Yang paling susah buat aplikasi bisnis, mungkin yang pernah pengalaman tahu, adalah manage people dibandingkan bahasa itu sendiri :)
nah team yang jelek menghasilkan project yang jelek, tetapi dari kumpulan orang hebat yang ego, biasanya menjadi team yang jelek. team yang hebat , tetapi anggotanya biasa saja bisa terjadi. :) jadi banyak faktor. Nah kalau bilang setiap solusi pakai banyak bahasa :) mungkin orang seperti Juragan IMW, punya dana banyak, buat perusahaan dengan semua disiplin bahasa. Inget teknologi hanya contribute 30% dari sebuah solusi. :) Linux adalah sepersekian dari 30%, Makanya saya pernah ada project, kaget, kok charge say akecil, dan PM dan Analisnya besar sekali. Sampai ada project 3 juta dollar dibuang ke sampah, dan dipegang orang lokal kita, karena 5 orang dari team tersebut adalah sudah expert. Frans > On Tue, 10 Feb 2004, Sharif Dayan wrote: > >> Salam sejahtera... >> >> At 11:21 10-02-2004 +0100, "IMW" wrote: >> >> >Program aplikasi tersebut ditulis dg ..... Terus terang gara-gara >> aplikasi ini sempat menimbulkan citra yang kurang baik terhadap Linux >> sebagai desktop. >> >> Memangnya kenapa dengan "....." itu ? Bukankah logika pengacaraan >> (programming) sama saja, kecuali beda 'gaya' dan 'kembang' ? >> > > Tidak sama. Tiap bahasa pemrograman memiliki kemampuan mengekspresikan > yang berbeda. Mirip dengan bahasa natural (contoh katakan > berjenis-jenis keju dengan bahasa Indoensia tentu menjadi sulit, begitu > juga sebaliknya katakan berjenis-jenis "sakit perut" dengan bahasa > Jerman akan sulit pula) > > Begitu juga dengan bahasa pemrograman. Contoh bahasa non functional akan > sulit mengekspresikan hal-hal yang dapat dengan mudah diekspresikan oleh > bahasa functional > > IMW > > -- > Berhenti langganan: [EMAIL PROTECTED] > Arsip dan info: http://linux.or.id/milis.php -- Berhenti langganan: [EMAIL PROTECTED] Arsip dan info: http://linux.or.id/milis.php

