"HIMBAUAN SEORANG ANAK INDONESIA DI PERANTAUAN KEPADA PRESIDENNYA" Naskah dibawah ini disebar-luaskan sebagai surat pribadi yang spontan, urung dibacakan dalam pertemuan delegasi Bapak Presiden RI dengan wakil-wakil masyarakat Indonesia di negri Belanda, dikediaman istansi Duta Besar R.I. untuk Kerajaan Belanda, di Wassenaar, malam hari tanggal 2 Februari, 2000. Naskah ini disebar-luaskan oleh SKEPHI Support Office, kantor perwakilan Sekretariat Kerja-sama untuk Pelestarian Hutan Indonesia (SKEPHI) di Belanda dan Uni Eropa, sebagai upaya pencerahan demi penyelamatan dan kelestarian hutan tropis Indonesia. Naskah ini juga akan disebar-luaskan dengan terjemahan dalam bahasa Inggris, Jerman, Belanda dan Perancis bersama dokumentasi video yang khusus dipersiapkan bagi media televisi di seluruh Eropa. ------------------------- ----------------------------- Bapak Presiden Abdurrachman Wahid, Bapak Menteri Kehutanan Nurmahmudi Ismail, serta hadirin lainnya yang saya hormati, Nama saya Putri Gayatri Pertiwi, usia saya empat belas tahun. Saya datang disini bersama dua adik-adik saya: Bayu dan Iskandar. Kami adalah anak-anak Indonesia, yang bersama orang tua kami tinggal di negri Belanda. Saya yakin, harapan saya kepada Bapak-Bapak juga dimiliki oleh anak-anak Indonesia lainnya di negri Belanda ini dan oleh beberapa puluh juta anak-anak Indonesia di tanah air. Kami minta perhatian Bapak Presiden dan Bapak Menteri Kehutanan sebesar-besarnya pada situasi hutan tropis kita di tanah air. Ditahun 1997 dan 1998, kurang lebih satu-dua tahun yang lalu, kami mengikuti pemberitaan tentang kebakaran hutan di Indonesia.. Kebakaran hutan di tanah air waktu itu mendapat perhatian seluruh dunia. Kurang lebih sepuluh juta hektar hutan dan lahan habis terbakar. Beberapa puluh juta penduduk di Indonesia dan di negri-negri tetangga sampai di Thailand Selatan mengalami pencemaran asap. Terutama gangguan pada kesehatan yang dialami oleh anak-anak tidak banyak diketahui. Bapak Sarwono, Menteri Lingkungan Hidup saat itu mengatakan, "generasi ini adalah generasi yang hilang"..., "the lost generation"..., karena pertumbuhan fisik dan mental mereka yang terkena polusi asap tidak dapat optimal atau normal kembali. Dari tulisan di majalah sekolah saya, dari cerita kerabat- kerabat orang-tua saya, saya mengetahui bahwa hutan Indonesia sudah hampir habis. Di banyak tempat di tanah air, sering terjadi erosi dan longsor tanah, banjir bah atau sebaliknya kekurangan air ketika musim kering, serta segala macam penyakit. Saya baru memahami bahwa sebab kerusakan lingkungan ini, letaknya pada sistim pengelolaan kehutanan di Indonesia yang selama ini sangat exploitatif. Saya mendengar bahwa banyak perusahaan kayu menjadi kaya, sedangkan sekian banyak masyarakat di daerah-daerah tetap hidup miskin. Saya kuatir ditahun-tahun mendatang akan terjadi lagi kebakaran hutan yang harus dialami teman-teman saya, anak-anak Indonesia di tanah air. Bersama ini saya sangat berharap, Bapak Presiden dan Menteri Kehutanan memberikan perhatian yang sebesar-besarnya dan tenaganya yang sekuat-kuatnya untuk menghentikan exploitasi hutan di tanah air dan menjamin usaha konservasi hutan dan alam, sehingga saya, adik-adik saya dan anak-anak di Indonesia masih dapat menikmati: keindahan, kesejahteraan yang dapat diperoleh masyarakat setempat apabila hutan dikelola secara lestari, kekayaan ke-aneka-ragaman hayati termasuk keberadaan satwa lindung, seperti Orang-utan, Gajah dan Harimau yang saat ini justru nyaris punah. Semua harapan ini adalah juga untuk generasi anak-anak Indonesia dimasa mendatang! Terima kasih. Putri Gayatri Pertiwi, Amsterdam, 2 Februari 2000. -- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
