Yth. kawan-kawan sekalian,

Ini ada tanggapan yang berupa kritik terhadap artikel "Muhamad
Mengajarkan Sosialisme Jauh Sebelum Karl Marx" karangan Pak Alam Tulus
yang kemarin-kemarin kukirimkan kepada kawan-kawan sekalian. Artikel ini
dari Pak Syamsie Ali dan saya diminta menyebarkannya--bukan oleh
penulis, tetapi oleh seseorang yang menyampaikannya kepadaku--kepada
kawan-kawan sekalian yang pada waktu itu kukirim artikelnya Pak Alam
Tulus. Adapun selain karena dianjurkan oleh si pengirim agar tulisan Pak
Syamsie Ali ini diteruskan kepada kawan-kawan sekalian, aku sendiri juga
menginginkan adanya sebuah diskursus yang fair, yang terdiri dari
berbagai macam pendapat, sehingga kita tidak terjebak di dalam satu
sudut pandang saja.

Saya rasa sekian. Terima kasih banyak.

Wassalam,
Zaki

*****************************************************************************
           AJARAN RASULULLAH SAW BUKAN FAHAM, MELAINKAN DIEN.

Pertama-tama harus disadari bahwa ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad
SAW bukanlah suatu faham atau isme sebagaimana difahami oleh sebagian
manusia. Muhammad tak lebih dari seorang �Pesuruh Allah� dalam
menyampaikan ajaran Allah yang disebut �Dien� al Islam. Dien adalah
petunjuk agama sekaligus petunjuk hidup yang baku dan mutlak
kebenarannya, karena ia datang dari Yang Mutlak kebenarannya (ALHAQ)
pula. Sedangkan isme atau faham adalah hasil
jangkauan daya fikir manusia yang terbatas dan sangat-sangat relatif.
Dengan demikian, segala upaya yang ditampilkan untuk menjustify bahwa
ajaran Islam adalah buatan Muhammad, Muhammadanisme misalnya, tak akan
pernah diterima oleh seorang Muslim yang sejati.

Dengan demikian, adalah sangat keliru jika ada yang berpendapat bahwa
Muhammad SAW mengajarkan sosialisme, dalam artian suatu faham manusia
seperti yang diajarkan oleh Karl Marx. Nilai sosial yang ada dalam
ajaran Islam hanyalah merupakan bagian dari inti ajaran Islam, namun
nilai ini tidak terlepas dari ajaran Islam yang menyeluruh serta adil
dalam menyikapi kebutuhan hidup manusia, dan yang terpenting bahwa
konsep sosial dalam Islam berbeda dari berbagai konsep-konsep sosial
ciptaan manusia. Dengan kata lain, Islam, selain menekankan pentingnya
hak-hak sosial (huquuq ijtima�iayh) namun juga tidak berarti
menyia-nyiakan hak-hak individual (huquuq infiradiyah). Ajaran Islam
menyeimbangkan antara kepemilikan jama�I (milkiyat jama�iayah) dan
kepemilikan individual (milkiyah fardiyah).

KONSEP KEADILAN KOLEKTIF

Benar adanya bahwa sebelum datangnya Nabi Muhammad, kota Mekah menjadi
salah satu pusat niaga dunia, yang sekaligus menjadikannya sebagai salah
pusat kapitaslime, selain Roma di barat dan Persia di Timur. Kesenjangan
sosial memang hebat, sehingga tingkat perbudakan demikian tinggi. Dan
Islam datang, dengan salah satu tujuan untuk memberantas penyimpangan
tersebut.

Namun alangkah kelirunya, jika disimpulkan bahwa Rasulullah SAW datang
hanya sekedar untuk memberantas ketidak adilan perekonomian tersebut.
Sehingga terlahir kesimpulan lain bahwa permusuhan kaum Kafir Qurays
tidaklah terlahir karena gugatan keyakinan (agama) melainkan karena
dorongan untuk mempertahankan status quo perekonomian mereka.Asumsi di
atas barangkali ada benarnya, tapi berkesimpulan demikian adalah keliru
dan sangat timpang serta sempit. Sebab bagaimana pun juga, dalam
pandangan Islam ketidak adilan sosial-ekonomi hanyalah konsekwensi dari
ketidak adilan dalam kehidupan secara menyeluruh. Sedangkan akar dari
segala
ketidak adilan dalam kehidupan manusia ada pada ketidak adilan keyakinan
atau keimanan yang lazimnya disebut �kesyirikan�. Sehingga dalam Islam
dikenal �syirik� adalah merupakan kezaliman tertinggi (dzulmun adziim),
karena kesyirikan akidak inilah yang melahirkan berbagai bentuk
ketidak-adilan dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk
sosio-ekonominya.

