Rally-rally panjang ketika kampanye di pemilu terakhir
ada sebuah pemandangan menarik, manakala
PDI-Perjuangan atau PKB yang sedang punya gawe. Pasti
bukan tanpa sebab, jika dua kelompok massa ini begitu
rukun untuk saling meramaikan acara masing-masing,
yaitu giliran kampanyenya. Ada bendera merah dengan
banteng gemuk mengintip, ditingkah dengan bendera ijo
bergambar bola dunia, yang bisa berada di
masing-masing truk, sambil berlontar salam ketika
berpapasan, atau malah campur aduk, sehingga penonton
akan bingung, sebenarnya, giliran parte manakah hari
ini yang kebagian gawe? Si ijo atau si merah, kah?
Tapi itu terasa bukan hal penting bagi kawula alit
yang sedang menuntaskan emosinya. Tak ada beda, entah
ijo atau merahnya. Bagusnya, saat itu, bahkan dari PKB
begitu getol mengeluarkan pernyataan, bahwa Mega
adalah presiden RI, di pemilu kali ini. Massa NU
seperti terbius, dan meneriakkan yel-yel 'Mega
presiden', sama riuhnya atau bolh dikatakan tak mau
kalah dengan teriakan serupa dari kalangan rakyat
pendukung PDI-Perjuangan. Satgas mereka, Banser dan
Satgas PDI-Perjuangan, tampil bahu-membahu mengatur
suasana agar tetap terkendali.
Suasana campur-bawur, antara massa PKB (baca NU) dan
PDI-Perjuangan masih terus berlanjut, di tiap
acara-acara lain sesudahnya. Ada pengajian, ada yang
lain, dua bendera berlainan warna itu selalu tampil
berdampingan. Antara mereka yang memilih jalur
keagamaan (Islam) sebagai tatacara sosialisasi dan
pengabdiannya, dengan sebuah massa kental nuansa
nasionalistiknya (dan cukup besar
ke-abangan-islam-nya), toh tak membuat canggung untuk
tampil jejer.
Massa di bawah, yang menjadi topangan utama,
sebenarnya, bagi PDI-Perjuangan, semestinyalah harus
lebih memperoleh perhatian daripada melindungi Arifin
Panigoro, yang terbukti melakukan trik-trik yang
gampang membuat massa cair yang sudah manjing
ajur-ajer, antara si ijo dan merah, berubah menjadi
kristal-kristal yang membuatnya terpisah dengan
gampang.
Padahal, masih ketika kampanye pun, bahkan sampai GD
menjadi presiden, ia masih menyatakan, bahwa Mega,
dengan kemenangan PDI-Perjuangan lah yang seharusnya
jadi RI-1. Ucapan GD, maupun Matori, sungguh telah
membuat campuran masa ijo dan merah ini mampu berbaur
bak saudara kandung. Mestinya inilah yang harus
dipelihara oleh PDI-Perjuangan. Terserah, apa oleh
Megawati, Sucipto, atau penggede PDI-Perjuangan yang
lain (Arifin Panigoro, jelas sudah tidak aku
harapkan). Apa jadinya, jika butir-butir kristal itu
sudah terlanjur terbentuk dalam komunitas yang hampir
homogen tersebut pada pemilu kelak?
PDI-Perjuangan alpa untuk melakukan pemeliharaan atas
modal dasar yang sudah begitu besar tersebut.
Sampai-sampai aku punya pikiran, jangan-jangan
pemikiran untuk menjadi RI-1 tersebut hanya sebuah
target semata, dan bukan sebagai alat perjuangan untuk
membuat negeri ini benar-benar aman dan sentausa. Ya,
sekedar 'pernah ada orang PDI-Perjuangan jadi
presiden, setelah terkuyo-kuyo sekian lama'.
Patut direnungkan, posisi RI-1 memang harus direbut.
