Oke temen-temen ...

Saya janji kelamaan ... akhirnya saya kirimkan juga cerita saya tentang pengalaman saya
ketemu orang (cewek) di internet. Saya dapat tambahan motivasi untuk mengirimkan ini
setelah ada hal lain yang saya alami dan dengar, yang berhubungan dengan pengalaman
saya ini
Cerita ini tinggal saya copy dan paste aja ... karena dulu pas deket kejadiannya sudah 
saya
kirimkan ke teman-teman dekat saya di internet, tapi ada beberapa line terpaksa diedit.
Sebelumnya karena di sini banyak temen saya juga dari milis lain ... juga mungkin 
beberapa
temen di darat, saya mau bilang ..... saya nggak malu diketawain karena pengalaman ini.
Termasuk ke .... mau tetangga, dosen, mahasiswa, temen, sodara, atau apa aja-nya saya.
Barangkali emang kesannya silly ... tapi inti yang ingin saya katakan adalah bahwa
ketemu seseorang yang sebelumnya akrab di internet itu nggak sederhana masalahnya.

FYI: buat temen-temen IGN, anda akhirnya jadi tahu juga kenapa saya nggak cepet
menyelesaikan transkrip wawancara itu.

Tomita P.
PS: bagian berikutnya adalah perkembangan dari apa yang saya alami.

cerita di mulai ============================================>

Aku bilang sih ini pasti ada campur tangan Tuhan, ketika suatu hari aku hanya
milih begitu saja suatu alamat email di sembarang tempat di internet (aku bahkan
udah lupa itu di mana). Ternyata kami jadi akrab, dan setiap email yang datang
pasti akan segera dibalas. Sampai suatu ketika kami saling tukar nomor telpon.

Di telpon dia lebih terbuka daripada di email. Ternyata dia seorang peragawati/model
dan dia sedang berusaha keras untuk menghilangkan sedihnya karena Ibunya
belum lama meninggal dan pada saat-saat yang menentukan kekasihnya bikin
masalah dan sama sekali tidak menunjukkan pengertiannya. Sebagai suatu
decency aku bertindak sebagai pendengar yang baik, tapi lama-lama aku tergerak
juga untuk memberikan masukan-masukan, sekurang-kurangnya aku dan dia
tanpa saling konfirmasi sudah menjadi "sahabat" dengan satu dan lain cara.

Dalam prosesnya aku menggunakan pengalamanku sendiri sebagai bandingannya.
Tapi akhirnya aku jadi terkejut akhirnya karena ketika detil demi detil pengalamanku
aku ceritakan, dia berkali-kali nge-break untuk mengatakan bahwa dia juga mengalami
hal yang sama. Singkatnya banyak kesamaannya antara aku dan dia. Yang membe-
dakan hanya kenyataan bahwa aku laki-laki dan dia perempuan.

Karena tahu bahwa dia seorang peragawati, aku jadi tertarik juga untuk mengorek
sedikit info tentang status ekonominya. Soalnya aku jadi bertanya-tanya tentang
beberapa hal yang nggak bisa aku bayangkan mengingat dia sendiri mengatakan
bahwa dia sekarang nggak bekerja apa-apa. Akhirnya keluar sendiri dari mulutnya
bahwa dia pernah menang judi di Perth Australia, dan semenjak itu dia hidup dari
deposit di bank. What a life !

Mulai dari situlah dia cerita tentang latar belakang hidupnya. Dia pernah jadi seorang
Disc Jockey di sebuah disco club di Jakarta, pernah jadi lesbian, pernah menggunakan
pil extasy, pernah mabuk-mabukan, ada dua tattoo di tubuhnya (yang dia sesali 
akhirnya),
dan sebagainya. Atas semua kehebohan di masa lalu itu, dia menyesal. Terutama
kematian Ibunya itu yang membuatnya sadar. Terucap dari mulutnya sendiri bahwa
ia ingin masuk pesantren ....

