UNDANGAN TERBUKA No : 70/AJI-JAK/E/III/01 Hal : Undangan Lamp : leaflet (txt. file) Kepada Yth. Para jurnalis dan pecinta seni Dimanapun berada Dengan hormat, Bersama surat ini, kami mengundang teman-teman sekalian untuk datang pada acara 'Jurnalis Memutar Film' yang diselenggarakan atas kerjasama Klub Film Jurnalis AJI Jakarta dengan The Japan Foundation tersebut. Acara ini akan berlangsung setiap hari Rabu Minggu Kedua dan Keempat setiap bulan, mulai bulan April ini (info selengkapnya ada di leaflet yang kami lampirkan dalam bentuk txt file). Adapun jadwal putaran I acara tersebut: Film : Wind of Change (Sutradara: Srikaton, Miles Production 2000) Hari, tanggal : Rabu, 11 April 2001 Pukul : 16.00-19.00 Tempat : The Japan Foundation, Summitmas I Lt. 2, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 61- 62, Jakarta Pusat. Narasumber diskusi : Seno Gumira Adjidarma Topik diskusi : Mengambil Inspirasi dari Wind of Change: Bagaimana Jurnalisme 'Menyisir' dan 'Menghidupkan' Realitas Atas perhatian teman-teman sekalian, kami ucapkan terimakasih. Hormat Kami Klub Film Jurnalis AJI Jakarta A.Supriyanto Koordinator NB: Mohon disebarluaskan, ke teman-teman yang lain dan ke milis-milis yang lain. Lampiran (Leaflet): Jurnalis Memutar Film Film adalah Cermin Realitas Sosial. Film berupaya membongkar sisi- sisi yang terang maupun gelap dalam masyarakat. Dalam hal ini, film terkait dengan jurnalisme. Karena itu, jurnalisme bisa dipelajari, dan mengambil inspirasi dari film. Kami mengundang anda, pecinta seni dan peminat jurnalisme, untuk menyaksikan film-film investigasi, (semi) dokumenter dan fiksi yang berbobot serta mendiskusikannya dalam "kacamata" jurnalisme. Jadwal "Jurnalis Memutar Film' April Dwiminggu I (11 April 2001. Pukul 16.00-19.00 WIB ) Wind of Change (Miles Production, 1999/2000) Sutradara: Srikaton Narasumber: Seno Gumira Adjidarma* Film ini menjadi "cermin" untuk memahami nasib orang-orang biasa di Indonesia, setelah negeri ini dihantam krisis politik dan ekonomi. Ada hari buruk yang tak terlupakan, ketakutan, sekaligus impian dan harapan. Dwiminggu II (25 April 2001 Pukul 16.00-19.00 WIB) Riding the Tiger (Olsen Levy production, 1992) (Tiga seri: Kings and Coolies, Freedom or Death, dan The New Order) Sutradara: Curtis Levy dan Kristine Olsen Narasumber: Budiarto Danudjaya* Film ini mengisahkan perjalanan sebuah negara-bangsa yang berupaya membuang bekas kolonialisasi dan berjuang untuk menyelamatkan kebudayaan spiritualnya lewat pembangunan. Mei Dwiminggu I (Rabu, 16 Mei 2001 Pukul 16.00-19.00 WIB) Welcome To Sarajevo (Graham Broadbeat, Damian Jones, Paul Sarony) Sutradara: Michael Winterbottom Narasumber: Leyla S. Chudori * Film ini menggambarkan perspektif luar sebuah konflik: bagaimana peran media massa. Seorang reporter TV yang berada di medan konflik kecewa. Mengapa media massa "menyihir" pelaporan perang menjadi hiburan yang menyesatkan masyarakat? Dwiminggu II (Rabu, 30 Mei 2001 Pukul 16.00-19.00 WIB) Death of The Nation (John Pilger dan David Munro) Sutradara: John Pilger dan David Munro Narasumber: G. Junus Aditjondro* Pada 1998, John Pilger dan David Munro memasuki Timor-Timur. 