Tetapi itu bukan sekedar untuk menggapai kekuasaan,
namun lebih untuk memudahkan menggelar platform
perjuangan yang tujuannya adalah untuk membuat bangsa
ini benar-benar adil makmur, aman sentausa. Sehingga,
perjuangan politis untuk sukses pemilu dan memenangkan
tiket jadi RI-1 harus benar-benar bukan dilandasi oleh
keinginan untuk berkuasa, namun karena PDI-Perjuangan
telah memiliki program-program yang jelas, terarah,
dan terukur, bagi mengembalikan negara paria ini
menjadi negara yang benar-benar berdaulat, sejahtera,
dan patut diperhitungkan.
Pemilu berikutnya semakin mendekat. Bahkan ada
suara-suara yang meminta pemilu dipercepat. Rasanya
waktu semakin tak tersedia untuk kembali memelihara
sumber suara ini, dengan program-program pembangunan,
pengentasan kemiskinan, pemeliharaan lingkungan,
aktivitas sosial, dan berbagai hal yang mampu membantu
negeri ini agar lebih sedikit. Yang ada adalah justru
kabar-kabar money-politics yang sedemikian kental di
kalangan legislator dari kumpulan PDI-Perjuangan ini,
rebutan kedudukan, dan berbagai cerita amuk yang sama
sekali bukan hal-hal yang mampu menarik simpati.
Jika mau saja, seharusnya, PDI-Perjuangan bukan tak
bisa, kalau membuat program-program pembangunan
ekonomi kerakyatan berbasis koperasi, dengan nama-nama
jelas, Koperasi Banteng Berjuang, untuk lebih
memperbaiki kedudukan ekonomi rakyat secara realistik.
Atau melakukan sosialisasi kepada rakyat banyak, bahwa
Satgas PDI-Perjuangan atau anggota partai ini,
merupakan pelindung rakyat, dan mampu menjaga keamanan
lingkungan, dengan menugasi mereka untuk selalu
waspada menjaga keamanan, dengan memanfaatkan
posko-posko yang pernah ada dulu (jangan malah bikin
ngeri).
Juga para penggede, termasuk di dalamnya adalah para
anggota parlemennya. Lebih banyakkan membicarakan
perbaikan ekonomi, ganyang KKN, katimbang bicara
hal-hal yang sama sekali tak berguna bagi rakyat
pemilih mereka, dan bahkan ada peluang untuk
mengobok-obok massa menjadi keruh. Katanya ada 130
lebih anggota PDI-Perjuangan di parlemen ini, tapi
yang banyak omong kok ndak lebih dari 10. Itupun
ngomongnya jelas-jelas bukan konsumsi massa
pemilihnya.
Sebagai partai yang berhasil memenangkan pemilu.
Sebagai partai yang ketua umumnya sudah duduk di RI-2.
Maka rasanya jalan akan mulus terbuka lebar kalau
partai ini mulai mengedepankan program-program yang
berbasis kerakyatannya. Partai ini bukan partai yang
harus minggir-minggir bak kerumunan paria berpenyakit
kusta yang harus dihindari, ketika jaman Orba dulu.
Bikin Koperasi Banteng Berjuang, saya jamin, akan
banyak yang merubung. Ini bukan jaman Orba, yang
memajang gambar Bung Karno saja mesti
sembunyi-sembunyi, dan rada malu.
Lama-lama aku jadi heran pula, tentang ketiadaan
perhatian kepada rakyat yang dilakukan partai ini.
Sebab, ketika rally kampanye mereka lakukan, yang
mereka bawa adalah gambar Bung Karno, yang begitu
dalam perhatiannya kepada rakyat kecil, si Marhaen.
Mengapa keturunannya bahkan 'terkesan' mengacuhkannya?
Salam.
=====
Sugih durung karuwan, sombong didisikno...
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Get personalized email addresses from Yahoo! Mail - only $35
a year! http://personal.mail.yahoo.com/
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--