http://www.republika.co.id/2001/18/15077.htm
  Republika Online edisi: 18 Jan 2000
 
Kontroversi Makanan Hasil Rekayasa Genetik Terus Merebak

Betapa hebatnya jagung BT: rasa enak, bentuk bagus, hasil
panen melimpah, umur tanaman pendek, dan tahan hama. Untuk
yang terakhir ini sungguh istimewa. Hama tidak mau mengganggu
tanaman dan buah jagung ini. Jika mengganggu, hama itu akan
mati sendiri.

Rahasia dari keajaiban jagung itu terletak pada BT, yaitu
Bacillus Thuringiensis. BT adalah bakteri yang telah
direkayasa secara genetik ke dalam jaringan sel jagung agar
tanaman pangan itu bisa menghasilkan zat racun untuk hama
tertentu dan tahan terhadap kondisi lingkungan yang buruk.
Berkat BT itulah, jagung rekayasa genetik ini cukup diminati
para petani. Pestisida yang cukup mahal, tak diperlukan lagi jika
menanam jagung BT. Walhasil, biaya penanaman pun irit. Lagi
pula, tak mencemari lingkungan.

Keberhasilan menciptakan jagung transgenik BT, dilanjutkan
dengan penciptaan tanaman rekayasa genetik lain. Kini, ada
kapas, kedelai, gandum, dan lain-lain. Jika petani menanam bibit
BT, niscaya dunia akan berswasembada pangan dan tak ada lagi
pencemaran lingkungan karena pestisida.

Saat ini, tanpa kita sadari, kita pun mungkin sudah
mengkonsumsi makanan BT itu. Misal jagung dan kedelai yang
diimpor dari AS. Jangan-jangan, tempe yang dimakan kita pun,
kedelainya berasal dari rekayasa genetik dengan BT itu tadi.

Nah, jika kita sudah mengkonsumsinya, lantas kita jangan
merasa modern lantaran sudah bisa mencicipi produk makanan
modern itu. Masalahnya, makanan BT itu masih jadi kontroversi.
Kontroversi itu merebak, karena beberapa alasan.

Pertama, benarkah klaim sehat terhadap makanan transgenik
ini? Sebuah laporan menyebutkan, puluhan orang meninggal
dunia setelah mengkonsumsi protein transgenil (L-Tryptophan)
di Amerika Utara tahun 1999. Tak sedikit pula orang yang alergi
terhadap protein transgenik tadi. Kasus itu, lantas memicu
munculnya kekhawatiran manusia terhadap makanan hasil
tanaman transgenik.

Di Eropa dan Australia misalnya, muncul reaksi keras
masyarakat terhadap makanan transgenik dari AS itu.
Konsumen Eropa lebih suka pada makanan asli alam dan
menuntut setiap produk makanan dari AS harus ada label
''bukan makanan transgenik''. Akibat reaksi tersebut, makanan
transgenik tidak mendapat pasaran di negara maju. lantas,
seperti biasa, pemecahannya, produsen pun mengekspornya ke
negara berkembang seperti Indonesia. Di AS sendiri, jagung dan
kedelai transgenik harganya jatuh. Perusahaan makanan tak mau
lagi memakainya karena produknya tak laku di pasar
internasional.

Memang belum ada penelitian, sejauh mana jagung dan kedelai
BT ini berpengaruh terhadap kesehatan. Tapi toh manusia tetap
lebih mempercayai makanan asli alam yang telah terbukti khasiat
dan manfaatnya. Soal makanan, orang tak mau coba-coba.
Terlalu berisiko.

Kedua, apakah tanaman transgenik akan memperbaiki
lingkungan karena bebas pestisida? Ini pun dipertanyakan. Pada
Mei 1999, dilaporkan bahwa benang sari dari jagung BT
menyebabkan kematian hampir setengah ulat kupu-kupu
monarch yang memakan tanaman transgenik tersebut di kebun
percobaan Universitas Cornell, New York. Tragisnya,
percobaan itu baru dilakukan ketika jagung BT sudah ditanam
luas di AS. Seperempat lahan jagung di AS yang jutaan hektar
itu ditanami jagung BT. Bisa dibayangkan, berapa jenis spesies
kupu-kupu yang mati jika memakan benang sari jagung ini.

Tak hanya itu. Penyerbukan silang pun, akan memindahkan
gen-gen asing itu ke tanaman lain yang mirip jagung, seperti
gulma dan sejenisnya. Akibatnya sungguh dahsyat: gulma itu
akan sulit dibasmi herbisida karena gen-gennya sudah ''tersisipi''
BT. Ini berarti, gulma akan mengancam pertanian. Memang
pestisida tak terpakai lagi, tapi gulma akan makin meluas karena
skar dibasmi.

Dari gambaran itu, kini makanan hasil tanaman transgenik yang
dibangga-banggakan para ahli rekayasa genetika sedang
menghadapi dilema. Di satu sisi, membuktikan para ilmuan
mampu menciptakan bibit-bibit baru yang melawan korat alam.
Di sisi lain, produknya dikhawatirkan atau diniscayakan, juga
melawan kodrat alam yang ada pada tubuh manusia.
Persoalannya: mana yang akan dipilih manusia? Apakah manusia
mau memilih kemajuan teknologi tapi membiarkan dirinya diliputi
kecemasan? Atau, manusia memilih bekerjasama dengan alam
sehingga hidupnya tenang?



-===  FREE Handphone @ http://www.indoglobal.com/dedicated.php3  ===-
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/




Kirim email ke