PREMAN = FREE MAN = PEACE = FLOWER GENERATIONS
Setahu aku dalam kasanah Sosiologi ngak ada tuh perkataan preaman.
Jadi saya sendiri binggung. Preaman itu kan ucapan yang dilontarkan
orang lain kemudian berkembang menjadi bahasa sehari-hari.
Dalam sosilogi masyarakat cuma dikenal tiga golongan / klas.
1. Kelas atas atau sering kali disebut bourjuis.
biasanya kretarianya adalah pengusaha besar / konglomerat..
2. Kelas menengah
Intelektual (buruh kerah putih/profisional),
pedagang kecil, petani dan kaum miskin kota
(biasanya preaman dikatagorikan di sini tetapi sulit untuk menspesifikasi)
3. Kelas bawah atau biasa di sebut Proletariat.
Orang yang tidak punya kepemilikan apa-apa seperti Buruh Industri, buruh
perkebunan, dll.
Untuk mengupas perkataan PREMAN harus dipelajari perkembangan jaman
dan peradapan manusia. Jelas dalam masyarakat feodal tidak dikenal
watak budaya preman (borjuis kecil/kelas menengah). Ia lahir biasanya ditandai
dengan perkembangan negara dari agraris (semi feodal) ke industri (Kapitalis).
Dalam transisi ke masyarakat industri biasanya wajar muncul kelas ketiga yang
disebut kelas menengah itu.
Tetapi anehnya dalam tiori MARXIS tidak dikenal tiori (Borjuis kecil/kelas menengah)
tiori sosial Marxis hanya mengatagorikan masyarakat hanya dua
kelas Borjuis dan proletar. Krtiteria sosial diatas dianalisa dengan analisa sosial
marxisme.
PERKATAAN PREMAN
Orang sering kali salah dalam menganalisa makna atau ucapan yang berkembang
di masyarakat. Konotasi preman selalu indentik dengan keburukan, seperti
sebuah takdir yang lahir begitu saja. Padahal beberapa ahli sosialog (kecuali
yang terjebak) tidak menindentifikasi Kekerasan = PREaman dalam komunitas
yang berkembang dimasyarakat.
Secara historis seperti diatas disebutkan faktor-faktor kekerasan dapat timbul
bersamaan dengan perubahan masyarakat dari masyarakat agraris menjadi
masyarakat industri. Faktor transisi budaya ini pula yang akhirnya menimbulkan
penokohan-penokohan baru.
Dalam mengkaji Preaman sebenarnya akan lebih menarik jika ditinjau dari sisi
BUDAYA. PREMAN atau tepatnya kaum miskin perkotaan atau pengaguran di indonesia lahir
ketika indonesia mulai beralih menjadi masyarakat Industri
perkotaan (efek dari pembangunan) . Untuk itulah agar menyenangkan atau tepatnya
mengkaburkan makna perbedaan tadi maka di buat semacam jastifikasi
dengan menyebut mereka ini sebagai FREE MAN awal kata lahirnya kata Preman.
Seorang Petinggi Militer yang berhasil menjatuhkan ORLA mengatakan bahwa
mereka (kaum miskin kota) kelompok sosial yang paling baik untuk didekati dan perlu di
"pelihara". Hal ini sama dengan budaya yang biasa timbul dibeberapa
negara Industri dinegara barat. Budaya Hipis dan sebagainya yang mengagung-
kan kebebana (untuk mengkaburkan realita sebenarnya).
Keberhasilan ini pula kita lihat dengan munculnya masyarakat bebas di tahun-tahun
60-an dan 70-an yang ditandai dengan istilah generasi bunga.
Jaman elvis, Beatles dan deep parple. Perkembangan
selanjutnya kelompok ini memang akhirnya diwadahi untuk kepentingan-kepentingan yang
tidak jelas dalam setiap jaman. Dimulai dari pristiwa 1966,
pristiwa MALARI dan seterusnya. Kesalah besar kemudian makin kacau
antara makna "Kebebasan" yang di serap oleh sebagian kelompok yang
mengaku dari kelas menengah tersebut.
Sehingga sebenarnya tidak ada pemikikiran (isme) yang banyak orang
kemukakan untuk mengkatagorikan objek sosial dengan mengatakan
preamanisme; karena dalam kontek kekerasan kelompok sosial yang
tergabung didalamnya dikatagorikan sebagai kelompok Anarxis, fandalis
dan sebagainya. Dan itu bisa berlaku pada kelompok sosiala manapun.
Akar dari semua itu adalah munculnya budaya politik Kekuasaan yang
diasung oleh Machiaveli. Nah, elit politik kita mayoritas masih berkubang
disana; "premanisme" kelompok marjinal diperkotaan (kaum miskin kota)
hanyalah dampak dari sebuah sistem yang sangat merugikan mereka.
Memang tidak bisa dilepaskan budaya KEKERASAN itu memang sudah
ada sejak awal ORBA membangun kekuasannya. Preman dan sebagainya
hanyalah dampak yang ditinggalkan oleh perubahan yang dibawa oleh ORBA.
Jika saya ditanya solusinya?
Bisa jadi benar atau salah; saya akan menawarkan mereka harus diwadahi
dan dilindunggi sebagai kelompok sosial (kaum miskin kota) yang memang
ada diberikan kepentingan-kepentingan ekonomi dan politik. Entah menjadi
partisan atau tidak. Memang akhirnya semua itu disalahkan kepada para
ilmuan kita sendiri yang dapat menyimpangkan ungkapan-ungkapan yang
ada dan ditegakan Hukum. Karena budaya borjuis kecil yang selalu diangap
kelompok opertunis ini, pada dasarnya selalu dibutuhkan oleh kepntingan
sosial manapun dan selalu terlibat dalam perubahan jaman. Nah, jika watak
mahasiswa pun berubah hal ini tidak bisa disalahkan; karena memang ORBA
telah berhasil mengangkat kelas dalam masyarakat sehingga kelas menegah
menjadi kuat; dan secara ekonomi politik kemudian klas ini berkontradiksi
karena kekuasaan tidak dapat memberikan kesejahtraan bagi mereka semua
(kelas menegah) termasuk elit politik kita yang banyak di DPR.
Sehingga ucapan Preman juga tidak bisa hanya ditujukan untuk menunjukan
kelas bisa berlaku (menyukai) budaya Preama. Lihat Film Ali Topan; seorang
anak jalanan yang status sosialnya dari keluarga berada yan broken Home.
MYP