Anggota milis lingkungan, saya forwardkan email untuk menggalang mengajukan petisi ke
Bush. Silahkan di baca isinya, kemudian kirimkan komentar atau persetujuan ke empat
rekan di bawah ini melalui email. Jangan mengirimkan persetujuan melalui milis ini
(dengan me-reply) tapi langsung ke salah satu rekan di bawah (Fabby, Dewi, Farah, Ery).
Kalau ada komentar boleh dikirim ke milis ini.
Harry Surjadi
moderator
----------------------------------------------
Rekan-rekan yang baik,
Bersama ini saya kirimkan petisi dari LSM Indonesia atas pernyataan GW Bush yang
menentang Kyoto Protokol dalam 2 versi bahasa (indonesia dan Inggris). Rencananya
Petisi ini akan disampaikan kepada GW Bush lewat duta besar AS untuk Indonesia di Jkt.
Tanggal dan harinya sedang direncanakan (kemungkinan rabu depan). Draft ini sudah
mendapat kesepakatan dari sedikitnya 10 LSM yang mengadakan pertemuan hari rabu (4
April) lalu di Pelangi dan kami minta dukungan dari sebanyak mungkin NGO dan
perorangan untuk memberi dukungan atas petisi ini.
Dukungan anda dapat diberikan dengan mencatumkan persetujuan anda diikuti dengan nama
dan lembaga. Jika anda mengatasnamakan lembaga, mohon untuk memberitahukan atau
membuat copy surat dukungan anda kepada pimpinan lembaga yang bersangkutan. MOHON
UNTUK MENYEBARLUASKAN PETISI INI KE SEBANYAK MUNGKIN ORANG ATAU LEMBAGA YANG ANDA
KETAHUI. UNTUK KONFIRMASI DAN DUKUNGAN TANDA TANGAN DAPAT DITUJUKAN KEPADA ALAMAT
DIBAWAH INI:
1. Fabby Tumiwa, ICAN ([EMAIL PROTECTED])
2. Dewi Suralaga, WWF Indonesia ([EMAIL PROTECTED])
3. Farah Sofa (Ovi), WALHI ([EMAIL PROTECTED])
4. Ery Damayanti, IMA Indonesia ([EMAIL PROTECTED])
Terima kasih atas perhatiannya.
Fabby Tumiwa
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
DRAFT
Pernyataan Bersama LSM Indonesia
Atas Pernyataan Presiden Amerika Serikat
George W. Bush
Yang Menentang Kyoto Protokol
Jakarta, __ Maret, 2001
Yang Terhormat Presiden Bush:
Kami kecewa dengan surat Anda kepada anggota Senat Amerika Serikat yang menyatakan
bahwa Anda "menentang Kyoto Protokol". Tentangan Anda yang sangat eksplisit ini
melawan standar perilaku diplomasi internasional yang dapat diterima, serta mengancam
langkah awal yang telah diambil oleh masyarakat internasional untuk menghindari
dampak-dampak perubahan iklim yang terjadi di negara anda dan negara-negara lain.
Dampak dari perubahan iklim sangatlah mencengangkan. Seluruh dampak ini, menurut
United Nations Environment Program (2001), akan merugikan dunia sebesar kurang lebih
$300 juta pertahun, sebanding dengan sekitar 15 persen total pendapatan di
negara-negara sedang berkembang. Tahun 1990 merupakan dekade yang paling panas
semenjak pertengahan 1800-an, sampai pada puncaknya pada 1998 (IPCC Second Assessment
Report, , 1995). Nilai dari bencana alam yang diakibatkan oleh perubahan iklim pada
tahun 1998 sendiri melampaui nilai keseluruhan bencana-bencana di dekade 1880 an
(Milenium Report Sekjen PBB).
