Teman-teman milis lingkungan, berikut saya forwarkan komentar dari Pak
Dondin Sajuthi mengenai berita ekspor monyet dari Indonesia untuk meramaikan
diskusi. Pesan ini dikirim pribadi kepada saya.
Salam,
Harry Surjadi
Yth. Sdr. H. Suryadi,
Terima kasih emailnya. Saya sudah terima email yang sama dari Ibu Ani
Mardiastuti. Saya sudah membalasnya dengan data. Jawaban nya seperti di
bawah ini.
Yth. Ibu Ani,
Informasi yang saya terima tentang ekspor kera yang dilakukan oleh CV
Primates dan CV Labsindo sangat menarik. Apalagi kalau sudah melihat
jumlah uang yang sangat besar jumlahnya. Tentu saja akan membuat orang
tergiur dan ingin mendapat bagian atau ingin melakukan usaha ekspor kera.
Terlepas dari perjanjian CV Primates dan Perum Perhutani serta harga ekspor
kera yang sangat menggiurkan, saya ingin memberi komentar mengenai jumlah
ekspor kera yang menjadi salah satu topik pembicaraan. Berdasarkan data
yang saya terima dari DitJen PKA maka pada tahun 1997 jumlah satwa primata
yang diekspor (total 5 eksportir) adalah 3443 ekor (3389 monyet dan 54
beruk), tahun 1998 adalah 3691 ekor (3621 monyet dan 70 beruk), tahun 1999
adalah 3254 ekor (3261 monyet dan 0 beruk), tahun 2000 (Agustus) 1535 ekor
(1515 monyet dan 20 beruk). Oleh karena itu data ekspor antara 5000 ekor -
10000 ekor sangat meragukan. Kalau data itu diambil pada periode 1980-1990
hal itu memang sangat dimungkinkan, karena belum adanya sistim quota yang
baik.
Niat penulis untuk membantu konservasi dengan sistim pengawasan terhadap
eksportir satwa perlu dihargai. Hanya saja penulis harus lebih hati-hati
dalam mengungkapkan datanya karena saya yakin tidak ada satwa primata yang
diekspor tanpa adanya CITES. Apalagi kalau jumlahnya sampai ribuan ekor.
Demikian tanggapan saya. Semoga dapat membantu menjernihkan masalah dan
mendudukkannya pada proporsi yang sesuai.
wassalam
D. Sajuthi
Saya setuju usulan Sdr. Suryadi kepada para pembaca email untuk lebih
hati-hati menanggapi hal seperti itu. Kita mengusulkan sesuatu yang
positif memang sangat baik. Hanya saja ketidak hati-hatian dalam
mengusulkan sesuatu yang baik dapat menjadi bomerang bagi orang yang tidak
tahu apa-apa. Apakah itu memang yang diinginkan oleh para LSM dengan
bantuan LN? Membuat suasana negeri kita lebih kacau sehingga pada akhirnya
orang Indonesia menjadi seperti tikus mati dilumbung padi karena tidak
dapat memanfaatkan sumber daya alamnya sendiri.
Demikian tanggapan saya. Sekali lagi terima kasih atas informasinya.
Salam
Dondin Sajuthi
--
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/