Kawan-kawan yang budiman,
Ini ada tanggapan yang bisa untuk bacaan saja. Kalau ada yang menanggapi
silakan bisa langsung ke Mas Naryo: Mbe Yot <[EMAIL PROTECTED]>
DRM.-
===============
Ikut nimbrung nich. Tolong tanggepi kumbali. Salam, naryo
Peninjauan kembali Taman Nasional (TN)
Dari tiga pendapat yang dikirim mas Supo, pada dasarnya mempermasalahkan
konsep dan unjuk kerja TN yang jauh dari tujuannya. Bahkan tidak
menguntungkan baik ekosistem yang katanya dilindungi dan masyarakat
sekitarnya. Yang terjadi adalah seolah-olah Taman Nasional berada dalam
penguasaan negara, karena negara dalam keadaan sangat lemah secara politik
maka TN dijarah oleh masyarakat yang bertahun-tahun dirugikan atas penguasaan
oleh negara tersebut. Walaupun yang mendapat keuntungan atas penjarahan yang
sesungguhnya adalah bisnis atau industri perkayuan dan penjual jasa keamanan
serta penjual jasa peresmian. Catatan, illegal logging muncul setelah
pembabatan secara resmi tidak bisa dipertanggung jawabkan lagi, sehingga perlu
maling dan penjarah atau pembakar sebagai penanggung jawab utamanya dan bukan
menteri atau pemilik bisnis atau ekonom yang membekingin akal-akalan
ilmiahnya.
Usulan Mas Bowie dkk, mbok nggak usah pakai proyek-proyekan yang memakan biaya
besar dan membingungkan banyak orang, tetapi dipersilahkan pengindonesia-an
proyek TN dengan mengangkat model lokal antara pengelola hutan masyarakatlokal
disekitar TN kebetulan juga menjadi ekosistim satwa liar sekaligus secara
otomatis melindungi Taman Nasional yang biasanya tidak terlindungi dari
kepentingan bisnis dan pribadi segelintir orang. [Konfirmasi mas, apa
demikian?]
Biasanya saking jagoannya AS, hampir semua produk AS begitu saja (take for
granted) dicontoh atau disuruh contoh untuk wilayah atau negara lain, termasuk
dalam hal Taman Nasional. Menjelang lahirnya Taman Nasional di AS, terjadi
perdebatan sengit antara kelompok preservasionis yang dipimpin oleh John Muir
yang juga dedengkot Siera Club melawan konservasionis yang digembongi Henry
Pinchot bapak kehutanan AS jebolan sekolah kehutanan Nancy Perancis.
Pertandingan ini dimenangkan oleh yang kedua dengan diangkatnya Pinchot
sebagai kepala US Forest Service pertama oleh Roosevelt, yang berarti prinsip
hutan untuk dipergunakan sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan manusia menang
dan preservasionis yang ingin membatasi penggunaan alam dengan mempertahankan
habitat "wild life" kalah telak.
Sebelum pertandingan ini berakhir beberapa kawasan "wild life" ini dinyatakan
sebagai "wild life preservation area." Dengan judul ini para pembisnis sulit
memasuki atau memanfaatkan wilayah ini, untuk melancarkan penggunaan hutan
untuk manusia (tertentu) maka kawasan "wilf life preservation" dimistik
menjadi "national preservation area" secara resmi melalui UU oleh Pinchott.
Kata nasional membuat fungsi dan status hutan yang sebenarnya menjadi kabur
(abstrak), bahkan gampang disulap menjadi kepentingan ekonomi nasional yang
salah satunya adalah memperlancar pembisnis. Intinya satu yaitu memisahkan
atau mengkaburkan sifat kepublikan kawasan menjadi kedinasan yang berarti
dipisahkan kawasan tadi dari publik. Yang kedua dan lebih penting bahwa
masing-masing yang bersengketa belum terbebas dari nilai-nilai penjajah dalam
hal ini yang dianggap manusia hanya orang Eropa dan mengabaikan keberadaan
orang asli Amerika, yang malah pernah diburu seperti hewan untuk dijadikan
budak.
Itu cerita akhir abad 19 dan awal abad ke 20, cerita yang lebih lama dari
nenek moyang TN yaiyu apa yang dikatakan sebagai "botanical garden" atau coro
jawane Kebun Raya dan juga "hunting ground" pada jaman penjajahan Portugis di
Latin Amerika dan jaman "East Indies Companies": baik punya Inggris, Perancis
dan Belanda mulai abad ke 16/17. Kawasan berburu jelas itu sebagai hiburan
para pembisnis, seperti halnya golf jaman sekarang. Kebun botani yang memang
dikerjakan oleh para "natural sciencetists" itu memang ilmiah, tetapi dibalik
keilmiahannya itu adalah sarana untuk kebun aklimatisasi tanaman dari daerah
tropis yang satu ke yang lain atau dari daerah jajahan yang satu ke yang lain.
