Mereka membangkang = mereka punya maksud tertentu, mereka sudah
tidak se-aspiratif dengan partainya, yach partainya jelas dong
nggak mau punya kader yg ngeyel, AR bersuara karena suara AR =
suara partai, wong dia sebagai pimpinanannya makanya yg bandel2
perlu diberikan tindakan disiplin, kalau tidak salah
PDIP kan udah ngelakuin duluan.

Prinsipnya jika kita memilih partai adalah partai yg sejalan
dengan keinginan kita makanya kita mau jadi anggota, kalau nggak
mau lagi, yach bisa keluar sendiri atau dikeluarin (dipecat).

Salam,
-------

Daniel,
Menteri Pendidikan Nasional Yahya Muhaimin dan Menteri Tenaga Kerja Al
Hilal
Hamdi untuk tidak "memenuhi" perintah Amien Rais agar mundur dari kabinet
Presiden Abdurrahman Wahid merupakan keputusan yang tepat. Sekaligus
memberi
kita semakin banyak indikator bagaimana karakter dan etika politik dari
seorang Amien Rais.

Saya katakan tepat, karena, jabatan menteri yang memilih, mengangkat,
memberhentikannya adalah hak prerogatif Presiden. Menteri bekerja membantu
Presiden untuk mengurus negara ini. Sekalipun seorang menteri berasal dari
sebuah parpol tertentu, sebagai menteri, dia bekerja untuk negara, bukan
untuk parpol-nya. Parpol yang bersangkutan harus rela melepaskannya bekerja
penuh dan independen, membantu Presiden. Sangat rancu, kalau seolah-olah
parpol juga mempunyai wewenang untuk "memberhentikan" seorang menteri (yang
kadernya)dengan menyerukannya supaya mundur (kalau tidak mau, dipecat
sebagai kader).

Apabila kerancuan ini dibiarkan, maka akan terjadi setiap kali garis
kebijaksanaan sebuah parpol menjadi tidak sejalan dengan kebijaksanaan
(kepala) pemerintah. Lebih-lebih kalau parpol tersebut terdiri dari mereka
yang oportunis dan hanya memperjuangkan kepentingan ambisi politik pribadi
dan atau golongan yang bertentangan dengan pemerintah, sewaktu-waktu parpol
itu akan menarik menterinya di kabinet. Ini baru satu parpol. Bagaimana
kalau ada lebih dari satu parpol yang bersikap demikian? Bukankah
penyelenggaraan pemerintahan negara akan selalu terganggu dengan ulah
parpol-parpol tadi? Sehingga, yang terjadi seolah-olah kepentingan parpol
menjadi lebih tinggi daripada kepentingan menteri membantu Presiden
mengurus
negara dan bangsa ini.

Berangkat dari pandangan inilah, maka saya melihat bahwa manuver Ketua Umum
PAN Amien Rais yang menyerukan Yahya Muhaimin dan
 Al Hilal Hamdi untuk mundur sebagai menteri dari kabinet Presiden
Abdurrahman Wahid, dengan ancaman dipecat, sarat dengan kepentingan politik
oportunis, dan semata-mata berlatarbelakang konflik politik dirinya
(bersama
kelompoknya) dengan Abdurrahman Wahid. Perhitungannya, dengan mundurnya
kedua menteri tadi, akan semakin memperlemah posisi Abdurrahman sebagai
Presiden, sehingga semakin mudah dijatuhkan di tengah jalan. Sesuai dengan
ambisi politiknya.

Seharusnya sebagai seorang politisi yang baik, dan betul-betul bekerja
untuk
kepentingan bangsa dan negara ini Amien Rais mengerti bahwa walaupun ada
kader parpol yang dipimpinnya menjadi menteri, dia tak berwenang untuk
menyerukan kader tersebut untuk mundur. Dengan ancaman kalau tidak mau,
akan
dipecat. Karena begitu orang tersebut menjadi menteri, berarti dia adalah
pembantu presiden (untuk mengurus negara). Presidenlah yang berhak
memberhentikan menterinya. Sekalipun menteri itu sendiri secara pribadi
berkehendak untuk berhenti. Dia tidak bisa langsung berhenti begitu saja.
Tetapi, secara formal, harus mendapat persetujuan dari Presiden.

Apalagi dari kedua menteri yang disuruh berhenti itu, hanya Al Hilal Hamdi
yang betul-betul berasal (kader) PAN. Sedangkan Yahya Muhaimin bukan kader
PAN. Dia berasal dari Muhammadiyah yang 'kebetulan' tempo hari pernah
direkomendasikan Amien Rais kepada Presiden. Apabila alasan yang terakhir
ini hendak dipakai Amien Rais untuk merasa berwenang menyerukan juga Yahya
Muhaimin mundur, maka perpolitikan seorang Amien sarat dengan politik
hutang
budi. Ini sangat mirip dengan pernyataan baru-baru ini, yang mengatakan
kalau Megawati naik sebagai Presiden, dia jamin Megawati tidak akan
diganggu
asalkan tidak mengulangi kesalahan Gus Dur yang tidak mengakomodir
kepentingan politik golongan yang merasa paling berjasa menaikkan Gus Dur
sebagai Presiden. Padahal orang yang sama berkali-kali mengecam kalau ada
manuver politik dagang sapi. Apakah politik hutang budi ini bukan sama
dengan politik dagang sapi yang dikecamnya sendiri itu?

Yahya dan Al Hilal telah menolak seruan Amien Rais. Mungkin mempunyai
pertimbangan tersendiri. Meskipun alasan resminya adalah karena masih
banyak
pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Alasan yang lebih tepat, mungkin
adalah karena kedua orang menteri ini sudah tidak merasa cocok lagi dengan
sepak terjang politik Amien. Sehingga memilih tidak mengrespon seruan
Amien.
Yahya Muhaimin yang adalah kader PAN, juga tak merasa perlu  takut untuk
tidak menjalani seruan Amien, sekalipun telah diancam untuk dipecat.
Mungkin
saja, Yahya memilih lebih baik dipecat, daripada terus bergabung dengan
Amien, yang semakin lama semakin jauh dari platform PAN. Jadi,
pertimbangannya bisa jadi mirip dengan keputusan Faisal Basri dkk, yang
memilih hengkang dari PAN yang dianggapnya semakin tak onsisten dengan
platform partai.



...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<-- 
















Kirim email ke