300 Orang Kejar Anggota DPRD Solo ke Hotel Sahid Raya
Reporter: Muchus Budi R
detikcom - Solo, Sekitar 300-an orang mendatangi Hotel Sahid Raya Solo,
tempat DPRD Solo bersidang, Selasa (10/4/2001). Mereka yang terdiri dari
Penyandang Cacat (Penca) dan Koalisi Rakyat Surakarta menuntut jaminan kerja
bagi penyandang cacat dan menolak RAPBD Solo tahun 2001, terutama tentang
rencana kenaikan gaji DPRD yang mencapai lebih dua kali lipat.

Sebelumnya mereka mendatangi gedung DPRD kota Solo. Tapi, karena semua
anggota dewan berada di Hotel Sahid Raya, maka mereka kemudian ramai-ramai
menuju hotel tersebut dengan naik bus-bus, mobil maupun sepeda motor.

Kepada penyandang pimpinan DPRD berjanji akan mengirim surat ke pemerintah
pusat sesuai tuntutan Penca yang meminta jaminan mendapatkan pekerjaan di
perusahaan-perusahaan. Hal tersebut, menurut DPRD Solo, karena Solo
merupakan pusat rehabilitasi dan sekolah Penca se-Indonesia, sehingga
penanganannya dilakukan oleh pemerintah pusat di Jakarta.

Sementara itu, Koalisi Rakyat Surakarta (KRS) menilai, proses penyusunan
RAPBD 2001 Solo menyalahi proses dan mekanisme penyusunan sebuah kebijakan
publik. Bahkan, menurut KRS yang merupakan koalisi dari sejumlah LSM, Ormas
kepemudaan, organisasi profesi hingga para makelar tersebut menilai DPRD
tidak punya rasa malu jika menyetujui rencana kenaikan gaji mereka yang
mencapai lebih dari 100 persen.

Menurut salah seorang wakil KRS, Eko Sulistyo, dalam penyusunan RAPBD
seharusnya melibatkan masyarakat, karena ruang bagi masyarakat dalam
penyusunan maupun pengawasan kebijakan publik diatur oleh undang-undang.
Untuk diketahui, dalam proses penyusunan RAPBD tersebut, Ketua DPRD menolak
dilakukan public hearing.

"Saya menyayangkan sikap ketua DPRD yang menolak public hearing, karena itu
adalah perwujudan sikap antidemokrasi. DPRD telah merusak citranya sendiri,
hanya untuk kepentingan sesaat," tandas Eko yang juga direktur eksekutif LSM
Gita Pertiwi, sebuah LSM Lingkungan Hidup di Solo tersebut.

Pernyataan yang lebih keras datang dari Achmad Abu Yazid, wakil KRS dari
sebuah Ormas Islam. Yazid meminta dewan menunjukkan hasil kinerjanya selama
ini jika menginginkan gaji naik. Ia juga menyampaikan aspirasi sejumlah
kalangan di masyarakat yang akan mogok bayar pajak jika DRPD menyetujui
RAPBD dan kenaikan gajinya, sementara RAPBD tahun ini, Solo mengalami
defisit.

Menanggapi hal itu, Bambang Mudiarto mengatakan bahwa tidak diadakannya
public hearing adalah mengingat keterbatasan waktu dalam penyusunan.
Sementara itu, tentang penolakan gaji dewan, ia akan membicarakan dengan
seluruh anggotanya. Dalam RAPBD 2001 dianggarkan bahwa take home pay gaji
dewan naik dari Rp 2,4 juta menjadi Rp 5,8 juta.

Kecam Media

Namun usai menerima aksi tersebut, DPRD Solo mengeluarkan sebuah pernyataan
sikap yang isinya mengecam keras pemberitaan di media yang dianggap
memojokkan, bahkan mengarah pada character assasination terhadap DPRD dan
pribadi-pribadi anggotanya sehubungan dengan rencana kenaikan gaji tersebut.

"Kami menduga kuat ada konspirasi yang sengaja untuk mengalihkan perhatian
masyarakat dari pencermatan terhadap APBD secara keseluruhan kepada sensasi
kenaikan gaji anggota DPRD," demikian bunyi salah satu butir pernyataan
sikap yang ditandatangani ketua DPRD Solo tersebut. (asy/y)






...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<-- 

Kirim email ke