Membaca ini terus saja teringat milis FID banyak hal yang luarbiasa 
dikerjakan oleh orang-orang kecil tetapi orang-orang yang bererot 
gelarnya tidak bisa berbuat apa-apa.

Kompas sabtu 10 maret 2001,

Siang tadi aku beli baju
Harganya murah
Harganya murah bojoku
Pundaknya sedikit sobek
Sedikit sobek bojoku
Bisa dijahit tapi
Nanti akan kubelikan benang
Akan kubelikan jarum
Untuk menjahit bajumu nojoku

Untukmu bojoku
Baju itu untukmu

    PETIKAN sajak di atas ditulis oleh penyair, Wiji thukul, ketika ia 
sedang dalam pelarian. Ungkapan kerinduan seorang suami pada 
istrinya dan si istri, Dyah Sujirah alias Mbak Sipon (34), merasa 
sesak setiap kali membaca sajak tersebut. Baju loak yang sobek 
pundaknya itu tak pernah sampai ketangannya. Barang kali Wiji 
Thukul tak pernah atau belum sempat mengirimkannya, atau karena 
tak ada yang bisa dititipi. Atau ada penyebab lain yang kita tak tahu 
tentang nasib si baju, sebagaimana nasib si penyair sendiri yang tak 
tentui rimbanya.
    Namun, Sipon masih menunggu bersama dua anaknya, Nganti 
Wani (10) dan Fajar merah (6), di sebuah rumah sederhana di 
kampung kalangan di Solo. Hari-hari penantian mereka telah 
mencapai hitungan tahun. Sudah sejak pertengahan tahun 1996 ibu 
dua anak itu praktis hidup tanpa suami. Namun, saat-saat itu kadang 
nasih datang secara sembunyi-sembunyi pada tengah malam untuk 
kemudian pergi lagi. Kontaknya terakhir adalah pada awal Februari 
1998 via telpon, yang menyatakan apakah benar sipon sakit? Sejak 
itu, Sipon dan keluarganya yang lain tak lagi mendengar kabar 
secuilpun dari wiji thukul...

    Di manakah dia? terlalu banyak kabar-kabur  yang sering 
menenkan dada Sipon tentang kebebradaan Suaminya. Termasuk 
ketika salah sebuah koran Jawa Tengah mengabarkan bahwa 
suaminya berada di jerman; atau kabar lain yang menyatakan kini 
Wiji thukul berada di Belanda atau malah di Australia. Semua kabar 
itu terlalu simpang siur dan sulit dibuktikan. Setiap kali mendengar 
kabar semacam itu malah sering membuat dada ibu muda itu 
merasa sesak. Ia tak percaya bahwa suaminya "baik-baik dan sehat-
sehat" saja hidup sendirian negeri antah berantah.
    Dulu, ketika suaminya mulai aktif di PRD (Partai Rakyat 
Demokratik) seseorang menasehatinya: sebagai istri, ia harus 
menerima aktivitas suaminya yang terjun ke politik, kalau enggak ya 
akan sakit sendiri. Sipon menerima dan mengerti apa yang 
dikerjakan suaminya, tetapi bukannya tanpa rasa untuk sagala 
penerimaan dan penegertiannya itu.
    Menyaksikan mata suaminya terluka dipopor militer karena 
memimpin memimpin demontrasi buruh  di pabrik tekstil PT. Sritex, 
Sukoharjo (Jateng) di Tahun 1995, atau ikut terpanggil untuk di 
introgasi di Markas Korem 074/Surakarta karena "keterlibatan" 
suaminya, kena pukul sekali dan terpaksa mengigit punggung anak 
keduanya yang waktu itu masih balita supaya menangis untuk 
melepaskan diri dari introgasi tersebut. Rasa bersalahnya terhadap 
anaknya itu tak pernah hilang sampai sekarang.
    Sejak itu "undangan" dari pihak berwajib tak lagi ia hiraukan meski 
dengan kata-kata yang lebih sopan, seperti undangan untuk 
"membicarakan" mengenai Wiji thukul, atau undangan Silaturahmi 
mengenai Wiji Thukul. Juga belum lama ini, sesudah acara "Thukul, 
pulanglah" yang diadakan di lima kota (Jakarta, Yogyakarta, Tegal, 
Surabaya dan Solo), Sipon kedatangan tamu. Tamu yang tampak 
"resmi" tersebut menyatakan ingin membantu pencarian suaminya, 
tetapi tamu tersebut juga membujuk apakah tidak sebaiknya Sipon 
mulai melupakannya dan memikirkan masa depannya sendiri dengan 
menikah lagi misalnya. "Mengapa bapak membujuk saya untuk 
menikah lagi? Apakah bapak sebenarnya memang tahu bahwa 
suami saya sudah meninggal?"

Besambung...    
Bhak Sipon, penantian seorang istri II 


...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<-- 
















Kirim email ke