bukan tidak mungkin, kehancuran seluruh TN di Indonesia akan terjadi. pembiaran terhadap kasus penebangan kayu besar-besaran oleh "taoke" yang dilindungi si hijau dan si dasi di TN dan di kawasan perbatasan, penambangan emas liar yang hanya menguntungkan penadah, dan beribu-ribu kasus penghancuran hutan TN secara sistematis dan struktural yang menumpuk dan tak pernah diselesaikan di meja sarjana "jual-beli" hukum. yang jelas kita tinggal menunggu waktunya saja dan terjadilah. do something, don't make it come true. -- On Sat, 14 Oct 2000 11:17:02 bikal wrote: >Kompas, Jumat, 13 Oktober 2000 >Tragedi Kehancuran Hutan Kaltim > >PEMERHATI Iingkungan yang tergabung dalam Karib Kutai tiba-tiba harus >mengadakan pertemuan darurat pada pertengahan September lalu. Kali ini >tidak melibatkan masyarakat desa di kawasan Taman Nasional (TN Kutai). >Pertemuan ini harus digelar karena terjadi ke-vakuman komunikasi berbagai >pihak terkait setelah tiga kali dilakukan pertemuan reguler di Samarinda, >Bontang, dan Sangkima, mengenai upaya penyelamatan kawasan konservasi ini. > >KALANGAN pemerhati lingkungan menyatakan kekecewaannya atas sikap >Pemerintah Daerah Kutai Timur yang sangat lamban. Padahal, Pemda Kutai >melalui Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kutai Timur, >Edward Azran, menyatakan kesediaannya dalam pertemuan terakhir untuk >menjadi Ketua Tim Enklave TN Kutai. > >Kenyataannya, setelah pertemuan itu tak ada lagi kabar dari Pemda Kutai >Timur. Kalangan pemerhati lingkungan sangat gundah karena kawasan >konservasi itu terus dirambah, dibabat, dihancurkan, dan membuat kawasan >ini tidak jelas statusnya. "Keadaan di lapangan makin menyedihkan," kata >Kepala Balai TN Kutai, Tonny Suhartono, saat membuka pertemuan itu. > >Untuk diketahui para petinggi Kaltim, ungkap Tonny Suhartono, bagaimana >ganasnya perambahan, pembabatan, pengaplingan lahan kawasan ini, terutama >65 km sepanjang jalan BontangSangatta, berdasarkan hasil citra satelit >terakhir kerusakannya sudah mencapai 26.000 hektar Dan hampir seluruhnya >dikuasai masyarakat. > >Pada awal tahun 2000, Kompas mencatat kerusakannya sudah mencapai 13.862 >hektar dan enam bulan kemudian sudah 16.000 hektar. Puluhan ribu hektar >kawasan yang seharusnya dilindungi ini sudah menjadi areal perkebunan, >perladangan, bahkan ada juga kegiatan logging perusahaan. > >Sementara hutan yang masih alami, jelas Tonny, sekitar 61.205 hektar dan >sekitar 89.000 hektar adalah kawasan hutan yang pernah terbakar tahun 1997 >dan tahun 1998 dan kini sedang dalam proses pemulihan. Kawasan ini luasnya >mencapai 198.629 hektar. "Dahsyatnya kerusakan TN Kutai sangat dirasakan >dalam duatiga tahun terakhir. Permasalahannya pun sudah sedemikian >kompleks. Rasarasanya kami sudah tak berdaya lagi mengatasi keadaan >ini," tuturnya. > >KELUHAN Tonny bukan sekadar ungkapan tanpa alasan. Aksi perambahan ini >sudah sulit dikendalikan. Bila diperingatkan, mereka malah melawan. Mereka >berani mendemo atau menanam pisang seperti yang telah mereka lakukan di >halaman kantor TN Kutai wilayah Sangatta. Mereka juga melakukan ancaman dan >teror terhadap para jagawana, bahkan belum lama ini sekitar 30 warga >melakukan penyerangan dan merusak pos jaga