Setelah pengakuan semua itu pembicaraan kami lebih banyak menyangkut kami berdua.
Dan perlu diketahui bahwa semua ini berlangsung melalui telpon interlokal 
Jakarta-Bandung
yang durasinya memecahkan rekor penelpon terlama dalam hidup saya ! Dia telpon
pertama kali hari Selasa tanggal 1 September dari jam 23 sampai 06.30 ! Hari berikutnya
sekitar tujuh jam an, hari berikutnya lagi hanya beberapa menit karena aku seharian
harus ada di kantor, dan seterusnya setiap hari nggak ada hari tanpa telpon dari dia 
....

Nggak tahu kenapa aku sendiri mau melayani telponnya. Soalnya untuk satu hal, baru
kali ini ada telpon yang nggak membuat aku dikerjain. Biasanya telpon di rumahku 
berdering
karena ada orang minta pertolonganku, minta datang ke sini atau ke sana, atau minta
betulkan ini itu, dan sebagainya. Telpon dari dia seperti menyapa .... dengan cara yang
belum pernah terjadi sebelumnya. Dia perhatian sekali ...

Aku merasa kami sudah akrab sekali, sampai akhirnya aku ucapkan juga ajakan untuk
menjadi sahabat. Dia ketawa sambil bilang bahwa tanpa diucapkan pun sebenarnya kami 
sudah
begitu. Mulai dari sinilah pembicaraan menjadi jauh lebih dalam. Dia sampai mengisahkan
pengalaman pribadinya yang, menurutnya sendiri, belum tentu akan bisa ia ceritakan 
dengan
mudah ke mereka yang mengaku sebagai teman dekatnya. Selesai menceritakan itu, dia
sendiri kaget kanapa akhirnya ia bisa cerita, dan atas semua yang sudah dia sampaikan 
dia
ingin sekali bisa punya kekasih lagi yang kepadanya bisa saling terbuka seperti ini ...

Seperti perjalanan dari satu titik ke titik yang lain, setiap sampai ke suatu titik 
membukakan
kemungkinan ke titik berikutnya yang tak terbayangkan sebelumnya. Kata-kata dia itu
seperti jadi isyarat dan memancingku juga untuk mengirimkan isyarat yang analog.
Aku udah lupa apa yang aku katakan, tapi aku ingat betul ketika dia bilang bahwa wajar 
aja
kalau kami nanti ketemu akan suka satu sama lain, dan lebih baik itu tidak direkayasa,
biarkan saja berjalan secara alami.

Akhirnya aku punya alasan juga untuk pergi ke Jakarta. Untuk mengisi homepage dan milis
Indonesian Guitar Network yang aku kelola, aku akan mengadakan wawancara dengan
seorang gitaris entertainer di hotel Sahid dan Le Meridien. Aku sampaikan rencanaku 
itu,
dia senang sekali dan bilang bahwa dia punya surprise untukku.

Dan memang betul itu suprise ..... Sampai di Gambir, aku dijemput olehnya dengan BMW
warna putih dari jenis yang aku sendiri belum pernah lihat di Indonesia. Waktu itu dia 
pake
kaca mata hitam. Overall, penampilannya adalah seorang perempuan yang baru lepas dari
masa ABG, independen, asertif, berselera tinggi, dan nggak mau kena terpaan matahari
secara langsung. Ada beberapa gambaran lain di kepalaku yang pecah karena semuanya
sekarang diverifikasikan dengan kenyataan yang sebenarnya, meskipun untuk beberapa di
antaranya aku merasa kehilangan ..... yaitu gambaran tentang dia yang aku fantasikan
sendiri selama ini ...

