Cinta Ayah "Cinta ayah" adalah juga suatu bentuk cinta yang dapat diekspresikan oleh seseorang yang bukan ayah yang sesungguhnya. Istilah itu hanya menyatakan bahwa dalam bentuk cinta ini keputusan pernyataan cinta itu secara terang-terangan didasarkan kepada apakah kondisi yang tertentu dipenuhi atau tidak. Ada sesuatu yang dapat anda lakukan, untuk memperbesar atau mengurangi kemungkinan memperoleh cinta itu. Anda tidak dapat membuat seseorang untuk menunjukkan cinta ayah kepada anda, kecuali dengan memenuhi syarat-syarat tertentu. Bentuk cinta ini digunakan untuk mengajarkan tanggung jawab akan perilaku anda dan konsekuensi dan perilaku itu. Dalam mengajarkannya, ayah mungkin menyusun dan menetapkan suatu aturan-aturan tingkah laku, dan kondisi-kondisi tertentu. Anak mungkin memilih untuk mematuhi aturan-aturan itu, memberontak atau menentangnya. Jika anak memilih untuk memberontak, orangtua mungkin berusaha mendisiplinkan anak itu dengan cara-cara fisik atau dengan menahan pernyataan cinta. Namun, dalam beberapa kasus, harga untuk mengekspresikan cinta ini boleh jadi terlalu tinggi, seperti dalam kasus dimana standard seorang orangtua dalam mengekspresikan cinta terhadap anaknya dengan janji bahwa anak tidak akan meninggalkan orangtua. Jika anak meninggalkan orangtua, maka semua pernyataan cinta akan ditahan. Maka anak bisa sampai berumur empat puluh tahun namun tidak meninggalkan orangtua. Jika seorang orangtua mengunjungi suatu penjara untuk melihat anaknya yang ditahan di sana, cinta ibu mungkin dinyatakan dengan cara ini: "Saya mengetahui kau sudah memperkosa dan membunuh, mencuri dan menipu, membakar dan merampok, tapi kau adalah anakku, dan saya mencintaimu. Saya akan tetap mencintaimu." Orangtua itu meninggalkannya sambil menangis. Cinta ayah dinyatakan dengan cara: "Kau telah memperkosa dan membunuh, mencuri dan menipu, membakar dan merampok. Sejak saat ini kau tidak anak saya lagi. Kamu jangan datang lagi kerumah saya dan kau tidak memperoleh cinta lagi dan saya." Orangtua itu meninggalkannya dan menangis. Barangkali perbedaan yang terpenting ialah, bahwa dalam cinta ayah perasaan cinta itu tetap ada, sedang pernyataannya ditahan. Kebalikannya, cinta ibu benar-benar tidak bersyarat. Betul-betul tidak ada sesuatu yang dapat dilakukan mengenai itu untuk memperoleh atau melenyapkannya. Itu diluar kekuasaan anda. Sayang sekali, banyak anak percaya bahwa dia dapat melakukan sesuatu untuk memperoleh cinta ibu dan berusaha untuk memperolehnya. dengan perilakunya. "Mungkin jika saya memperoleh angka raport yang baik, jika saya bisa masuk universitas, atau jika saya memperoleh suatu pekerjaan yang baik, maka mereka akan mencintai dan menyetujui." "Saya tidak mengerti itu. Dia seorang gelandangan. Dia terus dalam keadaan kesusahan dan membuat masalah, namun mereka masib mencintainya." Tentu saja, usaha anak itu akan sia-sia. Setiap kasih sayang yang diterimanya sebagai suatu akibat atau konsekuensi perilaku adalah berupa cinta ayah, bukan cinta ibu. Lagi, ditekankan bahwa kedua bentuk cinta itu tidak perlu selalu dinyatakan atau diekspresikan oleh ibu atau ayah. Seorang ibu mungkin memilih menyatakan atau mengekspresikan hanya jenis cinta ayah. Seorang ayah mungkin memilih untuk tidak mengekspresikan cinta ibu dan juga tidak cinta ayah. Istilah-istilah jtu hanyalah bentuk alternatif dan cinta yang bisa terdapat atau bisa dilakukan oleb setiap orang. Kenyataannya, bentuk cinta ini sering dinyatakan antara orang yang sedang bercinta. "Sayang, jika saya tipu kau, apakah kau masih tetap mencintai saya?" "Tentu saja saya akan tetap cinta. Kalaupun saya disakiti saya akan tetap mencintaimu." "Apakah ada sesuatu yang dapat saya lakukan untuk menghentikan agar kau tidak mencintai saya lagi?" "Tidak sayang. Saya mencintaimu tanpa syarat." Sering dalam situasi seperti itu, kedua orang itu membangun hubungan yang benar-benar mereka kehendaki. "Sekarang saya hanya mengatakan ini kepadamu sekali saja. Saya sangat mencintaimu, tapi persetan dengan itu, jika saya sampai tahu kau menipu saya dan memakai obat-obat terlarang maka hubungan kita putus. Saya tidak mau meneruskan kekecewaan seperti itu lagi. Walaupun saya mencintaimu maka cukuplab itu dan tidak berharga untuk diteruskan, kalau kau masih ..." Seringkali dalam bentuk situasi ini, keduanya membangun suatu hubungan cinta ayah, dan itulah bentuk hubungan yang benar-benar dikehendaki mereka. Dari hubungan-hubungan itu tidak perlu ada yang dianggap sebagai yang baik atau sebagai yang buruk. Itu hanya menggambarkan bentuk hubungan yang mungkin, jika hanya ada satu bentuk cinta yang dominan. Jika seorang anak dibesarkan hanya dengan cinta ibu, maka hal itu dianggap sebagai suatu lingkungan yang tandus. Anak akan kurang mengalami suatu konsekuensi dari perilakunya. Tidak peduli bagaimana dia memilib untuk berperilaku, konsekuensi adalah tetap sama: dicintai dan diterima. Anak mungkin memilih untuk percaya bahwa seluruh dunia sudah memilih untuk mencintainya, dan kecintaan itu sama sekali tidak bersangkut-paut dengan perilakunya. Seorang anak dengan keadaan yang sama, mungkin menjadi tandus jika dia dibesarkan hanya dengan cinta ayah, dan karena itu keadaan mi umumnya dicela oleh banyak ahli. Anak mungkin memilih untuk percaya bahwa satu-satunya cara untuk memperoleh cinta ialah dengan berusaha memperolehnya, bahwa anda memperoleh cinta dengan perbuatan-perbuatan dan usaha-usaha atau prestasi, dan jika anda gagai untuk itu, secara otomatis anda tidak dicintai lagi. "Bagaimana mungkin anda dapat mencintai saya? Saya kehilangan pekerjaan saya. Saya bekerja di sana selama bertahun-tahun dan pekerjaan saya tidak begitu baik. Ayah benar; saya tidak berharga untuk dicintai." Dinukil dari buku: 4 Teori Kepribadian, Bernard Poduska Betawi Indonesian Web Directory - http://senayan.betawi.net/ -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED] To subscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED] Autoresponders Netiket : [EMAIL PROTECTED] UNLIMITED POP3 Account @ http://www.indoglobal.com