Di Indonesia, pada tahun 2000 saja telah terjadi 33 kasus banjir, kebakaran hutan,
paceklik, dan 6 badai yang telah mendatangkan krisis ekonomi senilai Rp. 1.5 triliun
($ 150 juta) dan memakan korban jiwa lebih dari 690 orang. Jumlah kerugian ini setara
dengan sepuluh persen total pendapatan di Indonesia. Sesungguhnya, hampir semua biaya
atas ketidakpedulian Anda terhadap masalah perubahan iklim akan terjadi di 80 persen
negara di seluruh dunia. Ketidakpedulian Anda sendiri adalah bagian dari biaya
tersebut.
Kami menghimbau agar Anda mempertimbangkan kembali tentangan Anda dan mengambil
tanggung jawab untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, termasuk didalamnya karbon
dioksida secara serius.
Kyoto Protokol itu adil, inklusif, dan bersifat global. Pernyataan Anda sesungguhnya
tidak benar bahwa Protokol ini "mengesampingkan 80 persen gas rumah kaca di seluruh
dunia, termasuk di pusat populasi besar seperti Cina dan India, terhadap ketaatan
terhadap Protokol ini�, sebagaimana yang diuraikan dibawah ini.
Pertama-tama, Kyoto Protokol tahun 1997, United Nations Framework Convention on
Climate Change (UNFCC) atau Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Perubahan
Iklim tahun 1992, dan Mandat Berlin pada tahun 1995 telah dinegosiasikan secara adil,
termasuk didalamnya oleh delegasi Anda sendiri secara aktif. UNFCCC tahun 1992
menyebutkan bahwa negara anda akan "mengadopsi kebijakan nasional dan mengambil
tindakan yang terkait dalam memerangi perubahan iklim, dengan mengurangi emisi gas-gas
rumah kaca yang dibuat oleh manusia (antropogenik) dan melindungi serta meningkatkan
penyerap dan penampung gas-gas rumah kaca". Mandat Berlin tahun 1995 menyebutkan bahwa
tidak ada komitmen-komitmen baru bagi negara-negara berkembang dalam Protokol
(selanjutnya Protokol yang dimaksud adalah Protokol Kyoto tahun 1997).
Kedua, ratifikasi oleh negara Anda, sebagaimana dilakukan oleh negara-negara industri
dan berkembang lainnya atas UNFCCC, telah menandai pernyataan akan prinsip "common but
differentiated". Prinsip ini berasal dari kenyataan bahwa 80 persen penduduk dunia
yang hidup di negara berkembang yang miskin, hanya bertanggung jawab atas sepertiga
emisi-emisi gas rumah kaca pada tahun 1990, dan bahkan kurang dari itu bila dihitung
secara emisi per kapita. Amerika Serikat sendiri berkontribusi seperempat emisi
seluruh dunia di tahun 1990. Sektor transportasi di negara Anda saja menyumbang emisi
lebih besar dari total emisi seluruh dunia kecuali empat negara. Gas-gas rumah kaca,
bukan populasi, yang menyebabkan pemanasan global.
Ketiga, bertentangan dengan keberatan Anda, pengurangan emisi yang paling signifikan
terjadi di Cina. Departemen Energi Anda sendiri membuktikan bahwa ketika ekonomi
berkembang dalam kecepatan dua digit yang cepat, Cina mampu mengurangi emisi karbon
dioksidanya sebesar 17 persen selama tahun 1997 hingga 1999, dan sekarang ini bahkan
telah mencapai tingkat emisi yang sama pada tahun 1992; dibandingkan dengan Amerika
Serikat yang tetap menaikkan emisinya lebih dari 17 juta ton dalam periode yang sama
(USDOE, 2001). Antara tahun 1990 dan 1996, keseluruhan subsidi bahan bakar fosil di 14
negara sedang berkembang yang mencatat 25 persen dari emisi karbon global dari
pusat-pusat, industri turun 45 persen, dari $ 60 juta menjadi hingga $ 33 juta.
