B. 'Avatar' Avianto wrote:

> Well... pardon me for saying this:
> "inilah yang membuat kita kadang salah langkah"...
>
> Siapa bilang "hal yang sudah umum" tidak perlu dilakukan atau mengurangi
> nilai "romantis"?
> Saya ambil contoh "bunga"... ini mungkin kecil dan umum banget keliatannya,
> tapi deep in my heart I do believe this... mayoritas cewek seneng kok kalo
> dikasih bunga... malah saya yakin, nggak semua cewek pernah dikasih
> bunga... (I speak the word "majority" so... protests are not allowed).

I have learned it the hard way.  Contohnya bunga.  Dulunya saya juga enggak ngerti
apa sich big dealnya dengan bunga.  Tapi pelan pelan saya mulai appreciate it.
Saya akhirnya menerima kenyataan kalau (majority) wanita suka kalau diberikan
bunga.  (walaupun mungkin sampai sekarang belum mengerti banget.  Saya sendiri
mungkin tidak akan exited banget bila ada wanita atau pria yang memberikan saya
bunga.  Tapi itulah bagian dari 'misteri' wanita, yang majority pria tidak akan
bisa mengerti/menebak).

Anyway.  Kalau sudah sering memberikan bunga, menurut saya, sudah mengurangi kadar
surprisenya.  Menurut saya kadang romantis itu perlu unsur surprise.

Mungkin saya harus lebih jarang memberikan bunga. :)

> Kembali ke soal "umum" diatas, pernah nggak kebayang bahwa "hal yang umum"
> akan menjadi berbeda bila dilakukan oleh dan untuk orang yang istimewa dan
> pada saat yang istimewa (in your case, Valentine).
> Kita melihat disini "individu"nya, bukan bendanya.
> Anda kan bertanya soal tempat makan romantis? Percaya nggak kalau Nasi
> Goreng Kambing di Kebon Sirih dengan gaya makan dalam mobil bisa jadi
> romantis? Kenapa bisa? Ya itu tadi "right time, right moment and the most
> important is the right person".

'Umum' bukanlah konsep 'romantis' untuk hari yang 'special', setidaknya untuk
saya.  Saya selalu mencari sesuatu yang plus.  Sesuatu dengan element surprise.

Romantis sewaktu baru pdkt lebih gampang dibandingkan dengan 'romantis' untuk
hubungan yang telah berjalan 7-8 tahun, atau untuk yang telah menikah puluhan
tahun.  (setidaknya untuk/menurut pendapat saya.  Saya tidak melihat hubungan
orang tua saya romantis).

Jalan jalan berdua sore sore di Waterfront, sewaktu pendekatan, akan romantis
sekali.  Tapi kalau dilakukan setiap minggu selama 5 tahun, akan kehilangan nilai
romantisnya.
Disini saya mencoba untuk mencari element element surprisenya.  Supaya jjs
tersebut tidak menjadi sebuah 'rutinitas' tetapi special tiap kalinya.

Saya ingat akan teori ekonomi yang pernah saya pelajari di SMA.  Segelas air
pertama nilai kepuasannya sangat tinggi, gelas ke dua, nilai kepuasaannya akan
berkurang, dan seterusnya.
Nach, saya mencoba untuk merubah gelas air ke dua, menjadi, misalnya, segelas
Sprite!. :)

Saya setuju dengan "How-To"nya anda...... "element of surprise".

Saya hanya kadang sudah mentok.  Kehabisan ide.

> Better start believe in yourself, nggak sulit kok untuk jadi "romantis" asal...
> mental>
> ---kutipan---
> @>Saya sendiri bukanlah orang yang terlalu romantis.  Saya pikir kalau
> @>memberikan bunga, atau coklat, adalah hal yang sudah umum.
> ---kutipan---
> dicoba untuk dikikis pelan-pelan, bukan hak kita kok untuk menilai apakah
> diri kita romantis atau tidak dan bukan pula hak kita untuk menafsirkan
> sesuatu yang umum itu berarti pasaran...

Cewek saya sendiri kok yang bilang saya kurang romantis.  HAHAHAHAHAHAHAJadinya
saya mencoba lebih keras.

> Wassalam,
> B. 'Avatar' Avianto
> [EMAIL PROTECTED]
> http://www.avianto.com

salam,id



  Layanan Informasi Iklan Baris Internet * http://www.iklan-25.co.id

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, e-mail   : [EMAIL PROTECTED]
Autoresponders Netiket : [EMAIL PROTECTED]
HI-Reliability low cost web hosting service - http://www.IndoGlobal.com 


Kirim email ke