Ya gitu, dik. Sengkarut yang berlanjut-lanjut ini kan
sudah ndlewer ndak karu-karuan. Wong cilik ini ya
harus tetep cilik, manut saja, ndak usah rame-rame,
malah dikira mau bikin geger, sehingga butuh bis
sampek rolas banyaknya itu. Wakil rakyat yang harus
dijaga baik-baik, supaya gak ketemu rakyat di jalan,
sehingga gagal rapat. Eh.. siapa tahu, ada rakyat yang
nyamperin lalu ngajak ngobrol. Lak perot... eh repot?

--- Ki Denggleng Pagelaran <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
> Cak,
> Aku jadi heran dengan ceritamu itu. Kenapa persis
> benar
> dengan solusi yang ditawarkan oleh AAM, bahwa yang
> berhak menentukan syah tidaknya putusan DPR atau
> Presiden dalam berkonflik adalah MPR... 

Rakyat sih mikirnya sederhana saja. mana sempat mereka
belajar UU segala. Maunya ya sak deg, sak nyet. Logika
sederhananya begini, ya harus begini. Mulakno tah, kan
terus ada yang gak srantan, terus nepuk-nepuk dada,
'nih gua, PBM'. Ini kan rakyat yang sudah empet, kayak
Kresno yang segera mau triwikrama itu. Cumak kalau
kresno klakon bolehnya Triwikrama, rakyat cuma bisa
ngeden-ngeden saja.

Mereka kan sudah mempelajari lika-likunya UU, sehingga
'sabar sedikit napa, sih? Kok mau langsung SI?'
Mangkanya AR kan lingsem kebrojolan omong dulu. Soal
GD lengser itu kan tinggal nunggu wektu saja. Agustus
ini kan sudah bisa dilangsungkan pesta pelengseran
itu. Dan kita bisa perhatikan, bagaimana coro-coro itu
akan melantunkan shalawat badar-nya, karena menang.
Menang ?

> 
> Wah, betulnya semalem aku mau kasih komentar lewat
> telepon. Apa daya telepon-ku masih manual di kamar,
> sedang TV ada di ruang umum.. jadi ndak nyambung
> blas. Yang akan kusampaikan kepada yang mulia
> pengamat itu yaa seperti tulisan Sampeyan itu.
> Bahwa DPR itu kedudukannya kuat (setimbang dengan
> Presiden), karena ya itu tadi. DPR 100% merangkap
> anggota MPR. Lak gebleg, karena anggota MPR
> yang DPR : non-DPR adalah 5 : 2...  Tambah lagi
> yaitu, ketua MPR-nya itu yang ndak nguwati blas.

Secara sepintas, soal anggota DPR merangkap MPR itu
ada betulnya para bapak bangsa dulu merencanakannya.
Mereka kan berpikiran alus, tanpa purbasangka
macem-macem ketika merencanakannya.

Coba, siapa yang ngasih kerjaan kepada presiden untuk
dijalankan dalam masa pemerintahnya, MPR, kan ? Nah
DPR adalah lembag yang dibangun untuk menjaga agar
presiden ora mencla-mencle bolehnya memerintah. Oleh
karena itu, siapa yang harus ada di DPR?

Kan lucu, to, kalau yang ngawasin presiden itu gak
weruh apa-apa soal apa yang mesti dikerjakan presiden
yang diawasinya tadi. Maka isi DPR ya orang-orang dari
MPR tadi. Itu kan sudah daripada benul, toh ?

Cuman dasar badut konyol, yang melihat celah dalam
rangkaian UUD kita tadi, yang bisa dibikinkan tafsir
nyleneh, namun masih konstitusional, untuk njebak
presiden yang dipandang neka-neka tadi. Ya tergantung
gimana jenis kelakuan yang ada di lembaga itu tadi,
tah?

Dulu mereka bisa bikin pidato Nawaksara-nya Soekarno
sebagai alat bulan-bulanan untuk menjungkirkan
presiden pertama kita itu. Lalu selama 30 tahun
berikutnya, bagaimana mereka dengan begitu kuat
njagani (atau dipaksa) Soeharto.

Nah sekarang, GD yang dicincang.

> (AR sekarang lagi ngapain ya?)

Ya kayak kalau msitu nonton bal-balan yang jago-jago
itu, to, dik. Tangan dikepal, terus ditarik dari atas
ke bawah, sekencang-kencangnya, dengan mengempos hawa
murni sambil berucap 'Yes !'. Terus gulung koming,
pating glundung. Saben ketemu orang diambungi. Kowe
mau toh diambung AR ? Selebriti, lho ?

> 
> Ada lagi pengamat yang sanggup jadi presiden (paling
> tidak pernah merasa sanggup untuk mresiden).
> Pengamat
> dan ekonom katanya sih. Tapi duh Caaaak.. calam
> melihat masalah bangsa ini terlalu amat sangat
> ngodok-
> njeron mbatok... moto mlolok gak delok blas. Masalah
> bangsa ini terjemahannya sebatas pada:
> 1. dijothak-nya NKRI oleh IMF dan WB
> 2. nilai tuker rupiah thd. dollar
> Diajak mikir lebih jauh sama Cak Matori, malah
> mutung dengan selalu bertanya dan ngeyel.. sampai
> 'hahahaaaa....' itulah jawaban Cak Mat diakhir
> wawancara jarak jauh, tadi siang di MetroTV...

