Suara Kaltim, 28 September 2000 (Berita Headline, Halaman 1) Jepang Mau Buang Limbah 3 Juta Ton ke Sangatta Kalau tak ada aral melintang, 10 Oktober nanti Pemda Kutai Timur akan membuat nota kesepakatan dengan investor Jepang, menyangkut pembuangan 3 juta ton debu dari negeri Sakura. Warga desa girang, LSM lingkungan dongkol SAMARINDA: Menjelang paripurna masa tugasnya sebagai penjabat Bupati Kutai Timur di Sangatta, Awang Faroek Ishak punya cara dan gebrakan tersendiri memancing investasi. Investor Jepang diberi lampu hijau membuang limbah seberat 3 juta ton ke Sangatta, dengan kompensasi antara lain dibangunkan bandar udara (bandara). Tapi, para pendekar lingkungan di Samarinda justru mengecam jurus Pemda Kutai Timur itu. Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kaltim Abrianto Amin mengaku risau terhadap kemungkinan dampak buruk dari limbah yang akan digotong dari negeri Sakura ke Sangatta itu. "Kalau limbah itu banyak sisi positifnya, logikanya Jepang tak mau repot-repot buang duit ke Sangatta," kata Abrianto Amin kepada Suara Kaltim, kemarin. Di kalangan sejumlah penduduk Desa Sangkima, Sangatta, kabar itu direspons secara bagus dan antusias. Mereka terbayang, desanya yang tak jauh dari komplek Pertamina Km 13, dan masih tergolong terisolir, akan segera maju. Mereka mendengar, investor Jepang yang akan "mengekspor" limbah ke Sangatta tersebut akan membangunkan bandara eks milik Pertamina yang diserahkan ke Pemda, termasuk membangun fasilitas pantai Teluk Lombok, juga di Sangkima. Karena itu sejumlah warga mulai bergairah mengurus tanahtanah garapan mereka, siapa tahu kelak bernilai investasi tinggi. Lokasi itu masih berada di areal Taman Nasional Kutai (TNK). Ini makin membuat Abrianto Amin jadi jengkel. 'Kalau ditebar di areal TNK, mau jadi apa nanti? Siapa tahu limbah itu beracun." kata Abrianto Amin. Menurut sebagian warga desa. limbah yang akan dikirim ke Sangatta itu berupa pasir letusan gunung berapi. Mereka berasumsi, jika pasir dari gunung berapi itu yang dibuang Jepang, maka akan bermanfaat positif untuk menyuburkan lahan pertaniannya. Karena itu tak sedikit para warga di sana justru mendukung kebijakan Pemda setempat. Hanya saja, Abrianto mengingatkan semua pihak, tak mustahil limbah itu nanti justru beracun. Apa pun alasannya, Walhi cenderung menolak kerja sama tersebut. Keterangan lain yang dikumpulkan Suara Kaltim menyebutkan, jenis limbah dari Jepang itu berupa debu. Tapi sejumlah sumber yang dihubungi media ini belum berani memastikan apa dampak positif dan negatif bagi lingkungan, Menurut rencana, nota kesepakatan antaraa Pemda Kutai Timur dengan investor Jepang itu akan diteken 10 Oktober mendatang. Belum dapat di konfirmasi mengenai lokasi pembuangan maupun rencana armada yang akan dipakaai mengangkut.Rapaat-rapat antaraa pejabat pemda, investor dan para pihak terkait lain di Sangatta menyangkut soal ini sudah digelar intensif beberapa kali. Namun ada sumberlain yang menyatakan nota kesepahaman antara Pemda dan investor Jepang belum pasti terwujud. Pihak pemda kutai timur sendiri masih pelit memberikan konfirmasi. Kepal bagian humas, Johansyah Ibrahim hanya menyatakan belum tahu detil soal ini �kami belum dengar rencana itu� katanya (yat) -- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