dan pos kerja di Desa Sangkimah. > >"Keadaan itu terjadi diduga dari temuan para jagawana berupa adanya areal >penebangan kayu ulin yang mencapai puluhan meter kubik. Mereka minta >diperbolehkan mengambil kayu dengan alasan untuk membangun fasilitas desa >setempat. "Namun, permintaan itu kami tolak karena kayu-kayu itu justru >dari informasi yang didapatkan milik pengusaha Bontang yang akan dijual ke >Sangatta," kata Tonny. > >Para jagawana sudah sulit menindak mereka. Jawaban para perambah sudah >seperti seragam, bahwa daerah sepanjang jalan BontangSangatta akan >dilepaskan seluas 15.000 hektar sebagaimana dilontarkan Bupati Kutai Timur, >Awang Faroek, sekitar bulan November 1999 lalu. Bahkan usulan pelepasan itu >juga telah disampaikan ke Sekjen Dephutbun kala itu. > > >Adanya usulan itu ibarat angin segar bagi masyarakat. TN Kutai tibatiba >seperti kue besar yang diperebutkan banyak orang. Para perambah tidak hanya >sekadar merintis atau membuka hutan, berkebun, tetapi berusaha >sebanyakbanyaknya mengapling tanah dan dijual. Itu sebabnya, tak heran, >yang melakukan perambahan tidak hanya warga beberapa desa yang tinggal di >dalam TN Kutai, tetapi juga warga yang datang dari Bontang, Sangatta, >bahkan dari Balikpapan. > >DATANG ke TN Kutai terutama memasuki jalan BontangSangatta, sekarang ini >jangan banyak berharap bisa mendengar kicauan burung atau sesekali >menjumpai orangutan. Kita justru disuguhi tebaran sampah warga Kota >Bontang, hamparan kebun pisang, sebuah pos jagawana yang tak berbentuk lagi >dan berdirinya dua bangunan rumah yang disebutsebut milik bos mucikari. > >Siapa yang tak sedih, ketika melihat proses kehancuran TN Kutai terus >berlangsung, bahkan mengganas. Saat memasuki pintu gerbang berupa dua >gapura bertulisan Welcome to Kutai National Park hamparan kawasan hutan >yang ludes dibabat, dirambah, dibakar dan dikapling, bahkan ditanami >berbagai tanaman seperti pisang, cabai, lada, jagung, dan bawang merah, >menghadang kita. > >Tegakan pohon ulin dan jenis kayukayu Kalimantan lain kini terus >bertumbangan di sepanjang jalan BontangSangatta. Raungan mesin gergaji >(chainsaw) memotong pohonpohon besar dan diolah menjadi kayu balok >merajaipendengaran. > >Kompas telah berulangkali melaporkan keadaan ini, namun sampai sekarang >belum ada tindakan pemerintah, baik itu Pemerintah Kabupaten Kutai Timur, >Bontang, Pemda Kaltim, bahkan pemerintah pusat sekalipun, yang berupaya >sungguh-sungguh mengatasi keadaan ini. Yang terjadi justru saling >menyalahkan, bahkan terkesan saling lempar tanggung jawab. > >Kenyataan itu diperparah lagi dengan lemahnya kondisi para petugas >jagawana. TN Kutai mengatasi keadaan. Mereka tidak berdaya akibat >masyarakat di daerah melakukan perlawanan, di antaranya berupa penghancuran >beberapa posjaga, berkebun di halaman kantor, bahkan bangunan auditorium >pramuka juga ikut mereka rusak. > >Di sepanjang jalan itu kini juga telah berdiri rumahrumah penduduk yang >cukup permanen.Jika pada awal tahun 2000 pemondokan atau rumah masyarakat >di daerah itu kurang dari 50 buah, namun kini lebih dari 100 buah. >Pembangunan rumahrumah ini juga terus berlangsung seiring terus bertambah >luasnya kawasan hutan yang dirambah. Harga