Mari kita tentang, ujung-ujungnya petani juga yang susah. Atau mari diperdebatkan bersama, apa untung ruginya,... Monsanto punya catatan buruk dalam tataran kamuflase propaganda akrab lingkungan. Sampai saat ini Monsanto masih memproduksi beragam candu pertanian modern, yang di negara Monsanto berpusat dan berproduksi sendiri terlarang. Dalam partai kecil maupun partai besar,... Artinya, terus saja terjadi penindasan terhadap keberdayaan petani. Siapa yang diuntungkan dari bioteknologi dengan mereka-reka yasa genetika, bukan lagi hal yang perlu diperdebatkan. Tapi siapa yang akan menerima kerugian perlu kita pikirkan bersama. Bukan hanya kelas petani, tapi juga konsumen. apalagi kita mengharapkan investasi asing untuk membangun 'rumah jagal' beseta penelitinya. Mental ini perlu diubah. Saya berani memastikan bahwa, kampung kecil saya sebelum revolusi hijau mencandui, tak pernah kekurangan pangan. Hasil panen bercukupan. Dan mengapa harus bioteknologi serampangan, seperti itu. Tapi memang butuh pengembangan teknologi pertanian, dengan asumsi bahwa lahan semakin terbatas,... manusia makin banyak, penindas main rakus,...Orang-orang sudah bermain monopoli, petani kita dipaksa bermain ular tangga,... Salam, Syamsul Asinar -- On Fri, 26 May 2000 17:22:57 Djuni Pristiyanto wrote: >Kawan-kawan, > >Kayaknya jadi sangat menarik nih. >Ada yang sangat menentang Monsanto en gank >dan ada orang2 yang mendukung Monsanto dg >semangat 45. > >Bagaimana tanggapan kawan2? > >Salam, >djuni lethek > >----------------------- >http://www.pikiran-rakyat.com/PikiranRakyat/052000/25/0609.htm > >Sudah Selayaknya Investasi Difokuskan pada Sektor Ini >Bioteknologi Berperan Tinggi Pacu Agribisnis > >BOGOR, (PR).- >Mengingat peranan bioteknologi sangat penting dalam memacu perkembangan agribisnis, >maka sudah selayaknya bila investasi untuk sektor industri di Indonesia difokuskan >pada pengembangan >agribisnis/agroindustri. Ini dilakukan lewat penerapan bioteknologi, ketimbang untuk >pengembangan >teknologi di sektor properti, penerbangan dan ruang angkasa serta sektor yang kurang >mendukung >ketahanan pangan dan pemulihan ekonomi. > >Hal tersebut diungkapkan Prof. Dr. Ir. HHE Gumbira Sa'id, Guru Besar Teknologi >Industri Pertanian >Feteta IPB dalam Prosiding Pertemuan Teknis Bioteknologi Perkebunan untuk Praktek, di >Hotel Salak >Bogor, Rabu kemarin. Pertemuan selama dua hari yang diselenggarakan Unit Penelitian >Bioteknologi >Perkebunan Bogor dan Asosiasi Penelitian Perkebunan Indonesia itu, dibuka oleh Dirjen >Perkebunan >Dr. Agus Pakpahan. > >Namun begitu, Prof. Gumbira yang juga Direktur Akademik MMA-IPB mengingatkan, >investasi >bioteknologi tersebut harus dilaksanakan secara rasional, karena saat ini Indonesia >memiliki kelangkaan kapital. Karena itu, penerapan salah satu atau beberapa jenis >terobosan pada lingkup bioteknologi, harus didasarkan pada derajat kempleksitas >teknologi itu sendiri, dan hubungannya dengan biaya. > >Sebagai gambaran Prof. Gumbira menyebut, penggunaan rekayasa genetika untuk diagnosis >penyakit, biayanya lebih murah dibandingkan dengan penerapan rekayasa genetika untuk >tanaman atau hewan. Sedang kebutuhan penerapan bioteknologi yang didorong pasar, >sudah selayaknya diselaraskan dengan kesejahteraan jangka panjang kehidupan manusia, >baik di negara maju apalagi di negara berkembang. > >Karena itu, kebutuhan penerapan bioteknologi pada negara berkembang seharusnya >dibantu oleh donor international, dalam mempertahankan kehidupan global. Sebab >kemajuan di negara maju justru >sebaliknya, dapat memperburuk keadaan ekonomi di negara berkembang. > >Terobosan bioteknologi yang dimulai tahun 60-an, katanya, dampak ekonominya mulai >terasa tahun >80-an. Dengan nilai pasar mencapai antara USD 5 - 20 miliar, yang meningkat menjadi >20 - 40 miliar >dolar pada tahun 1990. Bahkan diduga tahun 2000 ini meningkat lagi menjadi USD 45 - >200 miliar. > >Dana litbang > >Tingginya biaya yang diperlukan ini, digambarkan Prof. Gumbira dengan menunjukkan >dana yang >dikeluarkan perusahaan raksasa bioteknologi, seperti Monsanto yang mengalokasikan >untuk Litbangnya hingga USD 658 juta per tahun. "Bandingkan dengan anggaran negara >kita dengan dana litbang satu perusahaan seperti Monsanto. Betapa kecil negara kita >ini," tuturnya. > >Prof. Gumbira juga mengingatkan, fokus perhatian yang ekstra keras juga harus >ditujukan untuk >mengembangan tanaman padi, jagung, kedele daan tebu yang produktivitasnya selalu >berada di bawah kebutuhan nasional. > >"Negara kita dengan penduduk lebih 200 juta adalah konsumen. Bukan produsen," >tuturnya. Dengan >begitu, peranan bioteknologi perkebunan juga sangat diperlukan untuk menciptakan >galur-galur tanaman itu, yang cocok di lahan kering di bawah tanaman utama perkebunan. > >Bagi negara Asia dan negara berkembang lainnya termasuk Indonesia yang populasi >penduduknya >terpadat di dunia, peranan bioteknologi diharapkan datang guna meningkatkan produksi >pangan. Namun keberhasilan peningkatan produksi beras di negara maju seperti AS dan >Australia, berdampak negatif bagi produsen beras umumnya. > >Misalnya Thailand, Burma dan Pakistan serta Indonesia yang setiap tahun selalu >memiliki persoalan >dengan komotiti tersebut. Sebagai satu gambaran, produksi minyak makan yang >dihasilkan dari kedele yang berhasil ditingkatkan produksinya melalui bioteknologi di >India, telah menurunkan impor minyak kelapa sawit dari Indonesia dan Malaysia.*** >--------------------------------------------------------- >Arsip lengkap Berita-berita Lingkungan Hidup di Indonesia, silahkan klik: > http://www.egroups.com/group/berita-lingkungan/ > Get your FREE Email at http://mailcity.lycos.com Get your PERSONALIZED START PAGE at http://my.lycos.com -- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
