> 10 Penyakit Kronis > > Oleh: Louis Binstock, 1958. > Diceritakan kembali oleh: Yanto Martosudarmo PhD. > > 1. Menyalahkan orang lain. > Itu penyakit P dan K, yaitu Primitif dan Kekanak-kanakan. > Menyalahkan orang lain adalah pola pikir orang primitif. Di pedalaman > Afrika, kalau ada orang yang sakit, yang dipikirkan adalah: Siapa nih > yang nyantet? Selalu "siapa". Bukan "apa" penyebabnya, tapi "siapa". > Bidang kedokteran modern selalu mencari tahu "apa" sebabnya, bukan > "siapa". Jadi kalau kita berpikir menyalahkan orang lain, itu sama > dengan sikap primitif. Pakai koteka aja deh, nggak usah pakai dasi dan > jas. > > Kekanak-kanakan,. Kenapa? Anak-anak selalu nggak pernah mau disalahkan. > Kalau ada piring yang jatuh, :" Adik tuh yang salah", atau " mBak tuh > yang salah". Anda pakai celana monyet aja kalau bersikap begitu. > > Kalau kita manusia yang berakal dan dewasa selalu mencari sebab, kenapa > demikian, sebabnya apa ini?. > > 2. Menyalahkan diri sendiri. > Menyalahkan diri sendiri bahwa dirinya merasa tidak mampu. Anda pernah > mengalaminya? Kalau anda bilang tidak pernah, berarti anda bohong sama > saya. > "Ah, dia sih bisa, dia ahli, dia punya jabatan, dia berbakat dlsb, Lha > saya ini apa?, wah saya nggak bisa deh. Dia S3, lha saya SMP, wah nggak > bisa deh. Dia punya waktu banyak, saya sibuk, pasti nggak bisa deh. > Penyakit ini seperti kanker, tambah besar, besar di dalem diri sehingga > bisa mencapai "improper guilty feeling". Jadi walau yang salah partner, > anak buah, atau bahkan atasan, berani bilang: " Saya kok yang memang > salah, tidak mampu dlsb". > > Penyakit ini pelan-pelan bisa membunuh kita. Merasa inferior, kita tidak > punya kemampuan. Kita sering membandingkan keberhasilan orang lain > dengan kekurangan kita. Penyakit ini tidak akan memecahkan persoalan, > menutupi kelemahan. Insting kita selalu tidak mau terlihat lemah. > > 3. Tidak punya goal/cita-cita. > Kita sering terpaku dengan kesibukan kerja, tetapi arahnya tidak jelas. > Sebaiknya kita selalu mempunyai target kerja dengan milestone. Target > jangka panjang dan jangka pendek secara tertulis. > Ilustrasi: > Ada anjing jago lari yang sombong. Apa sih yang nggak bisa saya kejar, > kuda aja kalah sama saya. Kemudian ada kelinci lompat-lompat, kiclik, > kiclik, kiclik. Temannya bilang: "Nah tuh ada kelinci, kejar aja". Dia > kejar itu kelinci, wesss...., kelinci lari lebih kencang, anjingnya > ngotot ngejar dan kelinci lari sipat-kuping (sampai nggak dengar/peduli > apa-apa), dan akhirnya nggak terkejar, kelinci masuk pagar. > Anjing kembali lagi ke temannya dan diketawain. "Ah lu, katanya jago > lari, sama kelinci aja nggak bisa kejar. Katanya lu paling kencang". > "Lha dia goalnya untuk tetap hidup sih, survive, lha gua goalnya untuk > "fun" aja sih. > > Kalau "goal" kita hanya untuk "fun", isi waktu aja, ya hasilnya cuma > terengah-engah saja. > > 4. Mempunyai "goal", tapi salah. > Biasanya dialami oleh orang yang tidak "teachable". Goalnya salah, fokus > kita juga salah, jalannya juga salah, arahnya juga salah. > Ilustrasi: > Di Beijing ada pemuda yang terobsesi dengan emas, karena pengaruh > tradisi yang mendewakan emas. Pemuda ini pergi ke pertokoan dan mengisi > karungnya dengan emas dan seenaknya ngeloyor pergi. Tentu saja ditangkap > polisi dan ditanya. > Jawabnya: Pokoknya saya mau emas, saya nggak mau lihat kiri-kanan. > > 5. Mengambil jalan pintas, short cut. > Keberhasilan tidak pernah dilalui dengan jalan pintas. Jalan pintas > tidak membawa orang ke kesuksesan yang sebenarnya, real success, karena > tidak mengikuti proses. Kalau kita