tanah kaplingan di daerah ini >cukup menggiurkan, berkisar Rp 1 jutaRp 1,5juta per hektar > >MASALAHNYA, menurut Tonny, Departemen Kehutanan sampai saat ini tidak >menyetujui pelepasan sekitar 15.000 hektar >kawasan TN Kutai seperti diusulkan Bupati Kutai Timur. Bahkan Soeripto, >Sekretaris Jenderal (demisioner) Dephutbun, kepada wartawan di Samarinda, >belum lama ini menegaskan, bila sebagian kawasan itu dilepaskan selain >terjadi pengurangan luas taman nasional tersebut juga akan membuka peluang >menguasai kawasan-kawasan lainnya. "Tidak ada jaminan bila sebagian taman >nasional dilepaskan akan menyelesaikan masalah," katanya. > >Satusatunya jalan, kata Soeripto, dan Dephutbun dapat memberikan izin >pelepasan, adalah adanya jaminan seluruh "pemegang saham" ikut terlibat, >terutama masyarakat adat atau masyarakat pemukim di sana, dan tidak hanya >pemerintah daerah saja. Mereka harus diajak bicara dan ada jaminan mereka >ikut menjaga taman nasional ini. "Ini harus dibicarakan secara mendalam dan >mendasar oleh berbagai pihak terkait menyangkut penyelamatan kawasan ini," >tuturnya. > > >Soeripto mengakui, kerusakan TN Kutai sudah-sangat parah dan semakin >mengkhawatirkan, karena semakin banyak orang yang masuk hutan yang >seharusnya dilindungiini.Bahkan, negaranegara pemberi bantuan pinjaman yang >tergabung dalam Consultative Group on Indonesia (CGI) mengeluarkan ancaman >berupa penghentian bantuan, atau setidaktidaknya mengurangi besar bantuan >pinjaman, jika Pemerintah Indonesia tidak mampu menyelamatkan hutan ini. > >Tawaran lainnya,tutur Tonny yakni tetap hidup berdampingan dan warga ikut >mengelola taman nasional, ini sulit mereka tema.Ini terjadi karena tidak >percaya lagi dengan janjijanji. Yang mereka inginkan hanyalah batasbatas >desa mereka jelas, termasuk lahanlahan yang mereka kuasai. > >Enklave, selama ini diartikan sebagai adanya daerah tertentu dalam kawasan >TN Kutai. Proses pembuatan batasanbatasan enklave ini masih dalam >pembicaraan, termasuk pembentukan tim enklave. Namun, persoalanini menjadi >lain keadaannya di lapangan.Enklavejustru diartikan akan memperoleh >sertifikat. Tak heran, jika perambahan terus terjadi karena seperti >berlombalomba mendapatkan kaplingan lahan seluasluasnya. >Dampaknya, kata Tonny, perambahan terus terjadi. Selain terus menjamurnya >berdiri rumahrumah permanen, di daerah Teluk Kaba misalnya ada pembuatan >tambak mengatas namakan Koperasi Veteran dari Samarinda. Ada juga pemodal >yang berani mengiming-imingi masyarakat dengan Rp 500.000 per dua hektar >bila mereka menanam pisang jenis abaka. > >Belum lama ini, kata Tonny, pihaknya ditawari Dirjen Perlindungan dan >Konservasi Alam eks Departemen Kehutanan dan Perkebunan uangsenilai Rp 1,3 >milyar untuk melaksanakan operasi-khusus (opsus)."Tawaran itu kami >tolak,sebab kalau operasi itu dilaksanakan justru timbul keributan lagi >dengan masyarakat. Terkecuali, Pemda Kutai Timur yang berada di depan >melaksanakan baru kami bersedia. Itu sebabnya uang dari dana reboisasi itu >kami usulkan untuk penyelesaian enklave dan itu sudah disetujui." > >SEBENARNYA ada saja mitra TN Kutai yang bersedia memberikan dana untuk >membeli tanah yang mereka rambah. Namun,ini sangat riskan >dilaksanakan.Justru, kalau tahu ada ganti rugi, mereka akan makin ganas >memperluas penguasaan lahannya di TN Kutai. "Enklave harus terus dilakukan, >walaupun aksi perambahan tidak bisa dihentikan," tuturnya. > >Menurut Tonny, upayaupaya pendekatan dengan tokohtokoh masyarakat sudah >dilakukan, namun mereka ternyata juga ikut merambah, sehingga sangat >berseberangan sikapnya. Problem yang akan dihadapi tim enklave jika mulai >bekerja adalah, mereka yang sudah lama tinggal di dalam kawasan ini akan >tetap tinggal, tetapi yang pendatang bagaimana memindahkannya. > >Direktur Yayasan Bina Kelola Lingkungan (Bikal) Adief Mulyadi mengakui, >tiga kali pertemuan reguler terakhir tidak banyak membuahkan hasil untuk >menyelamatkan kawasan ini. Kehadiran masyarakat dalam pertemuan reguler >itu, yang tadinya diharapkan bisa menyampaikan informasi langsung mengenai >penanganan masalah TN Kutai justru hasilnya bias. Masyarakat menganggap >hasil pertemuan itu sebagai kesepakatan pelaksanaan, padahal baru tahap ide. > > >Diadakannya pertemuan reguler menjadi pendorong Pemda Kutai Timur untuk >menyelesaikan masalah TN Kutai. Namun, ironisnya, justru laju pengkaplingan >lahan di kawasan ini makin menjadijadi. Di sini diperlukan strategi baru >untuk menjadikan masalah TN Kutai sebagai isu lokal Kaltim. Dan secara >kelembagaan, pemerintah sendiri tidak tegas dan jelas, apakah kawasan ini >ingin dilepas atau diselamatkan. Kalau TN Kutai hancur, maka akan menjadi >preseden buruk bagi Kaltim. "Untuk mengurus hutan seluas 198.000 hektar >saja tidak mampu, bagaimana mengurus hutan Kaltim mencapai 21 juta hektar," >tuturnya. > >Bikal sebenarnya mulai upaya memfasilitasi kesempatan batasbatas enklave >mulai tingkat yang terkecil di dusundusun: Namun, upaya ini juga terkendala >karena lambannya tim enklave bekerja. Tampaknya, upayaupaya penyelamatan TN >Kutai dan menyelesaikan persoalan ribuan warga masyarakat yang masuk di >kawasan ini masih panjang. Sebab, yang ditangani tidak hanya menyelamatkan >ancaman kepunahan kawasan hutan tropis dataran rendah yang menjadi habitat >terbesar kehidupan orangutan di Kaltim, juga mengatasi timbulnya konflik >antara kelompok warga masyarakat sendiri karena persoalan perebutan >penguasaan lahan. > >Pilihan hanya ada dua bagi Pemda Kutai Timur, Bontang, dan Pemda Kaltim, >apakah terus dibiarkan hingga TN Kutai tinggal nama atau menyelamatkannya >sehingga warga Kaltim masih punya kebanggaan akan hutannya.(ful) > > > >-------------------------- eGroups Sponsor -------------------------~-~> >Get free updates on your stocks from any phone with Tellme! >Click here and you can even personalize these quotes. >http://click.egroups.com/1/9536/12/_/2390/_/971495768/ >---------------------------------------------------------------------_-> > >===== Petunjuk Milis Lingkungan =========== > >Gunakan bahasa yang sopan dan bersikap dewasa >Berlangganan: [EMAIL PROTECTED] >Berhenti : [EMAIL PROTECTED] > >===== Motto:Lestari dan berseri Indonesiaku ====== > > Join 18 million Eudora users by signing up for a free Eudora Web-Mail account at http://www.eudoramail.com >>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<< To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