23 tahun sebelumnya, sebuah tim wartawan terbunuh oleh tentara Indonesia. Sebuah investigasi atas kekerasan dan ketakutan massif yang melanda negeri itu, selama pendudukan tentara Indonesia. Tempat: The Japan Foundation, Summitmas I, Lt. 2-3, Jl. Jend. Sudirman Kav. 61-62, Jakarta 12190. Telp.5201266 ext 111 * dalam konfirmasi TOR DISKUSI "Jurnalis Memutar Film" Minggu I Waktu : 11 April 2001. Pukul 16.00-19.00 WIB Judul Film : Wind of Change (Miles Production, 1999/2000) Sutradara : Srikaton Topik diskusi : Bagaimana Jurnalis(me) "menyisir" dan "menghidupkan" realitas Narasumber diskusi : Seno Gumira Adjidarma Sinopsis: Film ini berkisah tentang manusia Indonesia pasca krisis politik dan ekonomi. Ada hari-hari buruk yang tak terlupakan, ketakutan, sekaligus impian-impian dan harapan mereka. Ada segmen tentang Mariman pedagang keturunan Cina yang mengalami "trauma" akibat kerusuhan Mei 1998. Kenangan buruk itu membuat hidupnya selalu dihantui kekhawatiran. Ia pun sangat protektif terhadap anggota keluarganya dan menyimpan sebuah golok besar di rumahnya. Lalu ada segemen tentang Amir. Dari Ambon, ia berkelana ke Jakarta dengan satu tujuan: bertinju dan menjadi juara dunia. Namun, nahas nasibnya. Berpuluh kali naik ring, hampir selalu kalah. Tapi, Ia tetap yakin, suatu saat mimpinya jadi kenyataan. Segmen terakhir menceritakan Tino, seorang fixer yang bekerja untuk pekerja TV asing. Ia dipandang teman-temannya memiliki pekerjaannya "keren". Tapi ia mengalami dilema, karena ia sadar bahwa pekerjaan yang dilakoninya, sesungguhnya hanya pekerjaan rendahan. Diskusi: Wind of Change memberi inspirasi tentang bagaimana jurnalis harus "menyisir" realitas. Film itu hendak bercerita tentang sesuatu yang lebih besar, tentang mentalitas manusia Indonesia pasca krisis. Tapi, hanya dengan bercerita tentang tiga orang yang dikemas secara artistik, grand story itu telah terwakili. Bagi jurnalis muda, masih banyak pertanyaan tentang bagaimana cara menyisir fakta di lapangan dan memilah-milahnya antara yang penting dan yang tidak penting. Nah, apa yang harus dipilih untuk menggambarkan carut-marut realitas yang sesungguhnya? Apakah sisi-sisi yang "ekstrim" (katakanlah seperti dalam Wind of Change) bisa merepresentasikan realitas? Di sisi lain, Wind of Change-seperti juga film lainnya- bisa "menghidupkan" realitas, dengan pencapaian artistik. Sebuah laporan jurnalistik, feature, juga dihadapkan pada persoalan serupa. Sebuah tulisan yang "artistik", tentu akan bisa "menghidupkan" realitas, dan menarik para pembaca. Lalu, apa kiat-kiat untuk menyuguhkan sebuah laporan/tulisan yang "artistik"? Apakah itu yang disebut jurnalisme sastra, yang hari-hari ini banyak diomongkan itu? Program ini terselenggara berkat kerjasama The Japan Foundation dengan Klub Film Jurnalis (KFJ). Program bertujuan untuk mengajak para jurnalis untuk belajar tentang jurnalisme, dan mencari inspirasi tentang jurnalisme lewat film. Program ini diluncurkan sebagai bentuk kepedulian terhadap sebagai jurnalis muda yang kesulitan meluangkan waktu untuk memperdalam pengetahuannya, akibat beban kerja yang bertumpuk. Dengan menggunakan medium film, jurnalis diharapkan dapat menikmati suatu "pembelajaran" jurnalisme sekaligus mengapresiasi seni. Selain itu, program ini diharapkan mampu memperat tali persaudaraan antar jurnalis dari beragam organisasi profesi serta beragam media. Klub Film Jurnalis (KFJ) didirikan oleh jurnalis-jurnalis budaya dan penggemar film di lingkungan AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Jakarta, sebagai wahana untuk menumpahkan gagasan dan kreatifitas para jurnalis budaya, di luar "kantor". Dalam menjalankan aktivitasnya, KFJ mengundang partisipasi seluruh jurnalis di Jakarta. Informasi tentang program ini bisa ditanyakan pada: The Japan Foundation, Summitmas I, Lt. 2-3, Jl. Jend. Sudirman Kav. 61-62, Jakarta 12190. Telp.5201266 ext 111 Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta Jl. PAM Baru Raya No. 16, Pejompongan, Jakarta Pusat. Telp/Fax (021) 5727018 ...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............ Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] ->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--
