Pendapat saya tetap sama: Biarkan hidup berjalan sebagaimana adanya.
Karena si cowok sudah memutuskan pacarnya dan sahabat Anda juga sudah putus
dari pacarnya, maka hubungan mereka dalam bentuk apapun adalah sah-sah saja.
Masalah diputusnya pacar si cowok itu, saya kira juga sah-sah saja.
Bukankah percuma mempertahankan suatu hubungan jika sudah tidak ada rasa
sayang lagi. Terlepas bagaimanapun baiknya pacar si cowok itu, ternyata si
cowok lebih memilih sahabat Anda. Kalau sahabat Anda juga menyukai (suka
adalah awal dari menyayangi) si cowok itu, berarti tidak ada masalah.
Tentang keseriusan hubungan, memang sebaiknya hubungan dilakukan dengan
serius. Namun bagi yang percaya, jodoh itu di tangan Sang Pencipta,
sehingga sebenarnya suatu hubungan memang sebaiknya dijalani saja dulu.
Masalah nantinya akan bermuara ke suatu pernikahan atau putus di tengah
jalan, itu soal lain. Saya ingat kata-katanya Habibie pada masa-masa awal
di menjabat sebagai presiden. "Manusia merencana.. keun.. Tuhan mee neun
tu keun.. dan sejar rah.. men cat tat!" kata Habibie sambil melotot. :-)
Best Regards,
S i g i t
>Sebelum kisah ini saya lanjutkan, saya ingin meluruskan kesan yang beredar
>seolah-olah saya sebagai sahabat ingin mengatur2 hidup sahabat saya... Sama
>sekali tidak, seperti sudah saya bilang sebelumnya, saya hanya berusaha
>memberikan saran2 yang (saya anggap) benar kepada seorang sahabat. Dan
saran
>yang saya berikan tidak bisa berupa suatu pendapat yang subyektifitas-nya
>tinggi, yang menyebabkan pada saat cerita no (I) berlangsung saya sama
>sekali tidak mau memberitahukan apa2 saja yang menjadi jalan pikiran saya
>kepada sahabat saya, justru untuk menjaga agar saya tidak terjebak jadi
>mengatur hidupnya.
>
>Dan jangan lupa, saya bercerita ke milis karena ingin membawa topik baru
>dengan menceritakan sesuatu yang sudah terjadi, jadi posting no (I) itu
>sebenarnya dalam bentuk past tense, begitu pula sebagian dari posting no
>(II) ini.
>
>Selain itu, segala yang saya tuliskan di sini sudah mendapatkan ijin dan
>konfirmasi dari sahabat saya si pemilik masalah, bahkan dia cukup tertarik
>untuk mendengar tanggapan2 yang akan datang dari para miliser yang
>seluruhnya akan saya berikan kepada dia, mengingat pada posting no (II) ini
>masalah yang dia hadapi masih menggantung dan belum memiliki penyelesaian.
>
>Saya rasa cukup jelas, maka kisahnya saya lanjutkan :
>
>Ternyata pada akhirnya si cowok memang benar2 sudah tidak mau lagi
>mempertahankan pacarnya, dan dia pun memutuskan pacarnya tsb. Pacarnya
>sangat terkejut karena selama ini dia sama sekali tidak merasakan ada
>sesuatu yang fatal dalam hubungan mereka, kalaupun ada beberapa kali
>perselisihan dia menilai masih wajar dan masih dapat mereka selesaikan
>dengan baik. In fact, Si cowok sudah cukup dekat dengan keluarga pacarnya,
>dan sang pacar benar2 sudah berharap untuk dapat meneruskan hubungan ini ke
>masa depan. Sebelumnya perlu diketahui bahwa sang pacar merupakan orang
yang
>dapat disebut sebagai orang yang "sangat baik hati dan polos" oleh semua
>orang yang mengenalnya, hal ini membuat dia sangat bingung dan kacau begitu
>menerima kata putus dari si cowok. Namun si cowok sama sekali tidak
>memperdulikan himbauan dari (mantan) pacarnya agar memperhitungkan
>kemungkinan balik-nya mereka berdua. Dia tetap yakin dengan keputusannya
>untuk menyelesaikan hubungan mereka.