Di dalam Al Qur�an sendiri ditegaskan, betapa yang menjadi pukulan berat
bagi kaum Kafir ketika itu adalah karena ajaran Islam menjadikan segala
sembahan/ketaatan bermuara kepada Yang Maha Tunggal (Ilaah). Sehingga
mereka berkata: �Ayaj�alu aalihatana Ilaahan waahidan? Inna hadzaa
lasyaeun �ajiib�(Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan kita menjadi tuhan
yang satu? Sungguh ini
adalah suatu yang aneh).

Memang benar, semua nabi datang untuk membebaskan manusia dari berbagai
perbudakan; seperti Musa, Isa, Muhammad SAW, dll. Namun semua itu tidak
dapat dipilah-pilah dari pembebasan yang menyeluruh. Pembebasan dari
perbudakan perekonomian, politik, sosial budaya, dll, hanya dapat
terjadi jika dimulai dengan pembebasan akidah dari keyakinan yang bathil
kepada keyakinan yang haq. �Faman yakfur bittaghuut wa yu�min billah
faqadistamsaka bil�urwatil wutsqaa� (maka barangsiapa yang kafir dengan
thagut (segala bentuk penyembahan dan ketaatan selain kepada Allah) dan
beriman kepada Allah maka sungguh telah berpegang teguh kepada tali yang
kuat).

Manusia yang memiliki keyakinan atau akidah yang benar akan terkelompok
dengan sendirinya ke dalam tataran masyarakat tauhidi, yaitu suatu
masyarakat yang kokoh dalam keimanan serta mampu merefleksikan
keimanannya dalam kehidupan yang nyata. Masyarakat inilah yang pernah
melahirkan
�Masyarakat Tunggal� (Ummah wahidah atau ummat tauhidi) yang terdiri
dari berbagai komponen; Abu Bakar,Umar, Ali, Utsman, Bilal al Habsyi,
Ammar bin Yasir, Suhaib ar Rumi, Salman Al Farisi, dll. Mereka adalah
sahabat-sahabat agung yang berlatar belakang yang berbeda-beda, namun
mampu mewujudkan masyarakat tauhidi sehingga perbedaan latar belakang
tidak menjadi alasan untuk membeda-bedakan diri.

PENAFSIRAN HAWA NAFSU

Ajaran Islam sebagaimana telah disinggung adalah ajaran universal, dalam
arti tidak dibatasi oleh masa dan tempat. Ketika Allah menyampaikan
suatu permasalahan dalam ajarannya lewat Al Qur�an, penentangan kepada
para penumpuk harta misalnya, maka tidaklah sama sekali ditujukan untuk
penentangan kepada kaum kapitalis semata, apalagi kalau diasumsikan
bahwa Al Qur�an ini bertujuanuntuk mendukung teori sosialisme. Al Qur�an
datang untuk menentang segala upaya penumpukan harta secara batil.
Dengan kata lain, Islam menghendaki agar keinginan seseorang untuk kaya
tidak harus bertubrukan dengan nilai-nilai sosial manusia, serta tidak
menjadikannya lupa akan misi sesungguhnya dari kehidupan ini
(beribadah).

Dalam agama Islam, mencari dunia adalah kewajiban yang sama dengan
kewajiban agama lainnya. �Jika anda telah menunaikan shalat, maka
bertebaranlah kamu di atas bumi ini untuk mencari keutamaan (rezki)
Allah�, firmanNya. Pada ayat dijelaskan: �Dan carilah kehidupan akhirat
yang telah dipersiapkan bagimu tapi jangan lupa pula kehidupan duniamu�.
Diriwayatkan bahwa
seseorang menceritakan kepada Rasulullah SAW tentang sahabat yang rajin
beribadah. Seluruh waktunya dihabiskan untuk berdzikir dan shalat.
Rasulullah bertanya: �lalu siapa yang memberinya makan? � Jawabannya:
�Saudaranya�. Jawab baginda Rasulullah SAW: �kalau begitu saudaranya itu
lebih baik darinya�.

Dari ayat-ayat dan hadits serta berbagai ayat yang ada di Al Qur�an
jelas bahwa mencari dunia bagi manusia adalah kewajiban. Hanya saja,
Islam mengajarkan keseimbangan hidup. Sehingga perintah untuk mencari
dunia jangan sampai menjadikan seseorang lupa akan kehidupan di akhirat
kelak. Demikian pula, al Qur�an memperingatkan jangan sampai kesibukan
dalam mencari dunia menjadikan kita lupa terhadap nilai sosial kehidupan
kita.

Demikian pula ayat-ayat yang lain, Al An�aam 145, al Abaqarah: 188,
semua itu mengingatkan kiranya keinginan untuk mencari dunia hendaknya
tidak terlepas kendali sehingga segala cara menjadi halal. Namun sekali
lagi, kecenderungan untuk memahami ayat-ayat ini sebagai pembelaan
kepada konsep sosialisme adalah kecenderungan yang sempit dan batil.

