Ni Lara menangis, . . .Dia hanya bisa menangis.
Jika kemarin hidupnya susah,
Mungkin esok akan dia rasakan lebih sengsara dan nelangsa.
Tak pernah terlintah dalam pikirnya leak itu akan datang.
Mukanya penuh dendam dan menyemburkan api amarah.
Apalagi untuk merengut nyawa anak dan suaminya.

Duh Gusti, . . . . siapakah orang yang paling berdosa di negeri ini ?
Apakah jelaga sudah menutupi seluruh hati ?
Aku semakin benci dan mengutuk orang-orang yang berjahat hati.
Belum puaskah kau koyak negeri ini ?
Lihat, . . . lihatlah Ni Lara yang kini semakin bersedih.
Inikah yang kau kehendaki ?
Kau bisa ledakkan Kuta Bali
Atau bahkan kau bakar seluruh negeri ini
Tapi satu, . . . . .
Kau tak bisa memutuskan jalinan kasih hati kami.
..................................................

Ni Larasati jangan bersedih, masih ada kami disini.
Saudara kandung ibu pertiwi.
Kami juga ikut berdukacita dan bersedih.
Yang kami harap engkau tetap tabah menghadapi semua ini.
Kembalikanlah semuanya pada Illahi Robbi.

Saudaramu,
Warso Prayitno [[EMAIL PROTECTED]]


-- 
Utk berhenti langganan, kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Informasi arsip di http://www.linux.or.id/milis.php3

Kirim email ke