---------------------- Forwarded by Kikie Yura-R/PGI on 06/04/99 08:39 AM
---------------------------
Internet Mail Message
Received from host: [202.159.47.18]
[202.159.47.18]
From: ptsrp <[EMAIL PROTECTED]> on 06/02/99 01:50 PM
To:
cc: [EMAIL PROTECTED] (bcc: Kikie Yura-R/PGI)
Subject: Make a Wise Decision
You should read this before making up your mind for the election.
We certainly hope you'll make a wise decision.
From: [EMAIL PROTECTED]
Date: Thu, 27 May 1999 09:21:40 EDT
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [fisip] MEGAWATI - AMIEN RAIS
Menarik sekali mengikuti polemik antar pengultus Megawati dan yang anti
kultus. Di Amerika sendiri banyak yang terjangkiti. Saya sendiri, arek
pinggiran, pengen komentar jua.
Membandingkan Amien Rais dan Megawati, sungguh tak adil. Itu ibarat bumi
dan langit. Dibandingkan dengan Ratna Sarumpaet, Nusrsyahbani
Katjasungkana, Budiman Sudjatmiko atau Ita F Nadia, Karlina Leksono,
Mari E. Pangestu saja, Megawati sudah pasti kedodoran.
Bukankah dunia politik Indonesia dibangun oleh rangkaian ironi? Di mana
mahasiswa, intelektual dan massa dipukau oleh politik dinasti dan
feodalisme? Dulu mereka ditipu oleh Soekarno, Soeharto-- tetapi kekuatan
dua rezim otoriter itu kalian bangun lewat pengultusan. Kalian
maki-maki nepotisme (KKN), kini pada saat yang belum lama usainya Orde
Soeharto, kalian mengultuskan dan memuja-muja Megawati.
Ada orang yang dari kalangan intelektual atau minimum mahasiswa yang
merengek-rengek minta Megawati jangan dikritik. Ia menyebutkan 'Megawati
itu pintar, tetapi dia menderita gara-gara penindasan Orde Baru.' Ada
lagi menyebutkan, 'Saya bukan pengultus Megawati, tetapi kepemimpinannya
akan membawa Indonesia jadi berhasil. Sebab jutaan rakyat menari ketika
PDI-P berkampanye'.
Mau lebih gila lagi, 'Biar bagaimanapun, Megawati pendukungku.'
Intelek? Mahasiswa kacangan apa itu? Di mana kekritisannya? Amien Rais
yang berlatar belakang Jawa, sama sekali tidak pengultus. Kepada EEP
Saefulloh, ia tegaskan komitmennya.
Apa misalnya sifat kritis itu? Bahwa pendidikan Megawati SMA, itu
realita.
Mestinya Anda para pendukung PDI-P melakukan kontak ke Jakarta ( DPP ),
sarankan agar Megawati kuliah atau bobot intelektualnya dinaikkanlah.
Kritikan Arief Budiman dan Ratna Sarumpaet tentang 'Megawati yang bobok
siang dan tak boleh diganggu, pada saat penembakan mahasiswa oleh
tentara dalam Peristiwa Semanggi,' mestinya kalian syukuri. Sebab itu
peringatan konstruktif bahwa pemimpin itu jangan cuma ngorok atau
berleha-leha.
Saya tahu Arief dekat dengan PDI-P dan Mega, tetapi kritikan dia tak
pernah surut. Namun anehnya, kadang-kadang yang tidak kenal-mengenal
dengan Megawati, malah yang paling fanatik mengultus Megawati. Itu ironi
lain lagi ya.
Ketika ditanya soal konsep ekonomi dia untuk Indonesia, Megawati bilang
'Seperti ditulis Bapak.' Ketika ditanya yang mana, sebab Bung Karno
cukup banyak bicara ekonomi, Megawati menjawab, 'Iya yang ditulis Bapak.
Baca saja semua. Pokoknya semua.'
Itukah sosok pemimpin yang kalian puja-puja? Yang kalian kultus?
Bung, persoalan ini berat sekali. Ini sama bahayanya dengan Soeharto.
Kalian harus melakukan kritik sendiri terhadap Mega.. Cukup dua kali
kita mengalami itu (Habibie, presiden transisi, nggak masuk hitungan)
Apa ironi lain lagi?
Amien Rais menyatakan siap "track record" dia diungkap atau
dipertanyakan.
Sedangkan Megawati sendiri diam, tetapi justru orang-orang yang mencecar
sosoknya.
