Pengantar:
Tulisan ini saya ulang dari tulisan seorang rekan netter
di Hiroshima University, Mas Bambang Wijanarko. Pe-
ngulangan tentunya tidak persis sama, karena hanya
berdasarkan ingatan.
(Ngapunten, Mas bila Jenengan ada di salah satu milis-2
ini)
---------------------------------------------------------------------
Seorang pelukis setengah baya yang gandrung
pada tulisan-2 indah bernada spiritual sedang serius
menyelesaikan kaligrafi Sahadatain. Berkali-kali dia
mencoba meramu warna yang pas untuk kaligrafinya
yang telah berupa sketsa pinsil. Dia mencoba meramu
warna latar belakang, dioleskan di kanvas "latihan".
Kemudian dia ramu warna untuk tulisannya. Dicobakannya,
ternyata perasaannya selalu berkata, "Ah, warna ini
telah diungkapkan oleh pelukis lain. Warna ini
milik orang lain" dan lain-lain perasaan tak enak
kalau disangka menjiplak. Walau hanya berupa warna.
Sedang tak sadar, dia telah menjiplak bulat tulisan
Sahadatain itu.
Anaknya yang baru berumur 5 tahun, diam-diam
memperhatikan tingkah laku ayahnya. Tahu-tahu dia
comot kwas butut dan kanvas-2 gagal di sekitar
meja kerja ayahnya. Dia mulai mencoretkan garis-
garis mantap dari panel cat bekas ayahnya yang juga
salah-salah dalam memadukan warna.
"Ayah-ayah, aku bisa menggaris seperti Ayah"
"Ah, anakku, sedang menggambar apa?"
"Aku ingin seperti ayah, menggerakkan barang
ini setelah diberi warna ujungnya, Ayah. Bagus
nggak?"
"Bagus-bagus..." katanya sambil terbelalak, ternyata
torehan garis anaknya demikian tegas, berwarna merah
menyala di atas warna latar yang tidak keruan, karena
ditorehkan di atas kanvas gagal miliknya.
"Makasih Ayah, tapi kenapa Ayah lama sekali
menggambar garis? Sedang garis saya ini dibilang
bagus?"
"Oh, hehehe, Anakku, kau memang cerdas. Coba
kalau pakai ini bagaimana, torehkan lagi garismu
itu Nak!" katanya sambil memberikan kanvas baru
yang putih bersih.
Kembali anak pelukis itu dengan tegas menorehkan
garis merah menyala di atas kanvas putih bersih. Sang
Ayah kembali terkesiap. Dia merasa dapat ilham. Ya
akan dia tiru anaknya menorehkan garis dengan tegas
dan dia pilih lagi kanvas baru. Kanvas lama yang sudah
ber-sketsa disingkirkannya. Dia mulai melukis. Lukisan
kaligrafi bergaya kanak-kanak.
"Ayah, bolehkah kertas ini saya pakai menoreh garis?"
Tanpa menoleh Sang Ayah mengiyakan. Si Anak berlari
membawa kanvas berketsa, kwas dan panel cat menuju
kamarnya di atas loteng.
-------
Selesai melukis, dengan takjub pelukis itu memandangi
lukisannya sendiri yang diilhami ulah anaknya. Maka
diberinya judul lukisannya itu "Sahadat dari Anakku"
Tiba-tiba terdengar teriakan anaknya dari loteng.
"Ayaah.. Ayah, aku sudah selesai menggaris Ayah.
Tapi kenapa kertasnya terlalu sempit? Lihatlah Ayah,
aku tak bisa keluar kamar, takut menginjak garis!"
Sang Ayah terkejut ketika menengok kamar anaknya.
Terlihatlah torehan-2 garis warna-warni sepenuh kamar.
Namun di kanvas bekas miliknya tetap saja tertoreh
garis merah menyala. Aneh, justru garis-garis segala
warna di kamar anaknya membentuk komposisi
ALLAH berulang-ulang dalam tulisan Arab!
Duduk bersimpuh Pelukis itu, sambil membatin,
Yaaa Tuhan, betapa Engkau tanpa batas. Mengapa
demikian hinanya hamba mencoba melukiskanMu
pada sebidang Kanvas saja? Kepada siapa Ya Tuhan
hamba meminta agar memberitahu Anakku, bahwa
dia telah mengajari ayahnya, memahami Mu.
salam,
Bogor, 1 Maret 2001
Ki Denggleng Pagelaran
--------------------------
apa bedane uwong ambek
manungsa?
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--