Meskipun emisi karbon tahunan naik sebesar 228 juta ton karbon antara 1980 dan 1990,
emisi akan menjadi 155 juta ton lebih besar dari tahun 1990 tanpa adanya efisiensi
energi yang diperoleh pada masa ini karena adanya pemotongan subsidi yang besar. Pada
periode yang sama, subsidi di negara-negara OECD turun hanya 20.5 persen, dari $ 12.5
juta menjadi $ 9.9 juta. Pengurangan subsidi di Cina akan mengarah ke harga minyak
yang lebih tinggi sehingga akibatnya konsumsi menurun dan berdampak pada pengurangan
emisi gas rumah kaca yang mencolok.
Kepemimpinan Cina dalam mengurangi emisi seperti inilah yang diharapkan dunia dari
Anda. Akan tetapi emisi Amerika Serikat, yang merupakan negara peng-emisi terbesar di
dunia, tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan. Di belahan dunia yang lain,
negara-negara berkembang terus memajukan pembangunan berkelanjutan-nya yang juga
memberikan kontribusi pada usaha-usaha kesluruhan dalam menstabilkan iklim.
Pengetahuan akan Pemanasan Global dan Dampaknya yang tidak dipertanyakan lagi.
Bertentangan dengan usul Anda bahwa "ilmu pengetahuan yang tidak lengkap akan penyebab
dan solusi pada perubahan iklim, dan kurangnya teknologi komersial yang ada untuk
memindahkan dan menyimpan karbon dioksida", ribuan ilmuwan yang tergabung dalam
Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) telah sepakat bahwa bukan hanya
"aktivitas manusia yang secara nyata berpengaruh pada stabilitas iklim", (IPPC Second
Assesment Report, 1995) akan tetapi, jauh lebih hebat lagi, bahwa �emisi gas rumah
kaca dan aerosol yang diakibatkan oleh aktivitas manusia terus mengubah atmosfer
dengan cara yang diharapkan berpengaruh pada iklim� (Ringkasan IPCC Third Assesment
Report for Policymakers, 2001).
Menaikkan harga energi di Amerika Serikat tidak akan mengurangi ekonomi negara Anda
yang bersaing di dunia internasional. Tidak kurang dari lima negara bagian Amerika
Serikat yang memiliki laboratorium nasional menyimpulkan bahwa Amerika Serikat dapat
memenuhi separo target Kyoto Protokol dengan pilihan-pilihan biaya yang rendah atau
bahkan tanpa biaya sama sekali. Diantara negara-negara OECD, harga minyak di Amerika
Serikat sudah merupakan yang terendah. Di Eropa, hanya Rusia dan Belarus yang harga
minyaknya lebih murah daripada Amerika Serikat. Bahkan di Afrika, hanya 8 negara yang
harga minyaknya lebih murah dari Amerika Serikat. India, salah satu sentra populasi,
menjual minyaknya 56 sen setiap liter ($2.24 setiap galon).
[penanda-tangan]
---------------------------------------------------------------------------------------
DRAFT
Statement by Indonesian Non-Governmental Organizations
Against the Opposition to the Kyoto Protocol
by the President of the United States of America
George W. Bush
Jakarta, March __, 2001
Dear President Bush:
We learnt with grave disappointment your statement that you �oppose Kyoto Protocol�,
in your letter to the members of the United States Senate. This explicit opposition
goes against acceptable international standards of diplomatic behavior, threatens the
first step that the international community have started to avoid the devastating
impacts of climate change on your and our countries.
The impacts are indeed grave. All of these impacts will cost the world about $300
billion annually, according to the United Nations Environment Program (2001), about 15
percent of the total income of the poorest countries. The 1990s was the hottest
decade since circa 1800s, peaking in 1998 (IPCC 1995 Second Assessment Report). The
cost of climate-related disasters in 1998 alone exceeded the cost of all such
disasters in the entire decade of the 1980s (UN Secretary General�s �Millennium
Report�).
In our country, Indonesia, in the year 2000 alone, 33 floods, forest fires, droughts,
and 6 storms already costed our crisis-laden economy Rp 1.5 trillion ($150 million)
and more than 690 lives. This is about ten percent of the total income in Indonesia.
Indeed, most of the costs of your inaction will occur in the 80 percent of the world.