Aku diberi tempat menginap di sebuah hotel di daerah Margonda - Depok. Aku kira kalau 
di
Bali hotel itu sekelas dengan hotel bintang empat. Setelah check in, aku diajak makan 
keluar.
Pilihan jatuh ke Mie GM di Pondok Indah (tempat makan favoritnya Sizzler belum buka 
karena
hari masih pagi). Dari situ aku mengantarnya belanja ke supermarket, beberapa outlet
pakaian, dan sebuah toko CD. Banyak sekali yang ia beli, dan semua itu nampaknya tidak 
ia
rencanakan sebelumnya. Dilihat dari kualitas barang yang ia beli, aku yakin sekali 
semua itu pasti mengabiskan duit banyak sekali.
Aku sih hanya nganterin dan lihat-lihat.

Sebelum cerita ini membosankan aku ambil jalan pintas aja .... setelah mengadakan 
wawan-
cara dengan gitaris entertainer itu, berarti aku sudah menjalankan misi utamaku. Tapi
sebenarnya aku masih berpikir untuk menambah satu session wawancara lagi untuk
melengkapinya. Si gitaris itu sudah mengizinkan, kalau dirasakan kurang tinggal telpon,
katanya.

In the mean time aku pikir bisa aja pulang ke Bandung, tapi doi insist aku tetap di 
Jakarta.
Aku bilang sampai hari Kamis siang, karena Kamis malam aku ada rapat di Bandung dengan
teman-teman LSM. Ya, udah mulai detik itu aku dan dia jalan-jalan terus..... di 
antaranya
makan di restoran yang namanya TGI Friday. Di sini aku lihat ada pemeran iklan sampoo
Rejoice, dan ketika aku pulang aku kaget bahwa tadi di belakangku ternyata ada .....
Desi Ratnasari ! sedang makan dengan seorang laki-laki.
(Masa itu adalah puncak-puncaknya krisis ekonomi. Rasanya kikuk aja makan makanan
yang sepiringnya adalah 150 ribuan)

Yang paling berkesan adalah ketika aku diajak ke sebuah kafe di daerah Kemang di mana
kata dia sendiri dia menjadi member di situ. Sudah lama aku bayangkan kafe itu seperti
kafe de Flore di Perancis, di mana orang bisa ngomong dan berdiskusi dengan bebas
seperti waktu jaman maraknya eksistensialisme di Perancis. Nama kafe itu adalah 
Balemang
dan ternyata isinya hiruk pikuk sekali. Tempatnya remang-remang dan riuh rendah karena
ada sebuah pertunjukan band live di situ. Selain ada meja tinggi ada juga tempat untuk
duduk mojok yang sofanya adalah kasur kapuk. Dia masuk ke tempat itu disambut
para pelayan seperti sudah akrab sekali. Setelah memesan makanan, aku duduk berdua
dengan dia. Suasana nggak memungkinkan untuk bicara empat mata face to face. Ada
semacam kekuatan aneh yang mendorong aku untuk memperhatikan band yang main.
Ketika sebuah lagu selesai ... si penyanyi menyambut kedatangan kami lalu membacakan
sesuatu. Ternyata temanku itu meminta lagu dan lagu itu ditujukan untukku ..
Si penyanyi itu bilang, "Wah, baru kenalan ya ? Selamat ......." Dan mendadak seisi
kafe itu menoleh ke arah tempat kami duduk, beberapa di antaranya ada yang bertepuk
tangan ... Dia meminta lagu "My All" dari Mariah Carey.
What a feeling !!

Oh ya. Beberapa momen itu aku lalui tidak berdua, ada adik angkatnya, keponakan, dan
teman dekatnya, semua perempuan. Karena sebelumnya selalu nggak ada kesempatan
untuk ngomong face to face, aku jadi berpikir untuk meminta kepadanya supaya bisa
pergi ke suatu tempat yang tenang berdua aja .... dan ngobrol dengan suasana 
keterbukaan
seperti di telpon itu. Baru saja niatku itu akan aku utarakan, sesuatu terjadi ....
Rencanaku hari ketiga akan kusampaikan keinginanku itu, tapi seharian itu aku jadinya
hanya nongkrong terus di kamar hotel. Aku heran kenapa dia nggak menghubungi aku ....