Bahkan ini alat untuk menjebol monopoli tanaman perdagangan yang dikuasai
musuh dagangnya. Kina yang dulunya hanya di Amerika tercuri dan dibawa ke
Asia, demikian juga teh yang adanya hanya di Asia tercuri dan ditanam di
Amerika. Dan ilmunyapun dijaga agar tidak dikuasai ilmuwan lokal, sebagai
dipraktekan penjajah Portugis yang melarang ilmuwan Brazil mendidik orangnya
sendiri dengan pengenalan gaya hidup Barat.
Seperti di Thailand hutan belantara yang begitu luas tahu-tahu diaku milik
raja, demikian juga kawasan hutan di Nusantara ini. Bahkan di Jawa Mataram
tukang tebang hutan jati dikerjakan oleh orang Kalang yang merupakan
orang-orangnya raja Jawa khusus untuk urusan pembabatan hutan. Setelah perang
Jawa 1830, maka secara resmi raja Jawa kalah perang dan takluk total kepada
penjajah Belanda, wilayah hutan sak penebanya dikuasai penjajah. Tidak lama
kemudian pemisahan hutan/lahan dengan manusia mulai diresmikan dengan
Undang-Undang Pokok Agraria Belanda yang dikenal dengan Domain Verklaring 1870
dan 1875, guna mentransformasi proyek tanam paksa pemerintah kolonial Londo
menjadi perkebunan swata Eropa. Catatatan UU ini dikritik habis oleh seorang
ahli hukum Belanda, MR. Van Vollenhoven pada tahun 1925, yang intinya mengecam
UU tersebut dan membela hak-hak orang lokal. Sayang meskipun saya punya
bukunya, karena saya tidak bisa bahasa Belanda sehingga belum bisa menggunakan
untuk mendukung usulan mas Bowie. Saya tahu isinya dari terjemahan singkat
melalui tilpun dari yang memberi buku tersebut.
Sebagian besar asal usul obat moderen umumnya dari hutan tropis, sekarang
beberapa perusahaan obat raksasa telah bekerjasama untuk mengembangkan
ekosistim hutan tropis di Costa Rica dengan biaya yang cukup besar. Tanpa
kita sadari kerusakan hutan tropis di Brazil dan Indonesia, akan menambah
�comparative advantage�-nya kerjasama semacam itu dan sekaligus gelar dewa
penyelamat hutan tropis kepada mereka. Keunggulan ini akan dijaga dengan hak
patent dibawah GATT. Dengan terlemparnya orang asli dari hutan tropis, maka
tidak ada bukti sejarah-antropologis maupun budaya kalau suatu kelompok
masyarakat tertentu sudah menggunakan obat-obatan dari tropis sejak ribuan
tahun yang lalu. Dengan kata lain terpisahnya orang lokal dengan hutanya,
maka tidak ada data ethno botany untuk mendukung bahwa orang tropis asli juga
mempunyai hak intelektual sebagai orang Barat.
Jadi pemisahan orang lokal dari hutannya, merupakan keberlanjutan dari
nilai-nilai kolonial Barat terlepas siapa pelaku pemisahan yang sesungguhnya,
bisa negara melalui UU dan PP, bisa HPH dengan uangnya, bisa "penjarah" sesuai
dengan keadaan politik negara, industri eko-turisme, atau bahkan elite orang
lokal sendiri. Pemisahan tersebut merupakan salah satu syarat komoditisasi
semua isi perut hutan. Dan bahkan pemiliknyapun berbalik menjadi faktor
produksi yaitu sumber daya manusia dan hutannya menjadi sumber daya alam.
Seolah menjadi dua satuan yang terpisah sejak dari sononya, padahal selama
ribuan tahun mereka menajdi satu. Bukankah pemisahan ini sebagaimana yang
dianut dan diabstrakan oleh liberal ekonomi dikehutanan sekarang ini. Disini
sampai-sampai membicarakan ilmu pengetahuan lokal (local knowledge)pun menjadi
kurang relevan, karena cepatnya proses dominasi dan subordinasi oleh Barat.
Sekarang kalau mau meninjau kembali TN-Taman Nasional, maunya pada tingkat
apa: filsafatnya, ilmu pengetahuan (lokal melawan luar), budaya (lokal lawan
luar), politik keberpihakan (lokal atau kepentingan bisnis global gandeng
dengan nasional alias pusat), atau cukup pada tingkat cara pengelolaan?
____________________________________________________________________Get free
email and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1