"Tumpal Augustinus H." wrote:

> Saya kok seperti membaca posting tahun lalu ya...Feels like deja vu.
> Keluhan bahwa di kota ini reluctant thd linux, bagaimana memberdayakan
> linux....dsb.

Wajar aja menurut saya. Milis ini dinamis, orang datang dan pergi,
masing-masing membawa pengalaman masing-masing yg mungkin
overlap.

Dan deja vu mas Tumpal itu nyata adanya, krn memang linux masih
perlu lebih didorong lagi. Linux memang sudah lebih dikenal orang,
tapi berapa banyak di antara kita yg bisa make the most of it ?
Contohnya, jika ditanya, mungkin hampir semua mhs komputer
tahu Linux, tapi berapa dari mereka yg mengerjakan tugas
programmingnya under Linux, yg mengolah datanya pakai program
under Linux, yg nulis skripsinya pakai Latex, ...

Situasinya mungkin seperti kondisi masyarakat kita saat ini..
di Jakarta orang sudah masuk era TI, di desa terpencil masih kental
unsur agrarisnya. Jadi treatment-nya harus situasional juga...
Yang belum kenal Linux, ya advokasinya diperkuat. Kalau sudah
biasa pakai, ya di-push untuk mengeksplorasi lebih jauh...hingga
menyatu dengan dirinya.

> Seolah-olah kawan-kawan belum dengar kalau pemerintah memberi angin segar
> bagi Open Source lewat Inpres (nomer berapa...lupa).

I doubt this create significant impact... Saya meyakini kalau inisiatif
perubahan mesti datang dari masyarakat (bottom up).

> Kalo temen2 merasa kotanya miskin linux, kita obrolin contoh kasus saja kota
> yg sudah nggak miskin lagi.  Jangan re-invent the wheel dgn membuat
> kesimpulan yg sudah pernah disimpulkan.

Well...menurut saya keduanya perlu diobrolkan. Ngobrolin pemberdayaan
Linux tidak selalu berarti reinventing the wheel. Tergantung pd definisi
"pemberdayaan Linux".

Untuk domain masyarakat umum (i.e., bukan industri, kantor, dll),
pemberdayaan Linux dianggap berhasil bila semangat open source
yg mendasarinya bisa inheren (menyatu) ke dalam sikap hidup
anggota masyarakat dlm berkomputer ria. Seperti halnya sekarang
ini pola kita dalam memandang aktivitas berkomputer sangat dipengaruhi
oleh karakteristik produk-produk Windows-based (e.g., ketidakpedulian
pada detil, lack of curiousity, kurangnya apresiasi thd. karya orang lain,
dsb). Selama attitude ini belum berubah dan digantikan oleh nilai-nilai
moral positif yg dibawa oleh Linux dan open sourcenya, selama ini
pula Linux cs masih perlu diberdayakan.

> c'mon...wake up...

We are awake :-)
but we are pursuing a different direction...

salam,
Lukito





-- 
Utk berhenti langganan, kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Informasi arsip di http://www.linux.or.id/milis.php3

Kirim email ke