Sementara itu aku sudah putuskan hari itu bahwa aku harus mengadakan wawancara lagi
karena memang ada topik yang belum aku tanyakan. Tapi aku harus menunggu dia karena
semalam dia sudah janji akan mengantarkan aku lagi ke tempat wawancara. Dan memang
ternyata aku menunggu terus .... sampai ketika sore aku putuskan untuk menggagalkan
wawancara dengan terlebih dulu menelpon si gitaris dan bohong kepadanya bahwa
wawancara kemarin itu sudah cukup. Di sini aku mulai kesal ... karena kalau saja dia
menelpon ke hotel tempatku menginap bahwa dia nggak bisa datang, aku bisa aja sendiri
naik taksi ke Le Meridien.

Sampai akhirnya sore-sore keponakannya datang ke kamar hotelku dan cerita bahwa tadi
malam dia pergi ke tempat temannya untuk suatu negosiasi bisnis, dan di sana maag-nya
kambuh. Dia nggak bisa pulang ke rumah. HP-nya kebeneran juga kemaren kartunya habis 
...

Akhirnya aku check out dari hotel tanpa melihat wajahnya .... bahkan belum sempat
mengatakan betapa aku menghargai semua yang sudah dia berikan. Semua keperluanku
di urus adik angkatnya.

Ketika aku tulis email ini ... sudah hari kelima dia nggak jelas kabarnya. Dia sempat 
telpon
juga ke saudaranya dan bilang bahwa dia ada di daerah perumahan Permata Hijau, tapi
karena terburu-buru dia nggak sempat memberi tahu alamat jelasnya atau nomor telpon
yang bisa dihubungi. Semua yang dekat dengan dia gelisah karena menurut mereka belum
pernah hal seperti ini terjadi. Well, termasuk aku ....
Semalam aku interlokal ke adik angkatnya dan dia bilang masih belum ada kabar ...

Seperti biasa pikiranku sudah mulai membayangkan yang macam-macam. Apa jangan-
jangan dia termasuk salah satu komisaris dari bank yang sedang dicekal oleh pemerintah
sekarang dan ia harus stand by di suatu tempat rahasia, atau ia ada hubungannya dengan
terbongkarnya sebuah laboratorium pabrik extacy di Jakarta.
Barangkali dia diculik oleh pihak tertentu karena ia bersangkutan dengan konspirasi
high level politic ? Atau yang paling gawat ... mobil BMW-nya dirampok dan dia 
diperkosa ?

Masih banyak latar belakangnya yang gelap bagiku. Dan mengingat semua yang sudah
aku alami, kemungkinan apa aja kayaknya mungkin terjadi.
Aku di Bandung sini nggak bisa berbuat apa-apa kecuali telpon ... itu pun sering yang
aku telpon nggak ada di tempat.
Jelas aku harus menjinakkan perasaan gelisah ini karena aku sudah jadi peduli sama dia,
dan karena itu aku nggak bisa membiarkan dia nggak jelas keberadaannya.

Apakah pertemuanku dengan dia itu nyata atau Ilusi ?

Atau barangkali semacam Quantum Leap ? di mana aku di transfer ke kelas borjuis ?
dan aku dikembalikan lagi ke sini karena aku dianggap nggak mampu menyelesaikan
masalah ?  ....... ;-)

Aku di Bandung sini .... akhirnya hanya bisa berdoa.
(dan lagu MP3 "My All" dari Mariah Carey itu aku putar berulang-ulang)


Tomita P.



  ** Jadual puasa Ramadhan @ http://www.indoglobal.com/puasa.html **
  Layanan Informasi Iklan Baris Internet * http://www.iklan-25.co.id

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, e-mail   : [EMAIL PROTECTED]
Autoresponders Netiket : [EMAIL PROTECTED]
HI-Reliability low cost web hosting service - http://www.IndoGlobal.com 


Kirim email ke