menghindari proses, ya nggak matang, > kalaupun matang ya dikarbit. Jadi, tidak ada tuh jalan pintas. > Ronaldo jadi pemain sukses dengan latihan 6 jam per hari. Pemain > bulutangkis Indonesia bangun jam 5 pagi, lari keliling Senayan, > melakukan smesh 1000 kali. > Itu bukan jalan pintas. Nggak ada orang yang leha-leha tiap hari pakai > sarung, terus tiba-tiba jadi juara bulu tangkis. Nggak ada ! > Kalau anda disuruh taruh uang 1 juta, dalam 3 minggu jadi 3 juta, masuk > akal nggak tuh? Nggak mungkin !. Karena hal itu melawan kodrat. > > 6. Mengambil jalan terlalu panjang, terlalu santai. > Analoginya begini: > Pesawat terbang untuk bisa take-off, harus mempunyai kecepatan minimum. > Pesawat Boeing 737, untuk dapat take-off, memerlukan kecepatan minimum > 300 km/jam. Kalau kecepatan dia cuma 50 km/jam, ya cuma ngabis-ngabisin > avtur aja, muter-muter aja. > Lha kalau jalannya, runwaynya lurus anda cuma pakai kecepatan 50 km/jam, > ya nggak bisa take-off, malah nyungsep iya. Iya kan ? > > 7. Mengabaikan hal-hal yang kecil. > Dia maunya yang besar-besar, yang heboh, tapi yang kecil-kecil nggak > dikerjain. Dia lupa bahwa struktur bangunan yang besar, pasti ada > komponen yang kecilnya. Maunya yang hebat aja. > Mengabaikan hal kecil aja nggak boleh, apalagi mengabaikan orang kecil. > > 8. Terlalu cepat menyerah. > Jangan berhenti kerja pada masa percobaan 3 bulan. Bukan mengawali > dengan yang salah yang bikin orang gagal, tetapi berhenti pada tempat > yang salah. Mengawali dengan salah bisa diperbaiki, tetapi berhenti di > tempat yang salah repot sekali. > > 9. Bayang bayang masa lalu. > Wah puitis sekali, saya suka sekali dengan yang ini. Karena apa ? > Kita selalu penuh memori kan ?. Apa yang kita lakukan, masuk memori > kita, lalu membuat, minimal sebagai pertimbangan kita untuk langkah kita > berikutnya. Apalagi kalau kita pernah gagal, nggak berani untuk mencoba > lagi. Ini bisa balik lagi ke penyakit nomer-3. > Kegagalan sebagai akibat bayang-bayang masa lalu yang tidak > terselesaikan dengan semestinya. Itu bayang-bayang negatip. Bayang > bayang positip juga ada, jadi ngocol, orang sukses dia. > Masa depan kadang-kadang menakutkan, karena kita nggak tahu kan ? > Memori kita kadang-kadang sangat membatasi kita untuk maju ke depan. > Kita kadang kadang lupa bahwa hidup itu maju terus. "Waktu" itu maju kan > ?. Ada nggak yang punya jam yang jalannya terbalik ??. Nggak ada kan ? > Semuanya maju, hidup itu maju. Lari aja ke depan, kalaupun harus jatuh, > pasti ke depan kok. Orang yang berhasil, pasti pernah gagal. Itu memori > negatip yang menghalangi kesuksesan. > Ada juga memori kesuksesan yang juga bisa menjadi penyakit seperti > penyakit nomer 10 ini. > > 10. Menghipnotis diri dengan kesuksesan yang kadang-kadang semu. > Biasa disebut Pseudo Success Syndrome. Kita dihipnotis dengan itu. > Kita, kalau pernah berhasil dengan sukses kecil, terus berhenti, nggak > kemana-mana. Ilusi dari sukses. > Napoleon menyatakan: " Saat yang paling berbahaya datang bersama dengan > kemenangan yang besar". Itu saat yang paling berbahaya, karena orang > lengah, mabuk kemenangan. > Janga terjebak dengan goal-goal hasil yang kecil, karena kita akan > menembak sasaran yang besar, goal yang jauh. Jangan berpuas diri, ntar > jadi sombong, terus takabur. Sok jago. > > Selamat merenung...... >
Betawi Indonesian Web Directory - http://senayan.betawi.net/ -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED] To subscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED] Autoresponders Netiket : [EMAIL PROTECTED] UNLIMITED POP3 Account @ http://www.indoglobal.com