Your inaction is partly liable for these costs.
We demand that you reconsider this opposition and take your responsibility to reduce
emissions of greenhouse gases, including those of carbon dioxide, seriously.
The Kyoto Protocol is fair, inclusive, and global. Nothing further from the truth in
your statement that the Protocol �exempts 80 percent of the world, including major
population centers such as China and India, from compliance�, for the following
reasons.
First, the 1997 Kyoto Protocol, the 1992 United Nations Framework Convention on
Climate Change (UNFCCC), and the 1995 Berlin Mandate have been fairly negotiated,
including actively by your delegation. The 1992 UNFCCC states that your country will
�adopt national policies and take corresponding measures on the mitigation of climate
change, by limiting its anthropogenic emissions of greenhouse gases and protecting and
enhancing its greenhouse gas sinks and reservoirs�. The 1995 Berlin Mandate states
that there is no introduction to new commitments for developing countries in the
Protocol.
Second, The ratification by your country, as well as by other industrialized and
developing countries, of the UNFCCC marks the agreement of the �common but
differentiated� principle. This principle is derived from the fact that the �80
percent of the world� who dwell in poor countries are responsible only for one-third
of the 1990 emissions of climate change-inducing greenhouse gases, and even less so on
a per capita basis. The United States alone contributed one-fourth of the global
emissions in 1990. The transportation sector in your country alone contributed more
than the total emissions of all countries but four. Greenhouse gases, not population,
cause global warming.
Third, rather in contrast with your concern, the most significant emissions reduction
occurs in China. Your very own Department of Energy finds that while its economy grew
at a massive double-digit rate, China decreased its carbon dioxide emissions by about
17 per cent from 1997 to 1999, and is now back on its 1992 emission level, compared to
the United States, which kept increasing its emissions by more than 17 million tons in
the same period (USDOE, 2001). Between 1990 and 1996, total fossil-fuel subsidies in
14 developing countries that account for 25 percent of global carbon emissions from
industrial sources declined 45 percent, from $60 billion to about $33 billion.
Although annual carbon emissions grew by 228 million tons of carbon (MTC) between 1980
and 1990, emissions would have been 155 MTC higher in 1990 without the energy
efficiency gains achieved over this period due largely to the subsidies cut. During
the same period, subsidies in the OECD countries declined only by 20.5 percent, from
$12.5 billion to $9.9 billion. The reduction of subsidies in China will lead to
higher fuel prices that in turn reduces consumption and the subsequent greenhouse gas
emissions.
China�s achievement is the kind of leadership that the rest of the world is expecting
from you, but emissions from the United States, while being the world�s largest
emitter, shows no sign of decreasing. In other parts of the world, developing
countries continue to advance their sustainable development while contributing to the
global efforts in stabilizing the climate system.
The science of Global Warming and its impacts is decisive. In contrary to your
suggestion that there is �incomplete state of scientific knowledge of the causes of,
and solutions to, global climate change and the lack of commercially available
technologies for removing and storing carbon dioxide�, the thousands of scientists in
the Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) have agreed not only that �human
activities have discernible influence to the climate stability�, (IPCC Second
Assessment Report, 1995) but, even stronger now, that �emissions of greenhouse gases
and aerosols due to human activities continue to alter the atmosphere in ays that are
expected to affect the climate� (IPCC Third Assessment Report Summary for
Policymakers, 2001).
Raising energy price in the United States will not reduce your economic
competitiveness internationally. No less than five of the United States own national
laboratories conclude that the United States can meet half of its Kyoto target with
no- or low-cost options. In addition, the price of fossil fuel products in the United
States is among the lowest in the world. Among the OECD countries, the price of
gasoline in the United States is already the lowest. In Europe, only in Russia and
Belarus is gasoline cheaper than that in the US. Even in Africa, in only 8 countries
are gasoline cheaper than that in the United States. India, one of the population
centers, sells its gasoline at 56 cents per liter ($2.24 per gallon).
[signatures]
----
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/