Insya Allah saya-- kamu-kamu juga dong-- jangan sampai menjadi pengultus
siapa pun. Mengidolakan orang secara membabi-buta. Mahasiswa dan kaum
cendikia itu bukan kambing congek, bukan sapi. Pramoedya Ananta Toer
lalu bergumam 'Apa yang membedakan antara manusia dan ternak.' Kita
harus berjuang merebut atau mempertahankan 'manusia' kita. Jika masih
muda saja sudah bermental hamba, gimana nantui tatkala sudah dewasa atau
ikut memimpin bangsa. Di mana integritas moral?
Kini Amien Rais dan Megawati diperbandingkan. Bukannya berterima kasih
bahwa di situ terkandung banyak hal konstruktif, malah menuduh politik
pecah-belah Orba. Apa hubungannya? Di milis ini mayoritas adalah
reformis.
Walau EEP bilang 'Padahal Mega sendiri nggak reformis'.
Ratna, Mari, Ita, dan nama-nama yang sebut di atas dan pelbagai sosok
yang "berbobot jelas" cukup banyak di Indonesia. Mereka memang bukan
Megawati.
Tetapi ada yang mereka semua tak miliki, namun ada pada Mega.
1. Bapaknya seorang Proklamator Tercinta.
2. Mawas diri.
Saya sendiri-- terlepas dari kedunguan dan ketololan Mega sebagai
pemimpin -- akan menghormati PDI-P yang akan memenangkan Pemilu 1999.
Kita harus menghormati pilihan rakyat, suka atau tidak atas hasil pemilu
ini. Mega jadi Presiden Ke-4 RI, karenanya, juga tak bakal tertahankan.
Mayoritas rakyat Indonesia adalah berpendidikan non universitas,
setingkat SMP lah. Rakyat Indonesia pasti akan memilih partai atau
pemimpin partainya yang level pendidikan dan intelektualitasnya sama
dengan mayoritas rakyat itu.
Tetapi bung!, sekali lagi, kita harus hormati apa pun hasil pemilu.
Biarkan PDI-P menang dan mengurus negara bersama Presiden (Feodalisme)
Megawati Soekarno. Betapa pun demokrasi melahirkan kelucuan, ketololan,
kedunguan dan kenaifan-- barangkali itu cuma proses sementara saja.
Lebih baik negara ini diurus sama orang bodoh dan atau preman
dibandingkan sama tentara.
salam,
ramadhan pohan
(penyimak pinggiran)
In a message dated 5/27/99 7:39:29 AM !!!First Boot!!!, [EMAIL PROTECTED]
writes:
SIAPA PRESIDEN RI KE-4 YANG ANDA PILIH ( PERBANDINGAN ) AMIEN RAIS -
MEGAWATI
1.Pendidikan Formal
AMIEN RAIS : * S-1 Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM
* Sarjana Muda Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta
* S-2 Ilmu Politik University of Notre Dame USA
* S-3 (Doktor) Ilmu Politik University of Chicago dengan disertasi
tentang "Gerakan Ikhwanul Muslimin Mesir"
* Pernah setahun kuliah di Al-Azhar , Kairo (di Departemen Bahasa)
MEGAWATI :
* SMA
2. Karya Tulis
AMIEN RAIS : * "Cakrawala Islam" (1987), "Politik dan Pemerintahan di
Timur Tengah", "Tugas Cendekiawan Muslim", "Keajaiban Kekuasaan" (1994),
"Moralitas Politik Muhammadiyah" (1995), "Puasa dan Keunggulan Kehidupan
Rohani" (1996)
MEGAWATI :
* Tidak ada
3. Pekerjaan
AMIEN RAIS : * Dosen Universitas Gajah Mada (UGM) jurusan Politik
(sekaligus sebagai ketua jurusan Hubungan Internasional FISIP UGM)
MEGAWATI :
*Ibu rumah tangga
4. Organisasi yang membesarkan
AMIEN RAIS : *Muhammadiyah
*ICMI
MEGAWATI * PDI
5. Penghargaan yang pernah didapat
AMIEN RAIS : * "Tokoh Reformasi" dari mahasiswa
* "Tokoh Tahun Ini" dari majalah Ummat
* "Bapak Reformasi Indonesia" dari seniman Yogyakarta
* "UII Award" dari Universitas Islam Indonesia
* Bintang Mahaputra RI ( namun ditolak )
MEGAWATI :
* Tidak ada
6. Golongan yang mendukung
AMIEN RAIS : * Semua lapisan masyarakat
* Kaum intelektual
* Semua agama
* Alim ulama
* Mahasiswa
MEGAWATI :
* Kaum sosialis dan kiri baru
* Masyarakat non intelektual
* Kaum Nasionalis
* Kaum sekuler
* Luar negeri (Amerika Serikat /USA)
7. Tokoh yang mendampingi
AMIEN RAIS : * Prof Dr. Syafi'i Ma'arif
* DR. Faisal Basri
* Prof. Dawam Rahardjo
* Prof. DR. Ir. Muhammadi
* A. M. Fatwa
* Junus Yahya
* Christianto Wibisono
MEGAWATI :
* Alex Litay
* Yakob Nuwawea
* Kwik Gian Gie
* Laksamana Sukardi
* Aberson Malaiholo
8. Kwalitas Keagamaan
AMIEN RAIS : * Tamatan pesantren
* Menguasai bahasa Arab dan biasa menjadi khotib dan penceramah di
masjid-masjid.
