata rasanya; hanya kita semua yang bisa
> dilakukan apabila gerakan massa rakyat itu dihadapkan pada kondisi real
> dan pembebasan atas hegemoni kekuasaan partai politik, baik PKB, maupun
> yang lain-lain konsesi "peole" inilah yang pada saat ini belum
> diketemukan.
> Jika dianalisa diatas kertas tetang keterlibatan rakyat jelas
> massa akan lebih
> terlatih untuk turun jalan adalah massa PDIP dan massa PKB. Jika
> gerakan massa akan mengecil tusukan akan terjadi lebih keras
> seperti yang terjadi dalam
> acara dialog mahasiswa yang dilakukan kelompok mahasiswa "konserpatif".
> Catatan; setelah acara dialog Gusdur dan mahasiswa, aktifis
> FAMRED yang banyak anak santri tersebut ditengah massa demo BEM
> teraniaya, ditusuk dan luka-luka, baca kesaksian altifis FORKOT
> dalam dialok di METRO TV.
>
> Ketika rakyat yang bergerak DPR bukanlah apa-apa dan sebuah sejarah baru
> sebuah perubahan bukan dilakukan oleh Militer atau Dewan militer
> seperti jaman
> ORBA ataupun eksekutif/presiden seperti jaman ORLA. Tetapi
> benar-benar rakyat
> yang merubah dan menseleksi wakil rakyat dirumahnya dan membenahi lembaga
> lembaga tinggi negara yang bobrok. Hanya sejarah yang tahu kapan
> hal itu terjadi.
> Diantara kepentingan, dan kehilangan visi dan misi perjuangan Demokrasi
> dalam usaha memerdekakan rakyat.
>
> Gerakan Hukum tanpa didukung pula dengan gerakan politik yang nyata hanya
> dapat menimbulkan konsesi-konsesi yang akan menjauhkan dan membuka
> jurang konflik baru yang tidak akan terselesaikan dan selalu akan
> menguntungkan ORBA dan MILITER ingat dia sudah bangkotan berkuasa
> selama 32 th.
>
> MYP
> tulisan ini saya tujukan
> khusus buat "Bhak erna" yang
> selalu meminta saya menulis.
>


...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<-- 
















Kirim email ke