>
>Sementara itu hubungan si cowok dengan sahabat saya semakin lama semakin
>dekat dan akrab. Sahabat saya pun mulai bingung karena di satu pihak dia
>merasa belum kenal betul dengan cowok ini dan ke-dekat-an mereka benar2
>prematur untuk diteruskan ke hal yang lebih serius seperti pacaran. Namun
di
>lain pihak dia semakin lama semakin dekat dan mulai tergantung pada si
>cowok, minimal pada telepon2nya, pager2nya, dan kehadiran2nya yang
>frekuensi-nya sekarang semakin tinggi. Hampir tidak pernah ada hari tanpa
>kontak antara mereka berdua, dalam segala bentuk komunikasi yang semakin
>lama semakin menjurus ke arah yang lebih serius.
>
>Salah satu hal yang menjadi masalah yang cukup besar adalah bahwa sahabat
>saya sudah bertekad sejak putus dari pacarnya, bahwa setelah ini dia hanya
>akan menjalani hubungan jika dia benar2 sudah serius dan benar2 untuk masa
>depan, sementara si cowok pada awalnya terlihat sangat santai dalam menilai
>hubungannya, yang bisa diilustrasikan dengan "Saya suka kamu, kamu suka
>saya, kenapa nggak kita coba saja ?", tanpa ada pemikiran yang jauh ke
depan
>yang sebetulnya sangat mereka butuhkan mengingat ternyata banyak sekali hal
>yang menjadi kendala dalam hubungan mereka berdua jika mengarah ke yang
>lebih serius lagi nantinya.
>
>
>Akhir dari kisah saya (dimana ceritanya sendiri belum berakhir), status
>mereka adalah :
>
>Mantan pacar si cowok : Kelihatannya sudah mulai berhasil melupakan
>kemungkinan untuk kembali pada si cowok dan sudah bisa menerimanya. Tapi
>saya tidak tahu pasti apakah dia 'aware' atau tidak akan hubungan khusus
>mantan cowoknya dengan sahabat saya.
>
>Si cowok : Sangat berniat untuk sesegera mungkin meresmikan hubungannya
>dengan sahabat saya menjadi sepasang kekasih, dengan mulai sedikit
>memikirkan kemungkinan masa depan. Walaupun kadang2 terasa (oleh sahabat
>saya) bahwa sebenarnya dia belum punya pendirian yang matang dalam hal ini,
>dan kurang mantap dalam banyak sekali hal. Kekurangmantapannya ini menjadi
>masalah yang cukup besar karena sahabat saya yang menginginkan hubungan
yang
>sangat serius menjadi ragu untuk menjalin hubungan tersebut.
>
>Sahabat saya : Semakin lama semakin terjepit. Di satu pihak hatinya
>semakin suka (terbiasa ?) dengan si cowok, terlebih mengingat sekarang
>ke-dekat-an mereka sudah seperti sepasang kekasih dalam hal2 seperti
>antar-jemput, menemani bekerja/buat tugas, kehadiran dan tentunya telepon
>dan pager setiap harinya. Di lain pihak dia masih belum benar2 yakin apakah
>si cowok (dan dia sendiri juga) sudah siap memulai hubungan yang baru, yang
>dia inginkan benar2 serius dan benar2 berorientasi masa depan. Dan tentunya
>juga 'the million dollar question' : Apakah ini dia pasangan hidup saya...?
>
>Update terakhir : Karena sahabat saya dan si cowok sedang sangat sibuk
>dengan pekerjaannya masing2 yang tidak bisa mereka tinggalkan, mereka
>memutuskan untuk menunda dulu kepastian hubungan mereka dan menetapkan
suatu
>waktu (kira2 2 bulan lagi) dimana pada waktu tersebut mereka berjanji akan
>sudah ada keputusan yang memperjelas hubungan mereka, apakah akan
diteruskan
>atau dihentikan. Sementara itu mereka tetap menjalani kehidupan seperti
yang
>biasa mereka lakukan akhir2 ini.
>
>THE END.... (?)
>
>Silahkan teman2 untuk mengomentari...
>
>Terima kasih,
>
>emilr
>
>"Life is what happens to you while you're busy makin' other plans..."
>(John Lennon, Beautiful Boy)
** Jadual puasa Ramadhan @ http://www.indoglobal.com/puasa.html **
Layanan Informasi Iklan Baris Internet * http://www.iklan-25.co.id
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
Autoresponders Netiket : [EMAIL PROTECTED]
HI-Reliability low cost web hosting service - http://www.IndoGlobal.com