* Selama 8 tahun selalu puasa Senin-Kamis
* Senantiasa sholat malam (tahajud)
* Membaca Al-Qur'an setiap hari (Ia selalu membawa Qur'an kecildidalam
tasnya)
MEGAWATI :
* Masyarakat selama ini tidak mengetahui dan melihat kedekatan dan
pemahamannya kepada agamanya (Islam). Pernah berdoa di Pura di Bali
beberapa waktu lalu.
9. Faktor yang membesarkan:
AMIEN RAIS : * Kebesaran Muhammadiyah yang dipimpinnya
* Kegigihan dan keistiqomahannya beramar-ma'ruf nahi munkar seperti
dalam kasus Busang dan Freeport
* Keberaniannya mengusulkan dengan lantang agar Soeharto diganti pada
saat tokoh-tokoh yang lain diam
* Ide-idenya yang selalu berpengaruh terhadap perpolitikan nasional
MEGAWATI :
* Nama besar ayahnya Soekarno
* Dukungan media massa pro Megawati, seperti : Megapos, Inti Jaya,
Sentana, Merdeka, Detak, Suara Pembaruan, Aksi, Reformasi, dll.
* Kesewenang-wenangan Rezim Soeharto sehingga mendapatkan empati dari
masyarakat
* Dukungan dana dari luar negeri, terutama Amerika Serikat
10. Peran dalam menumbangkan Soeharto
AMIEN RAIS : * Sejak 1993 sudah menyuarakan isu pergantian pimpinan
nasional.
* Menyatakan bahwa MPR berlaku zalim jika pada sidang umum MPR 1998
tetap memilih Soeharto.
* Pidato-pidato politiknya yang "Anti Soeharto" dinilai banyak kalangan
sangat berperan dalam mendorong gerakan mahasiswa untuk menggulingan
pemerintahan soeharto. Karenanya, mahasiswa menobatkan dirinya sebagai
"TOKOH REFORMASI"
MEGAWATI :
* Sepanjang bergulirnya reformasi banyak pihak yang menilai Mega diam
seribu bahasa, hingga seorang tokoh prodemokrasi, Goenawan Mohamad,
menilainya mungkin Megawati sudah ketinggalan kereta. Beberapa pengamat
juga mengatakan Mega tidak ikut andil dalam menjatuhkan rezim Soeharto.
* Alasan yang dipakai oleh Megawati adalah "Diam bukan berarti takut,
tapi diam adalah emas" (tepatkah pepatah tsb.?.....)
11. Kepribadian
AMIEN RAIS : * Tegas dan berani dalam mempertahankan sikapnya
(konsisten), (ia menolak ditawarkan menjadi anggota DPR pada masa ORBA)
* Sederhana
* Cerdas (Ia adalah pakar politik)
* Cepat tanggap dan perhatian terhadap masalah bangsa dan rakyat.
MEGAWATI :
* Banyak kalangan yang menilai Megawati adalah sosok pemimpin yang egois
karena pernyataan-pernyataannya hanya untuk kepentingan kelompoknya saja
(contoh: memasukkan suami dan ipar sebagai Caleg).
* Kurang tanggap
* Tingkat kecerdasan biasa-biasa saja.
12. Sikap terhadap bekas Presiden Soeharto
AMIEN RAIS : * Jika Soeharto dan keluarganya mau diusut tuntas, dan
bersedia mengembalikan kekayaannya yang mungkin diperoleh secara tidak
benar kepada negara dan rakyat Indonesia, Amin mengajak kepada semua
pihak mau memaafkan Soeharto.
* Ia juga meminta kepada pemerintahan Habibie agar membekukan seluruh
yayasan yang dipimpin Soeharto.
MEGAWATI : * Tidak menyatakan pendapat apapun.