Dia kan milih yang paling ndak mungkin, toh, dik.
Kalau cuma mau nangkep orang KKN, wong akeh, kok, ya
tinggal cak-cek saja. Perkara nanti diteruskan atau
tidak, ya disimpen sebulan opo-o ?

Atau mau bagi-bagi kursi kabinet? Lah, tambah gampang
lagi. Haknya GD kan untuk mrerogatifi kabinet seperti
itu? Gogon dadekno mentri-mudo-urusan-peranakan-wanito
pasti langsung pesen jas dia. Sujud syukur pula.

Atau minta maaf ke DPR? Piro suwene, wong GD itu
pawakan ulo, sing gampang plungkeran, kok. Ya, DPR,
aku minta maaf. Ayo aku disuruh apa lagi?

Lha kalau disuruh nurunin dolar? Wah, piro dolare GD.
Gak bakal mungkin. Nguyahi segoro namanya. Wong dolar
semua pada dibawa yang bikin kucar-kacir negeri ini,
kok. Berapa-berapa saja dolarnya GD gak bakalan bikin
dolar mlorot. Banyak faktor yang berada di luar GD,
sehingga entry-an inilah yang paling mungkin untuk
menilai kinerja GD. Edan, kan?

> 
> Ampuuuun... jangan-jangan para pengamat (minus Bung
> Indra deh..;{) ) tak lain adalah partisan DPR. Entah
> dengan
> target apa nanti seandainya GD jadi dilengserkan.

Ya sebelum tujuan tercapai, ya akan ganti lagi yang
bakal dipisuh-pisuhi. Lihat saja komentarnya Al
Chaidar, yang bilang, MW tetep gak bisa mresiden, wong
wedok kok. Nanti malah sering beser, mungkin begitu
maksudnya.

Sak jan-nya, aku ndak soal GD ora mresiden apa ora.
Aku jugak nggak ada urusan dulu kok sempat-sempatnya
negara ini dipresideni sama Soeharto atau Habibie.
Cumak yang tak pikir kemudian, bayangkan kalau
mbakyu-mu yang mresiden. Apa ndak bakal digoda terus?
Padahal, maksudnya cuma mau nggoda mbakyumu itu, tapi
kayak yang sekarang ini, GD yang diubrek-ubrek, rakyat
yang harus membayar kebutuhan hidupnya lebih mahal
dari kemarin-marin.


> Hanya saja aku kok jadi ketawa ya. Ketawa dengan
> pendapat mantan menteri kehakiman dan ham,
> YIM, yang menunggu pemberhentian dari presiden
> untuk mundur. Daripada menyerah dengan mundur
> duluan.. takut disangka kalah.. hahahaa... mungkin
> GD
> memetik pelajaran dari mantan anak buah ini ya Cak?

Ada hasilnya juga lho YIM mundur. Sebab, dari berbagai
pedato yang tadi siang paling lumayan bolehnya
nyinggung dalil-dalil ketatanegaraan, fraksi FBB lebih
indah, lho. Proficiat !

> 
> Yang jelas sih selama sidang tak lihat banyak
> anggota
> yang tertidur, baca koran atau sedang
> 'berhand-phone'
> ria. Padahal menurut tatakramanya dalam bersidang,
> apalagi sidang DPR... apa pantas membiarkan HP
> stand-by? Jangan-jangan anggota DPR yang gini-gini
> ini nanti langsung aja angkat tangan setuju bila
> ditawari
> apapun oleh panitia sidang. Lha blas ndak ngikutin
> kok.

Ngapain mrehatiin sidang, dik. Wong skenarionya sudah
jelas, kok. Lagian, apa ya semua uteq yang di situ itu
main kabeh? Kan cukup ketua fraksi, atau setidaknya
satu dua orang saja yang benar-benar punya simpenan
omongan. Yang lainnya kian cukup ndlahom semata?

Kalau HP idup itu kan siapa tahu ada orderan yang
tiba-tiba muncul pada detik terakhir. Makanya PDI-P
disetel ngomong pertama. Sebab jangan-jangan mbakyumu
titip pesenan yang lain dari skenario umum. Coba kalau
PDI-P ditaruh buncit, pasti pada ati-ati kabeh. Lha
begitu mbakyumu bikin instruksi Memo II, maka yang
lainnya ya kayak bedes dilepas dari krangkeng, malah
lebih nrunyak segala, tuh.


> 
> Kujurrr tenan!

Iku lah negaramu, dik. Negara di mana kita berada.
sayang kita nggak bisa nyampe ke sana. Adoh. Wong
mikir blanja sama ongkos angkot aja wis pira-pira,
je...

> 
>     Ki Denggleng Pagelaran
> --------------------------------------------

Salam, wis.


=====
Sugih durung karuwan, sombong didisikno...

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Yahoo! Auctions - buy the things you want at great prices
http://auctions.yahoo.com/

...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<-- 

Kirim email ke