Wah wah, Mas Riza lebih paham teorinya pegas dan shockabsorber. Saya biasanya dari dulu hanya dengan sistim " trial & error " sampai ketemu yang cocok untuk saya walaupun belum tentu cocok untuk orang lain karena banyak faktor yang terlibat a.l bobot badan, bobot motor, cara mengendarai, kondisi mayoritas jalan yang dilalui, ban yang digunakan dlsb. Ini saya lakukan baik dengan mobil, moge mapun mocil termasuk skutik dan ini juga yang membuat almarhumah istri suka ngomel karena dia anggap pemborosan uang maupun waktu bila melakukan percobaan-2 begini tetapi saya tetap saja dengan kebiasaan saya. Belakangan lebih gila ( karena sudah sendiri, he he he ) dari percobaan rollers, per CVT, per Kopling, Kopling, Face comp/variator, Ban, Shock dlsb, keisengan kali ya ? Makanya seringkali saya jelaskan kepada oarang yang nanya, ini selera saya lho belum tentu cocok untuk anda jadi silahkan mencoba sendiri. Saya jadi tambah ilmu disini, itulah senangnya di milis ini, yang didiskusikan bukan soal hura-2 saja tetapi lebih banyak soal tehnis dan tukar menukar info/pengalaman dll yang sangat bermanfaat bagi semua, bahkan bagi saya yang sudah tua, ini sudah terbukti kan ? Jadi kesimpulan saya, menyesal orang yang tidak membaca/mengikuti milis ini. Good job Mas, salam ................. Opa Albert.
----- Original Message ---- From: Riza <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Monday, December 18, 2006 10:51:18 PM Subject: [kymco-ID] Cerita tentang suspensi Sudah pernah ada yang ganti shock Kymco pakai punya Vario atau Spin? Kayaknya mereka cukup empuk lho ;-) Siapa tahu cocok ukurannya :-) Perlu disurvey nih ;-) Walau empuk itu belum tentu mendukung safety lho. Soalnya terlalu empuk agak merepotkan di tikungan, ban kurang menggigit. Aneh banget kalau ada yang suka speed freak mengeluhkan suspensi yang keras, mestinya justru lebih cocok dengan yang keras =)) Kalau misalnya motor tidak pakai shock tapi pakai pegas kalau direm ban memantul-mantul, masih inget ketika first ride BMW R67 tahun 53 suspensi belakang tanpa hidrolis sama sekali, hanya pegas = tipe plunger. Meski remnya pakem motor susah untuk berhenti ;)) Pegasnya termasuk keras karena pegasnya disetting pas buat dipasangi sijspan. Untuk melibas tikungan termasuk stabil dan terasa aman. Kalau rigid, sama sekali tidak pakai pegas, keistimewaannya untuk ngedrag, ban sangat menggigit ketika akselerasi, kebalikannya tidak bisa untuk ngerem, ban jadi sangat memantul-mantul, lebih baik remnya pakai parasut saja :-D Suspensi rigid juga tidak bagus untuk melibas tikungan, ban juga memantul-mantul, apalagi aspal di tikungan agak bergelombang, termasuk bahaya buat tikungan apalagi buat traffic modern seperti saat ini. Suspensi sistem ini hanya cocok untuk show bike. Untuk suspensi terbaik motor yang pernah aku punyai, saya masih pegang suspensi BMW R27 intinya sistem suspensi BMW setelah tahun 1955, pada tahun itu terjadi revolusi suspensi di dunia sepeda motor, produksi motor mulai 1956 semua sudah bagus suspensinya, empuk, nyaman sekaligus aman, saat itu semua pakai suspensi hidrolis. R27 selain suspensi empuk tapi juga terasa sebagai suspensi yang pakai per progressive, juga pakai anti tukik di suspensi depannya, kayaknya jenis suspensi ini tak mungkin untuk freestyler ga mungkin bisa stoppie, jok juga masih model pakai per (hampir seperti Vespa, jok model kipas), jadi suspensi double di roda dan di tempat duduk, mesin juga full floating rubbered mounting, sangat nyaman, meski akhirnya Kymco aku anggap lebih halus getaran mesinnya ;)) Kata orang sih untuk melibas tikungan masih enak yg tipe plunger, tapi saya ga setuju dengan catatan suspensinya masih kondisi bagus. Kelemahannya kalau distandar tengah jadi berat banget karena gerakan suspensi menjadikan standar tengah motor harus diangkat tinggi-tinggi, so jadi berat nyetandarin tengah, apalagi tidak pakai standar samping lagi originalnya, meski ada asesoris optionalnya. Hati-hati BMW agak alergi kalau parkirnya pakai standar miring :-( Karena empuk buat ngerem juga kurang stabil, ban gelakang gampang ngepot, mungkin juga dipengaruhi distribusi beratnya, lebih berat kedepan. Ada lagi per model progressive, kayaknya sekarang dipakai segala jenis sepedamotor saat ini, dulu sih aku anggap yang progressive ini justru keras, krn memang keras hehehehe.... coba bandingin dengan suspensi Binter Merzy termasuk tidak pakai per progressive, very soft, bahkan terlalu empuk, kadang ban tidak gembos terasa gembos, selain itu kalau buat berdua pastilah terasa sering mentok, buat touring berdua jarak jauh ada bahayanya, boncenger biasanya akan tertidur hikz... :-( Akhirnya sih suspensi yang bagus menurutku adalah yang moderate, tidak terlalu keras, tapi stabil buat melibas tikungan and tentu stabil buat ngerem. Mungkin dengan kata lain pakai per progressive tapi yang empuk, tapi hidrolisnya yang kuat apalagi bisa adjustable.. ... :-) Tentu suspensi buat balapan kebutuhannya berbeda lagi, suspensinya pasti harus keras. Hehehe.... itu cerita berdasarkan pengalaman saya naik motor, kalau ada yang punya pengalaman lain atau bahkan berbeda silakan diposting ya, saya tunggu lho ;-) Terima kasih. Salam, Riza __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com