WARISAN KEPEMIMPINAN

Surah Al Qasash 5-6 menjelaskan bahwa Allah akan mewariskan kepemimpinan
kepada kaum yang tertindas (mustadh�afiin). Namun perlu digaris bawahi
bahwa semua ini tidak akan terjadi begitu saja. Perhatikan ayat 3,
dimana dijelaskan bahwa penyampaian ini ditujukan kepada kaum yang
beriman. Dengan demikian, tanpa keimanan dan akidah yang benar, mereka
yang tertindas sekalipun tak jaminan untuk diberikan kepemimpinan di
atas bumi ini. Bagi seorang Mu�min sejati, hal ini sangat jelas jika
kembali kepada friman Allah: �Sesungguhnya bumi dan apa yang ada di
atasnya diwarisi oleh hamba-hambaKu yang shaleh�. Kaum Israel yang
diceritakan dalam konteks S. Al Qashas di atas, tidak dapat dilepaskan
dari ajaran Nabi Musa yang berdasarkan kepada nilai-nilai akidah
yang benar serta kesalehan dalam aksi.

Hal ini tentunya sangat berbeda dari konsep Markxisme atau sosialismenya
Karl Markx yang melihat bahwa kaum tertindas, kafir sekalipun pasti
menjadi pemimpin. Apa yang disampaikan Asghar Ali Engineer maupun Ulil
Abshar Abdallah tak lebih dari sebuah penafsiran terhadap ajaran Islam
(kalau ini benar adanya) yang menghendaki pada akhirnya suatu tatanan
masyarakat egalitarian, tanpa
batas-batas formalitas keduniaan, namun tetap bersandar kokoh pada
tatanan Ilahiyah yang dibangun di atas fondasi keimanan yang solid dan
dipelihara oleh aturan syariat yang syamil.

MASYARAKAT TAUHIDI BUKAN SOSIALIS

Sebagaimana disebutkan di atas tentang konsep Islam dalam upaya
menciptakan masyarakat tauhidi. Yaitu suatu tatanan kemasyarakatan yang
berdasarkan kepada nilai-nilai �TauhiduLLah� serta bermuara kepada
terciptanya masyarakat madani yang egaliter, terlepas dari berbagai
perbudakan termasuk perbudakann terhadap hawa nafsu sendiri, lingkungan
masysrakat, orang lain dan yang terpenting, perbudakan dalam keyakinan
dan peribadatan selain kepada Yang Maha Ma�buud
(Allah SWT).

Dengan demikian sekali lagi, konsep masyarakat tauhidi (ummatan wahidah)
berbeda dengan konsep sosialis yang humane dan bersifat relatif. Konsep
ini adalah baku, karena berasal dari Allah yang Maha Benar (ALHAQ).
Usaha perubahan atau tagyiir dalam rangka mencapai atau mewujudkan
masyarakat tauhidi tersebut, sebagaiman disinyalir S. Ar Ra�d: 11 maupun
berbagai ayat dalam Al Qur�an berbeda dari konsep �Usaha Kaum�nya Karl
Marx. Perbedaan itu semakin nampak ketika Karl Marx mengumandangkan
upaya perubahan kaum tertindas dengan ajakan untuk menjauhkan manusia
dari ajaran Tuhan dan bertumpu pada kemampuan dirinya sendiri. Sementara
Islam, mengajak kaum tertindas untuk melakukan perubahan dengan dimulai
dari pembangunan akidah dan keimanan yang kokoh kepada Allah SWT, lalu
keyakinan tersebut diaplikasikan dalam
kehidupannya yang nyata.

TIDAK ADA TITIK PERTEMUAN ANTARA ISLAM DAN KOMUNISME

Dengan demikian, apapun kebohongan orang, bahwa Islam dan komunisme
adalah sama serta memiliki tujuan dan dasar perjuangan yang sama, akan
tetap sebagai suatu kebohongan. �in yaquuluuna illa kadziban� (apa yang
mereka katakan itu tak lebih dari sebuah kebohongan) Dasarnya, Islam
berdasarkan kepada Konsep Ilahiyah (merujuk kepada Allah SWT) dan bukan
faham atau isme manusia, berjalan di atas tatanan konsep Ilahiyah
(berdasarkan hukum Allah SWT) serta bertujuan untuk meraih maqasid
Ilahiyah (yaitu tujuan-tujuan suci dalam rangka menciptakan
masyarakat rabbaniyah yang diridhai oleh Allah SWT). Disamping itu,
ajaran Islam (nilai sosial dalam Islam) yang dinilai �mirip� dengan
ajaran sosialisme hanyalah bagian dari ajaran Islam yang utuh dan
menyeluruh serta imbang dan adil (syamil-kaaffah dan mutawazin
wa�adilan).

Demikian tanggapan saya, semoga Allah memberikan hidayahNya kepada kita
semua.

M. Syamsi Ali
New York.



Kirim email ke