* Meminta kepada masyarakat untuk tidak menghujat dan mencemooh bekas
Presiden Soeharto
13. Sikap terhadap pendukungnya
AMIEN RAIS : * Mau memenuhi undangan-undangan para pendukungnya walau
sampai kedaerah terpencil sekalipun. Di depan pendukungnya ia selalu
menegaskan pentingnya reformasi di segala bidang. Untuk mendukung
reformasi menyeluruh, Amien berkata, "Kita jangan sampai kalah stamina
dengan Soeharto"
* Pada masa-masa kritis, misalnya pada kasus rencana pengerahan massa
tanggal 20 Mei 1998, dengan besar hati Amien mencegah mereka untuk
menghindari kerusuhan dan bentrokan dengan aparat, meski dengan resiko
sedikit mengecewakan mereka. Saat itu Amien menyadari bahwa dirinyalah
yang bertangung jawab atas apa pun yang terjadi, termasuk jika ada
pertumpahan darah dan jatuhnya korban jiwa (lihatlah rasa tanggung
jawab dan perhatiannya terhadap massa pendukungnya)
MEGAWATI : * Mau memenuhi undangan-undangan mereka. Di depan massanya
ia selalu meneriakkan yel "Hidup PDI Perjuangan" dan menegaskan
pentingnya menumbuhkan semangat Bung Karno. "Kalau bangsa ini
meninggalkan roh Bung Karno, maka kita akan tergelincir pada
perpecahan", katanya.
* Pada masa-masa kritis, misalnya baru-baru ini, saat PDI Soerjadi
menyelenggarakan kongres di Palu, Mega tidak menginstruksikan massanya
untuk menghadang jalannya kongres, tetapi tidak mencegah mereka yang
ingin menggagalkan kongres. Namun terhadap kerusuhan yang terjadi, Mega
merasa tidak perlu bertanggung jawab. Menurut dia, yang bertanggung
jawab adalah pemerintah, baik pusat maupun daerah, padahal bila Megawati
melarang massanya menghadang kongres PDI di Palu, pastilah korban cidera
tidak akan terjadi. Baginya kerusuhan yang mengakibatkan beberapa orang
cidera itu (baik yang pro Mega maupun yang pro Surjadi) akibat
pemerintah yang mengizinkan kongres.
14. Sikap terhadap pemerintahan Habibie
AMIEN RAIS : * Tidak menentang dan tidak juga mendukung (wait and see),
tapi memberi kesempatan dalam jangka waktu tertentu kepada Habibie
sebagai pemerintahan yang sah untuk mengatasi krisis. Sikapnya ini
menunjukkan tingkat kedewasaan dan ketulusan Amien dalam memperjuangkan
reformasi, padahal saat itu ia mendapatkan dukungan penuh masyarakat
untuk menjadi presiden setelah berhasil menurunkan Soeharto.
* Menyatakan bahwa pemerintahan Habibie hanyalah transisi (sementara),
dan meminta kepada Habibie agar melepaskan diri dari pengaruh bekas
presiden Soeharto.
* Bersama tokoh-tokoh proreformasi lainnya ia bersedia datang menemui
Habibie di kediamannya untuk memberi masukan sambil menyatakan diri
sebagai oposisi (sparing partner) yang saling mengoreksi satu sama lain.
MEGAWATI : * Tidak mengakui keabsahan pemerintahan Habibie.
* Bersikap tidak konsisten, ia menolak keabsahan pemerintahan Habibie,
tetapi ingin mendapatkan pengakuan dari Habibie sebagai PDI yang sah.
* Menilai reformasi yang dilakukan oleh Habibie hanya setengah hati
15. Program utama jika terpilih menjadi presiden
AMIEN RAIS : * Mengamankan kekayaan alam sesuai UUD'45
* Secara bertahap mendirikan pemerintahan yang bersih dan berwibawa
* Restrukturisasi ekonomi (penyusunan kembali kebijaksanaan ekonomi)
* Menciutkan gap (jarak) kaya-miskin
* Mempertahankan Bhineka Tunggal Ika guna mencegah disintegrasi
(perpecahan) bangsa, seraya mengajak mendiskusikan kemungkinan
federalisme (negara bagian)
MEGAWATI : * Belum pernah menyatakan secara gamblang dan terbuka
program-program apa saja yang hendak ditempuhnya jika kelak terpilih
menjadi presiden (Ia beberapa kali menolak menjelaskan, spt. Saat
diwawancarai majalah FORUM dsb.).
16. Catatan sejarah berdirinya partai
AMIEN RAIS : * Amien menginginkan partai yang terbuka ( PAN ) untuk
semua kalangan, tidak membedakan agama, ras, maupun suku tetapi tetap
memberikan komposisi yang seimbang dalam kepengurusan maupun arah
kebijaksanaan partai sesuai dengan komposisi jumlah masyarakat
Indonesia. Karena umat Islam yang mayoritas tentu arah kebijaksanaan
partai tentulah lebih tertuju kepada memenuhi aspirasi umat Islam, namun
jelas tidak mematikan aspirasi umat lain.
MEGAWATI : * PDI seperti juga PPP dan Golkar adalah bentukan dari
kebijaksanaan pemerintahan ORBA yang tidak menginginkan banyak partai.