At 10:05 AM 12/23/98 +0700, arief muLya wrote:

Atiep:

>saya dan admin akan mengambil tindakan tegas terhadap
>pihak-pihak yang tidak mau / tidak mau tahu / mentaati NETIKET (NETIKA
>BERINTERNET)

Arief: (sorry kalau saya edit, mailnya berantakan sekali sih)

>> wah bagus itu, tapi mbok yach coba dijelasken dulu sama yang
>> bersangkutan mungkin aja dia belum mengerti.... kan nggak semua 
>> orang bisa (punya kesempatan -red ) membaca dan mengerti NETIKET 
>> seperti anda (kayak saya juga mungkin??) , dan yach, maklumin lah 
>> orang kan bisa lupa juga kadang-kadang (tapi, kadang-kadang aja loh !)

Ini alasan yang sangat mengada-ada. Sudah jelas si dundai punya account di
students.itb.ac.id (saya juga punya, karena saya juga mahasiswa ITB), lalu
buat apa dia punya account, atau mungkin lebih kasarnya lagi, buat apa dia
kuliah di ITB, kalau sekadar netiket, yang notabene sudah disodorkan di
depan matanya, mengingat ITB sudah punya akses internet gratis sebesar 2
MBPS dari WIDE Jepang, tidak mau dia pahami? Pemborosan uang rakyat? Hanya
dundai yang bisa menjawab mengapa dia menyia-nyiakan kesempatan dia belajar
di ITB. 

>jamannya bebas mengemukakan pendapat  bukannya bebas seenak 
> yang anda mau tapi tetap ada aturannya', berbicara diemail juga 
> ada aturannya'
>
>> tapi inget loh, (TIps of the day) bukan manusianya yang harus
>> disesuaikan dengan aturan, tapi aturannya-lah yang harus disesuaikan 
>> dengan kemanusiaan.

Ini tipikal pembelaan diri manusia Melayu, jika melanggar aturan, dan
diingatkan oleh orang lain atau diberikan sanksi, bukannya instropeksi diri
sendiri, tapi malah menyalahkan aturan. 

>mohon jika berdiskusi menggunakan etika dan tata krama ' yang baik
>kalau mau ngomong' 'ngaco' bikin ajah deh' mailinglist di @egroups.com
>dan undang yang mempunyai kesamaan minat dengan anda'
>
>> tapi gimana kalo nggak semua peserta milis ini menganggapnya
>> ngaco...???

Kalau begitu coba saja dilihat secara majority, saya melihat tulisan dundai
memang mengungkapkan pendapatnya, sayangnya cara menulisnya cenderung
ngawur, dan yang saya sangat tidak suka adalah kecenderungan dia
menyepelekan orang lain, bahkan sampai ke tingkat menyerang pribadi orang
lain, seperti pada mailnya yang menjawab mail saudara Sigit. Ini bukan cara
berdiskusi yang baik, apalagi dia membawa-bawa nama ITB pada alamat
mailnya, mestinya dia bisa lebih banyak menggunakan otak daripada emosi. 

>Tertarik juga nimbrung, mengingat si dundai ini anak ITB, mestinya
>logikanya jalan juga dong ya, kalo nggak mungkin masuk ITB-nya lewat
>jalur khusus, hehe.
>
>> tertarik nih yeee..... keliatannya tau jalur khususnya juga nih...

Seperti yang saya sudah jelaskan di atas, saya memang orang ITB. Dan memang
ada yang masuk ITB lewat UMPTN, ada juga yang lewat jalur khusus. 

>Kalau misalkan kita ketemu cewek, misalnya di angkot atau di mall, terus
>kita pengen banget kenalan sama tuh cewek, caranya gimana sich,
>Apa kita deketin tuh cewek terus bas-basi sebentar lalu kenalan, atawa
>gimana?
>
>> waduh.. kalo di mall sich, bisa dideketin, tapi di angkot ?????
>:-).

Wah, kenapa tidak menjawab sejak dulu mas? Harap diingat, itu bukan
pertanyaan dari saya, tapi dari anggota milis yang lain.

>Sayangnya, meski di ITB, saudara dundai berpendapat hanya dengan
>"perasaan", bukan dengan logika. Jadinya ya, terbuang percuma tuh
>kemampuan berpikirnya, meski sudah kuliah di ITB.
>
>> ah... perasaan (tuh kan pake perasaan lagi) bukan hanya
>>tergantung di mana kuliahnya, tergantung person kali ya...
>>lagian, ada hal2 tertentu yang enggak bisa di"rasa"kan oleh logika
>>lho.... kudu pake "perasaan" juga... (ah... apa bener ya???)

Yang ingin saya tekankan, adalah jangan menomor satukan ego si dundai ini.
Mentang2 tidak menyinggung perasaan si dundai, dia sudah tidak pakai logika
lagi dalam menjawab mail bung Atiep. Yang ingin saya lihat adalah dalam
menjawab mestinya tidak melulu ego doang yang terlihat, tapi termasuk logic
reasoning-nya. 

>Maaf jika ini menyinggung perasaan anda, tapi ini hanya mengikuti gaya
>menulis mail si dundai yang langsung menyerang pribadi (khususnya ke
>saudara Sigit, sewaktu diskusi soal cewe = barang).
>
>> engga' pa-pa lah... kan sombong kepada orang sombong itu
>>sedekah... Tapi... (ada tapinya sich..) kalo orang lain kurang baik
>>(menurut kita..), lalu kita mbalas dengan hal yang sama, apa bedanya
>>kita dengan dia ya ???????? ;-)

Memang tidak ada bedanya, tapi dari yang saya lihat, belum ada yang
memperlakukan si dundai seperti si dundai memperlakukan orang lain di milis
ini. Saya hanya ingin dia merasakan apa yang orang lain rasakan, saat dia
menyerang pribadi orang lain. 

>Kalo yang ginian sih, harus ditanya ke nurani kita (atau "perasaan"
>kita.????)

Tanyakan kepada nurani anda, relakah pribadi anda diserang di depan umum?
Saya sendiri melihat saudara Sigit sudah terlalu baik hati kepada si dundai
ini. 

I want to live for love,
not to die for love - CiTyHuNTeR

* IKLAN DOEA LIMA * 
  Layanan Informasi Iklan Baris Internet * http://www.iklan-25.co.id

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, e-mail   : [EMAIL PROTECTED]
Autoresponders Netiket : [EMAIL PROTECTED]
HI-Reliability low cost web hosting service - http://www.IndoGlobal.com 


Kirim email ke