Abis baca ini, tulisan Mas Made, http://www.dariwindowskelinux.com/artikel/index.php?id=2&tampilkan=yes Kasi fasilitas komentar dong..biar bisa komen hehehe..ya udah kirim aja kesini.
Fanatisme terhadap suatu merek memang banyak terjadi. Ini merupakan kepintaran branding dan marketing perusahaan yang bersangkutan. Gedung-gedung akan rubuh, barang-barang akan rusak, tapi merek tetap berdiri tegak. Begitu yang pernah saya baca dari pakar marketing. Linux vs Windows, dalam tataran ini adalah perang brand. Meskipun Linux membawa segenap nilai-nilai non teknikal, tetap saja dalam abad sekarang, dia adalah produk, brand yang tentu terikat dengan kaidah marketing. Sedikit persentase orang pindah ke Linux murni karena teknis ataupun idealisme. Kebanyakan untung rugi. Nyaman nggak nyaman. Keengganan migrasi, nggak lepas dari strategi marketing. Pernah ada uji coba minuman soda, yakni coca cola dan pepsi, tapi mereknya dilepas. jadi dituangin dalam gelas kosong gak ada tulisannya. Ternyata, pepsi lebih banyak dipilih. Lebih enak katanya. Tapi setelah dilabelin, tetap yang dipilih adalah coca cola. Disini merek ternyata memberikan sugesti yang besar. Dan tidak bisa kita bilang naif orang yang ngotot make merek tertentu meskipun nggak masuk akal. Itu adalah kesuksesan branding. Windows punya brand yang kuat dibenak orang-orang tentu tak lepas dari kebesaran microsoft dalam jor joran marketing. Banyak orang bilang, bahwa microsoft bukanlah perusahaan software yang hebat, tapi perusahaan marketing yang hebat. Pernah Anda cari tahu, berapa sih sebetulnya software yang murni dikembangkan dari dapur microsoft? Berapa software yang beli dari perusahaan lain untuk dikembangkan dan dijual kembali? Linux sebagai brand, ternyata memiliki pengaruh yang kuat juga. Gak usah diiklanin sama Linus, kalau ada yang ngejelekin Linux, kontan banyak yang kebakaran jenggot. Katanya ini adalah tujuan yang ultimate dari branding. Kalau brand-nya dijelekin, akan dibela mati-matian. Semua nggak lepas dari 'emosi' yang dibawa oleh Linux. Dalam marketing, katanya, dikenal istilah experience marketing. Atau yang lebih baru, marketing dengan emosi (Kate Hermawan Kertajaya, eks bos microsoft juga pakar marketing). Ribuan developer merasa 'memiliki' dan 'ikut melahirkan' linux. Sehingga nggak rela kalau bayinya dijelekin. Dan rasa ini menyebar seperti 'virus' heheh.. Wah..tulisannya nggak sistematis yaa..cuma nuangin isi kepala aja. So, moral of the story-nya adalah, kalau mau minta orang pindah ke linux, kuncinya ya sosialisasi. KPLI punya potensi, dan seharusnya perusahaan yang bergerak di Linux memfasilitasi komunitas ini sehingga sama-sama untung (deja vu, kembali lagi ke diskusi semacam ini tahun lalu :)). Bila perlu, perusahaan-perusahaan linux indonesia membuat konsep marketing sendiri, atau rame rame patungan sewa hermawan kertajaya, lalu memanfaatkan KPLI sebagai ujung tombaknya. Kurang lebih begini. Perusahaan Linux kan kecil kecil. Kalau bareng-bareng mengkonsep strategi marketing kan bisa kuat (asal jangan terjebak dalam wadah, entah itu asosiasi, konsorsium atau gerombolan liar gak papa lah). Dengan strategi yang terencana, kita nggak terpengaruh dengan momen momen sesaat (seperti peluncuran UU HAKI), namun tetap solid dengan tujuan yang jelas seperti kristal. Begitu mimpinya.. masih laku nggak yah mimpi ini? :)) -- fade2bl.ac --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

